Memuat berita

Football

Video CCTV Diduga Sarwendah Ambil Uang di Brankas Viral, Zanzabella Ikut Soroti

Fazlur Rahman · 10 September 2026 · 23:10 WIB · 2 dibaca
Video CCTV Diduga Sarwendah Ambil Uang di Brankas Viral, Zanzabella Ikut Soroti

Foto: Ubur-ubur.id

JAKARTA — Jagat media sosial kembali dihebohkan dengan beredarnya sebuah video yang dinarasikan memperlihatkan sosok mirip Sarwendah sedang mengambil sejumlah uang dari sebuah brankas. Konten tersebut kemudian berkembang menjadi tudingan bahwa mantan istri Ruben Onsu mengambil uang dari brankas milik presenter tersebut.

Video yang diklaim sebagai rekaman CCTV itu memperlihatkan seorang perempuan berada di sebuah ruangan dan berjalan menuju sebuah brankas. Dalam rekaman yang beredar, sosok tersebut tampak membuka brankas yang berisi tumpukan uang tunai dan mengambil beberapa gepokan uang.

Narasi yang menyertai video membuat isu tersebut semakin ramai. Sosok dalam rekaman disebut-sebut sebagai Sarwendah, sementara uang yang berada di dalam brankas dinarasikan sebagai milik Ruben Onsu. Nama pengacara kondang Hotman Paris juga ikut dicatut dalam narasi yang beredar di media sosial.

Di tengah derasnya penyebaran video tersebut, selebgram Tengku Zanzabella turut memberikan komentar. Pernyataannya ikut menjadi perhatian karena muncul ketika publik sedang ramai memperbincangkan keaslian video dan tudingan yang diarahkan kepada Sarwendah.

Meski visual dalam video sekilas terlihat seperti rekaman CCTV, kebenaran narasi yang menyertainya kemudian dipertanyakan. Pihak Sarwendah memastikan bahwa video tersebut bukan rekaman kejadian sebenarnya.

Kuasa hukum Sarwendah, Mark Adrianus Ambarita, menyatakan telah mengonfirmasi langsung kepada kliennya. Berdasarkan konfirmasi tersebut, Sarwendah membantah tudingan mengambil uang dari brankas Ruben Onsu dan menyebut video yang beredar merupakan hasil manipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Berdasarkan konfirmasi kami kepada klien kami, hal tersebut: satu, tidak benar; kedua, itu bukan video asli, melainkan video AI,” kata Mark Adrianus Ambarita pada Rabu (9/9/2026).

Klarifikasi tersebut mengubah konteks video yang sebelumnya telah telanjur memicu spekulasi di media sosial. Artinya, tudingan bahwa Sarwendah mengambil uang dari brankas Ruben Onsu tidak dapat diperlakukan sebagai fakta hanya berdasarkan video yang beredar.

Sarwendah juga merespons secara langsung melalui media sosial. Ia menilai penyebaran konten palsu yang dikemas seolah-olah sebagai rekaman kejadian nyata telah melewati batas dan masuk ke ranah fitnah.

Kasus tersebut sekaligus menunjukkan tantangan baru di era ketika teknologi AI semakin mudah digunakan untuk membuat atau memanipulasi konten visual. Rekaman yang tampak seperti CCTV dapat dengan cepat dipercaya publik ketika disertai narasi yang meyakinkan, padahal visual tersebut belum tentu menggambarkan kejadian sebenarnya.

Peredaran video juga tidak dapat dilepaskan dari perhatian publik terhadap kehidupan pribadi Sarwendah dan Ruben Onsu. Keduanya telah menjadi sorotan dalam berbagai pemberitaan terkait persoalan keluarga, sehingga setiap konten yang mengaitkan nama mereka dengan isu baru mudah memicu perhatian warganet.

Namun, konteks persoalan keluarga tersebut tidak dapat menjadi dasar untuk membenarkan tudingan dalam sebuah video. Keaslian rekaman dan kebenaran peristiwa tetap harus diverifikasi melalui sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.

Nama Hotman Paris yang turut dicantumkan dalam narasi video juga menjadi bagian dari materi yang perlu dilihat secara hati-hati. Pencantuman nama seseorang dalam teks yang menyertai sebuah konten tidak otomatis membuktikan bahwa orang tersebut benar-benar terlibat atau mengetahui peristiwa yang digambarkan.

Fenomena semacam ini menjadi semakin serius karena satu konten yang belum terverifikasi dapat menyebar dalam waktu sangat singkat. Potongan video kemudian bisa dipisahkan dari konteks aslinya, diberi judul sensasional, dan dibagikan kembali oleh banyak akun hingga publik kesulitan membedakan antara fakta dan manipulasi.

Dalam kasus video yang menyeret nama Sarwendah tersebut, klarifikasi dari pihaknya menjadi penting untuk meluruskan informasi yang telanjur beredar. Kuasa hukum menegaskan bahwa video itu bukan bukti adanya aksi pengambilan uang dari brankas Ruben Onsu.

Penyebaran konten semacam itu juga berpotensi membawa konsekuensi hukum apabila terbukti memuat tuduhan palsu atau merugikan nama baik seseorang. Terlebih, teknologi AI memungkinkan pembuatan konten yang semakin menyerupai rekaman nyata sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra sebelum mempercayai maupun menyebarkannya.

Bagi masyarakat pengguna media sosial, perkara ini menjadi pengingat bahwa tampilan visual bukan satu-satunya ukuran kebenaran sebuah informasi. Sumber video, konteks, waktu perekaman, dan keterangan pihak yang disebut dalam konten perlu diperiksa sebelum sebuah tuduhan dianggap benar.

Sementara itu, sorotan Zanzabella terhadap video tersebut ikut menambah ramai perbincangan publik. Namun, terlepas dari berbagai komentar yang muncul, fakta yang telah disampaikan pihak Sarwendah tetap menjadi pijakan utama bahwa rekaman tersebut dinyatakan sebagai video AI dan tuduhan mengambil uang dari brankas Ruben Onsu dibantah.

Dengan demikian, video yang sempat menggiring opini mengenai Sarwendah tidak dapat dijadikan bukti bahwa tindakan pencurian seperti yang dinarasikan benar-benar terjadi. Di tengah maraknya konten berbasis AI, masyarakat dituntut semakin kritis agar tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kasus ini juga menjadi gambaran bagaimana persoalan selebritas dan perkembangan teknologi dapat bertemu dalam satu isu yang cepat viral. Satu video yang dikemas menyerupai CCTV mampu memicu tudingan besar, sementara klarifikasi kemudian menunjukkan bahwa konten tersebut tidak menggambarkan kejadian nyata.

Kini, perhatian publik tidak lagi hanya tertuju pada isi video, tetapi juga pada bagaimana konten tersebut dibuat dan disebarkan. Bagi Sarwendah, persoalan tersebut menjadi ujian menghadapi informasi palsu yang telanjur beredar, sedangkan bagi pengguna media sosial, kasus ini menjadi pengingat penting untuk tidak mudah mempercayai sebuah rekaman hanya karena terlihat meyakinkan.