Memuat berita

Nasional

Dua Insiden Pengawal Gubernur Jadi Sorotan, Mahasiswa Diduga Didorong hingga Alami Ucapan Rasis

Fazlur Rahman · 22 Oktober 2026 · 17:20 WIB · 2 dibaca

Dua insiden yang melibatkan pengawal kepala daerah di Kalimantan Timur dan Maluku menjadi sorotan publik setelah beredarnya rekaman yang memperlihatkan dugaan tindakan tidak pantas terhadap mahasiswa yang hendak menyampaikan aspirasi. Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai sikap petugas pengamanan saat berhadapan dengan masyarakat, terutama mereka yang menyampaikan kritik dan tuntutan kepada pemerintah.

Insiden pertama terjadi di Samarinda, Kalimantan Timur. Seorang ajudan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud terekam diduga menyenggol keras mahasiswa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda. Para mahasiswa tersebut tengah menyampaikan aspirasi terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Aksi mahasiswa itu berkaitan dengan persoalan lingkungan yang menjadi perhatian masyarakat, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan menimbulkan dampak terhadap kualitas udara, kesehatan, serta kehidupan warga di wilayah terdampak. Dalam situasi tersebut, mahasiswa berupaya menyuarakan tuntutan agar persoalan karhutla mendapat perhatian dan penanganan serius dari pemerintah daerah.

Namun, tindakan ajudan gubernur yang terekam dalam video tersebut justru memicu perhatian publik. Dugaan senggolan keras terhadap mahasiswa menimbulkan pertanyaan mengenai cara petugas pengamanan mengendalikan situasi ketika berhadapan dengan warga yang ingin menyampaikan pendapat.

Peristiwa ini juga memunculkan tuntutan agar kejadian tersebut dijelaskan secara terbuka. Klarifikasi diperlukan untuk mengetahui rangkaian peristiwa secara utuh, termasuk konteks tindakan yang terekam dan langkah yang akan diambil apabila ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaan tugas pengamanan.

Sorotan serupa muncul di Maluku. Seorang oknum anggota TNI yang bertugas sebagai pengawal pribadi Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa diduga melontarkan ucapan bernada rasis kepada mahasiswa asal Pegunungan Seram. Peristiwa itu disebut terjadi ketika mahasiswa hendak menyampaikan surat aspirasi yang berkaitan dengan masyarakat adat.

Dugaan ucapan rasis tersebut menjadi perhatian karena menyangkut perlakuan terhadap mahasiswa yang sedang berupaya menyampaikan aspirasi. Persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan etika petugas pengamanan, tetapi juga menyentuh penghormatan terhadap martabat manusia dan kesetaraan dalam memperlakukan masyarakat tanpa membedakan asal-usul maupun identitas mereka.

Bagi masyarakat adat, penyampaian aspirasi dapat menjadi salah satu cara untuk menyuarakan persoalan yang mereka hadapi dan meminta perhatian pemerintah. Karena itu, respons terhadap mahasiswa yang membawa surat aspirasi semestinya tetap mengedepankan sikap profesional, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap hak setiap warga untuk menyampaikan pendapat sesuai ketentuan yang berlaku.

Dua insiden tersebut memiliki konteks berbeda, tetapi sama-sama memunculkan perhatian terhadap perilaku petugas yang berada di sekitar kepala daerah. Dalam menjalankan tugasnya, personel pengamanan memang bertanggung jawab menjaga keamanan dan memastikan kegiatan berjalan tertib. Namun, tanggung jawab tersebut perlu dilaksanakan secara proporsional dan tidak boleh menjadi alasan untuk melakukan tindakan yang merendahkan atau mengintimidasi masyarakat.

Di sisi lain, dugaan tindakan yang terekam dalam video perlu diperiksa berdasarkan kronologi dan bukti yang lengkap. Penilaian terhadap pihak-pihak yang terlibat tidak semestinya hanya bertumpu pada potongan rekaman yang beredar di media sosial. Klarifikasi dari pihak terkait dan pemeriksaan yang transparan dibutuhkan agar fakta kejadian dapat diketahui secara menyeluruh.

Kedua peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi. Mahasiswa dan masyarakat memiliki ruang untuk menyampaikan kritik, termasuk mengenai persoalan lingkungan maupun hak masyarakat adat. Respons terhadap aspirasi tersebut seharusnya mengutamakan dialog dan tidak memperkeruh situasi.

Publik kini menaruh perhatian pada tindak lanjut dari masing-masing insiden, termasuk apakah akan ada klarifikasi resmi, pemeriksaan internal, atau langkah pertanggungjawaban apabila dugaan pelanggaran terbukti. Penanganan yang jelas dan terbuka diperlukan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi pemerintah maupun aparat yang bertugas memberikan pengamanan.

Pada akhirnya, profesionalisme petugas pengamanan tidak hanya diukur dari kemampuannya menjaga kepala daerah, tetapi juga dari cara mereka memperlakukan masyarakat. Ketika muncul dugaan tindakan arogan atau ucapan rasis, penyelidikan yang objektif dan tindak lanjut yang sesuai menjadi penting agar persoalan tidak berhenti sebagai polemik di media sosial, melainkan memperoleh penyelesaian yang jelas.