Duka mendalam menyelimuti keluarga dan masyarakat Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah Bharada Laurentius Valdo Fernandez Lewai, anggota Polisi Air dan Udara (Polairud) Baharkam Polri asal Larantuka, meninggal dunia akibat dugaan penembakan di Markas Polairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Jumat (16/10/2026). Kepulangan jenazah almarhum ke kampung halaman disambut isak tangis keluarga dan penghormatan dari ribuan warga yang turut berduka.
Jenazah Valdo tiba di Bandara Gewayantana, Larantuka, pada Sabtu siang dengan menggunakan pesawat Polri Casa P-4101. Kedatangan jenazah tersebut menjadi momen yang mengharukan bagi keluarga dan masyarakat setempat. Warga memadati kawasan bandara untuk menyambut kepulangan putra daerah itu sekaligus memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah diserahkan kepada keluarga.
Di tengah kerumunan warga, kesedihan mendalam terlihat dari wajah Ester Ida Seran, ibu almarhum. Ia tak kuasa menahan tangis saat harus menerima kenyataan bahwa putra yang selama ini menjadi tumpuan keluarga telah pergi untuk selamanya. Bagi Ester, kepergian Valdo bukan hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga kehilangan sosok yang selama ini berperan penting dalam menopang kehidupan keluarga.
Valdo diketahui merupakan anak laki-laki satu-satunya dari tiga bersaudara. Selama bertugas sebagai anggota Polri, ia disebut tetap menjalankan tanggung jawabnya kepada keluarga. Ester mengenang putranya sebagai pribadi yang ringan tangan, senang membantu orang lain, dan mudah bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
“Dia anak yang suka membantu dan mudah bergaul. Sudah enam tahun tujuh bulan ia bertugas di sana. Dia tulang punggung keluarga,” ujar Ester dengan suara serak dan mata berkaca-kaca saat mengenang putranya.
Bagi keluarga, pengabdian Valdo selama bertugas menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya. Masa tugas yang telah dijalani selama enam tahun tujuh bulan menunjukkan bahwa almarhum telah menghabiskan sebagian besar masa dewasanya untuk menjalankan pekerjaan sebagai anggota kepolisian, sekaligus berupaya memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga di kampung halaman.
Namun, kebahagiaan keluarga menyambut kepulangan Valdo harus berubah menjadi duka setelah ia meninggal dunia dalam peristiwa dugaan penembakan yang terjadi di lingkungan kesatuannya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Valdo diduga ditembak oleh sesama anggota Polri yang merupakan juniornya. Terduga pelaku dilaporkan telah diamankan dan sedang menjalani proses hukum.
Meski demikian, rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian Valdo masih perlu diungkap secara menyeluruh melalui penyelidikan dan pembuktian oleh aparat berwenang. Penetapan fakta mengenai kronologi, motif, serta unsur pidana dalam kasus tersebut harus didasarkan pada hasil penyidikan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.
Di tengah suasana kehilangan, Ester menyampaikan keyakinannya bahwa kematian putranya merupakan pembunuhan berencana. Ia meminta aparat penegak hukum menangani perkara tersebut secara transparan agar seluruh fakta dapat terungkap dan keluarga memperoleh kejelasan mengenai peristiwa yang merenggut nyawa anaknya.
“Ini pembunuhan berencana. Saya mohon kasus ini diselidiki secara transparan dan pelaku dihukum seberat-beratnya,” tegas Ester.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan keluarga agar proses hukum tidak berhenti pada pengamanan terduga pelaku, tetapi juga mampu mengungkap secara terang bagaimana peristiwa itu terjadi. Bagi keluarga, kepastian mengenai kronologi dan motif menjadi bagian penting dalam memperoleh keadilan atas kematian Valdo.
Ester mengatakan keluarga telah menyerahkan penanganan hukum kasus tersebut kepada kuasa hukum mereka, Petrus Bala Pationa. Dengan pendampingan hukum tersebut, keluarga berharap setiap tahapan penanganan perkara dapat berjalan sesuai ketentuan dan perkembangan penyidikan disampaikan secara jelas kepada pihak keluarga.
Kasus kematian Valdo kini menjadi perhatian keluarga dan masyarakat Flores Timur yang kehilangan salah satu putra daerahnya. Kepulangan jenazah ke Larantuka bukan sekadar momen perpisahan, melainkan juga menjadi pengingat akan besarnya harapan keluarga yang kini harus menghadapi kehilangan mendalam.
Di balik seragam yang dikenakannya, Valdo adalah seorang anak yang dicintai keluarganya, saudara bagi kedua kakaknya atau adiknya, serta sosok yang selama ini diandalkan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Kenangan tentang kebaikan dan pengabdiannya menjadi bagian yang akan terus melekat bagi orang-orang terdekatnya.
Kini, keluarga hanya berharap agar proses hukum atas kematian Valdo berjalan secara transparan dan tuntas. Sementara masyarakat memberikan penghormatan terakhir di kampung halamannya, keluarga menanti terungkapnya fakta-fakta perkara serta pertanggungjawaban hukum dari pihak yang terbukti terlibat sesuai hasil penyidikan dan proses peradilan.