Keluarga Hartono, salah satu keluarga terkaya di Indonesia, mulai mengambil langkah yang selama ini relatif jarang terlihat dari kelompok usaha mereka: memperluas investasi ke luar negeri dalam skala besar. Laporan Bloomberg menyebut sedikitnya sembilan entitas berbasis Singapura dan London yang memiliki keterkaitan dengan keluarga Hartono telah menginvestasikan sedikitnya US$1,4 miliar atau sekitar Rp24 triliun di berbagai aset luar negeri.
Langkah tersebut disebut menjadi perubahan penting bagi keluarga yang selama ini lebih dikenal menempatkan sebagian besar kekayaannya di Indonesia melalui beragam lini usaha, mulai dari perbankan, industri rokok, properti hingga sektor lainnya. Bloomberg menilai ekspansi ke luar negeri ini menjadi diversifikasi yang cukup signifikan bagi keluarga Hartono, terutama ketika kondisi ekonomi Indonesia menghadapi berbagai tekanan.
Pergerakan investasi tersebut mulai terlihat pada akhir 2023. Melalui Evergreen Hill Enterprise Pte Ltd yang berbasis di Singapura, kelompok usaha yang terkait dengan keluarga Hartono mengeluarkan US$669 juta untuk mengakuisisi sebuah bisnis kertas khusus di Amerika Serikat. Transaksi itu menjadi salah satu langkah awal dalam ekspansi internasional yang kemudian berlanjut ke Eropa.
Tidak berhenti di Amerika Serikat, Evergreen Hill kembali melakukan aksi korporasi setahun kemudian. Pada Desember 2024, perusahaan tersebut sepakat mengakuisisi 100 persen saham TANN Group, produsen tipping paper asal Austria, dari Mayr-Melnhof Karton AG dengan nilai perusahaan sebesar €360 juta. Nilai itu setara sekitar US$418 juta berdasarkan konversi yang digunakan dalam laporan Bloomberg.
TANN Group bukan perusahaan kecil di industrinya. Berdasarkan keterangan resmi Mayr-Melnhof, perusahaan tersebut berkantor pusat di Traun, Austria, dan memiliki tujuh fasilitas produksi yang tersebar di Austria, China, Filipina, Turki, Kanada, dan Jerman. TANN juga memiliki sekitar 730 pekerja serta mencatat penjualan tahunan sekitar €220 juta.
Perusahaan itu bergerak dalam pemrosesan dan penyelesaian kertas halus yang kemudian digunakan untuk memproduksi tipping paper, termasuk produk yang berkaitan dengan industri rokok. Akuisisi tersebut sekaligus memperluas pijakan keluarga Hartono dalam sektor yang memiliki keterkaitan dengan salah satu bisnis utama mereka di Indonesia.
Yang menarik, keterkaitan Evergreen Hill Enterprise dengan keluarga Hartono tidak langsung terlihat dari nama perusahaan. Penelusuran Bloomberg terhadap dokumen perusahaan disebut menemukan hubungan Evergreen Hill dengan PT Eragraha Pirante, perusahaan yang sepenuhnya dimiliki keluarga Hartono. Struktur tersebut membuat ekspansi internasional keluarga Hartono dilakukan melalui sejumlah entitas investasi, bukan secara langsung menggunakan nama keluarga atau grup bisnis yang selama ini dikenal publik.
Dengan demikian, angka US$1,4 miliar yang disebut Bloomberg lebih tepat dipahami sebagai nilai investasi luar negeri yang dilakukan melalui berbagai entitas yang terkait dengan keluarga Hartono. Angka itu tidak serta-merta berarti US$1,4 miliar dalam bentuk uang tunai dipindahkan sekaligus dari Indonesia ke luar negeri. Investasi tersebut dilakukan melalui berbagai transaksi dan struktur perusahaan di sejumlah yurisdiksi.
Perubahan strategi itu menjadi sorotan karena keluarga Hartono selama puluhan tahun dikenal sangat berhati-hati dan cenderung berfokus pada pengembangan bisnis di dalam negeri. Portofolio mereka di Indonesia mencakup kepemilikan besar di PT Bank Central Asia Tbk, bisnis rokok Djarum, elektronik, properti, hingga sejumlah investasi lainnya.
Masuknya modal dalam jumlah besar ke luar negeri menunjukkan bahwa strategi diversifikasi keluarga Hartono mulai bergerak melampaui batas pasar domestik. Akuisisi perusahaan kertas di Amerika Serikat dan Austria menunjukkan adanya minat untuk menguasai bisnis yang memiliki pasar global dan dapat menjadi sumber pendapatan dalam mata uang asing.
