FLORES — Aktivitas kegempaan di wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, masih tergolong tinggi setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut. Berdasarkan pembaruan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Minggu (6/9/2026) pukul 17.00 WIB, tercatat sebanyak 12.968 gempa bumi susulan
Ribuan gempa tersebut memiliki kekuatan yang bervariasi. BMKG mencatat gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil tercatat bermagnitudo 0,9. Dari keseluruhan aktivitas tersebut, terdapat 36 gempa susulan dengan magnitudo di atas 5,0
Tidak seluruh gempa susulan dapat dirasakan oleh masyarakat. Namun, hingga waktu pembaruan data tersebut, BMKG mencatat sebanyak 177 gempa susulan dirasakan
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa aktivitas tektonik di kawasan Flores dan sekitarnya masih berlangsung dinamis setelah gempa utama. Rangkaian gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian kerak bumi setelah terjadinya gempa utama, meski kekuatan dan frekuensinya dapat berubah dari waktu ke waktu.
Gempa susulan dapat terjadi dalam rentang waktu tertentu setelah gempa utama. Pada umumnya, aktivitas tersebut cenderung lebih sering terjadi pada periode awal dan kemudian secara bertahap menurun. Namun, gempa dengan kekuatan cukup besar tetap dapat terjadi selama rangkaian susulan berlangsung.
Kondisi ini membuat masyarakat di wilayah terdampak perlu tetap waspada tanpa diliputi kepanikan. Warga diimbau memastikan bangunan tempat tinggal maupun fasilitas di sekitar mereka berada dalam kondisi aman, terutama apabila sebelumnya mengalami guncangan kuat.
Masyarakat juga perlu mewaspadai potensi bahaya sekunder yang dapat muncul akibat gempa, seperti runtuhan bangunan, material yang jatuh, maupun kerusakan pada infrastruktur. Apabila terjadi gempa susulan yang kuat, warga disarankan segera mengambil posisi aman dan menjauhi benda atau bangunan yang berpotensi roboh.
Di tengah tingginya aktivitas kegempaan, informasi yang akurat menjadi sangat penting. Masyarakat di Flores dan wilayah sekitarnya diminta tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, terutama informasi yang mengklaim dapat memastikan waktu terjadinya gempa berikutnya.
BMKG menjadi salah satu sumber utama untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan gempa bumi di Indonesia. Pembaruan mengenai magnitudo, lokasi, kedalaman, maupun gempa yang dirasakan masyarakat dapat berubah seiring masuknya data hasil pemantauan jaringan seismik.
Masyarakat juga diingatkan untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas sumbernya. Dalam situasi bencana, kabar yang tidak akurat dapat memperbesar kepanikan dan menyulitkan masyarakat mengambil keputusan yang tepat.
Bagi warga yang berada di kawasan terdampak, kewaspadaan tetap perlu dipertahankan sembari menjalankan aktivitas dengan memperhatikan kondisi lingkungan. Jika terdapat arahan atau instruksi resmi dari petugas terkait keselamatan, masyarakat diminta mengikutinya.
Hingga Minggu sore, rangkaian hampir 13 ribu gempa susulan tersebut menjadi gambaran bahwa sistem tektonik di Flores masih aktif setelah gempa utama M7,7. Meski demikian, tingginya jumlah gempa susulan tidak dengan sendirinya berarti akan terjadi gempa yang lebih besar. Perkembangan aktivitas kegempaan tetap perlu dipantau berdasarkan data dan analisis lembaga berwenang.
Masyarakat di Flores dan sekitarnya diharapkan tetap tenang, meningkatkan kesiapsiagaan, serta memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber resmi. Dalam menghadapi rangkaian gempa susulan, kewaspadaan dan kesiapan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila kembali terjadi guncangan.