Dalam perspektif bisnis, diversifikasi ke luar negeri dapat menjadi strategi untuk memperluas basis pendapatan sekaligus menyebar risiko geografis. Perusahaan tidak hanya bergantung pada perkembangan satu negara, tetapi memiliki aset dan kegiatan usaha yang menghasilkan pendapatan dari berbagai pasar.
Laporan Bloomberg juga menempatkan langkah keluarga Hartono dalam konteks yang lebih luas. Sejumlah pengusaha besar Indonesia lainnya diketahui mulai meningkatkan aktivitas investasi di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa ekspansi global semakin menjadi bagian dari strategi kelompok bisnis besar Indonesia.
Namun, keputusan keluarga Hartono untuk memperluas investasi ke luar negeri tidak otomatis berarti mereka meninggalkan pasar Indonesia. Portofolio domestik keluarga tersebut masih sangat besar dan tetap menjadi fondasi utama kekayaan serta aktivitas bisnis mereka.
Justru, langkah tersebut dapat dibaca sebagai upaya memperkuat diversifikasi. Dengan memiliki aset di Amerika Serikat, Eropa, Asia, dan Indonesia secara bersamaan, kelompok usaha dapat membangun portofolio yang tidak sepenuhnya bergantung pada siklus ekonomi satu negara.
Aksi akuisisi tersebut juga memperlihatkan bagaimana perusahaan yang berada di balik keluarga Hartono mulai menggunakan struktur korporasi internasional untuk melakukan ekspansi. Singapura dan London menjadi lokasi penting bagi sejumlah entitas yang terhubung dengan investasi luar negeri tersebut, sebagaimana ditemukan melalui dokumen perusahaan dan penelusuran Bloomberg.
Bagi publik Indonesia, perubahan strategi itu menarik karena keluarga Hartono selama ini dikenal sebagai kelompok bisnis yang relatif tertutup. Keputusan untuk menempatkan miliaran dolar pada aset asing memperlihatkan bahwa bahkan kelompok usaha dengan basis domestik yang kuat tetap mempertimbangkan peluang dan risiko di pasar global.
Akuisisi TANN Group menjadi salah satu contoh paling jelas dari strategi tersebut. Mayr-Melnhof menyatakan transaksi senilai €360 juta itu memberikan TANN pemilik strategis baru yang berkomitmen mengembangkan bisnisnya. Transaksi kemudian diproyeksikan selesai pada kuartal pertama 2025 setelah memenuhi sejumlah persyaratan dan persetujuan regulator.
Sementara itu, investasi US$669 juta di Amerika Serikat menunjukkan bahwa ekspansi tersebut bukan keputusan sesaat. Dua transaksi besar yang dilakukan dalam rentang sekitar satu tahun memperlihatkan adanya kesinambungan dalam strategi memperluas portofolio ke luar negeri.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, langkah tersebut juga menjadi cerminan bagaimana kelompok bisnis besar mengelola kekayaan dan risiko. Aset dalam bentuk perusahaan dan bisnis riil di berbagai negara dapat memberikan sumber pendapatan yang lebih beragam sekaligus membuka akses ke pasar baru.
Meski demikian, keberhasilan strategi tersebut tetap bergantung pada kinerja perusahaan yang diakuisisi, kondisi industri, kemampuan integrasi, serta dinamika ekonomi dan regulasi di masing-masing negara. Investasi besar tidak selalu menjamin keuntungan dan tetap membawa risiko bisnis yang harus dikelola.
Bagi keluarga Hartono, perjalanan ke luar negeri itu tampaknya baru memasuki tahap awal. Bloomberg melaporkan aktivitas investasi melalui entitas terkait keluarga tersebut masih berlanjut, termasuk keterlibatan pada perusahaan teknologi finansial di Singapura serta kemungkinan transaksi lainnya.
Apa yang terjadi sejak akhir 2023 pada akhirnya menggambarkan perubahan menarik dalam strategi salah satu keluarga bisnis terbesar Indonesia. Dari basis yang selama puluhan tahun dibangun di dalam negeri, keluarga Hartono kini mulai memperlihatkan jejak investasi yang semakin kuat di pasar internasional.
Dengan sedikitnya US$1,4 miliar telah ditempatkan melalui berbagai entitas terkait, ekspansi tersebut bukan lagi sekadar langkah kecil untuk mencari peluang baru. Ini merupakan sinyal bahwa keluarga Hartono sedang membangun portofolio global—tetap mempertahankan kekuatan di Indonesia, sekaligus membuka pijakan yang lebih luas di luar negeri.