Bagian puncak atau Yasti Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, resmi menjalani pemugaran untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar 115 tahun. Pekerjaan ini menjadi langkah penting dalam upaya menjaga kelestarian salah satu warisan budaya terbesar Indonesia yang telah berdiri selama berabad-abad.
Pemugaran tersebut merupakan yang kedua kalinya dilakukan terhadap bagian puncak Candi Borobudur. Sebelumnya, pemugaran pada bagian ini dilakukan oleh arkeolog asal Belanda, Theodoor van Erp, dalam rangkaian pemugaran Candi Borobudur pada 1907–1911. Setelah lebih dari satu abad, bagian Yasti kembali mendapatkan penanganan untuk mempertahankan kondisi dan keutuhan struktur bangunan.
Yasti merupakan bagian arsitektural yang berada di area puncak stupa. Keberadaannya menjadi bagian penting dari susunan bangunan suci Buddha di Candi Borobudur. Karena berada di bagian atas struktur candi, kondisi Yasti perlu diperhatikan dalam upaya pelestarian, terutama untuk memastikan bagian tersebut tetap stabil dan terjaga.
Selain pemugaran Yasti, konservasi juga dilakukan secara berkelanjutan terhadap Mahastupa atau stupa induk yang berada di puncak Candi Borobudur. Upaya ini bertujuan menjaga kestabilan serta keutuhan struktur, sehingga kondisi bangunan dapat terus dipantau dan kerusakan yang berpotensi mengancam kelestariannya bisa ditangani secara tepat.
Pelestarian Candi Borobudur tidak hanya berkaitan dengan perbaikan bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Konservasi juga mencakup pemantauan kondisi material batu, pengendalian faktor lingkungan, serta penanganan berbagai gejala yang dapat memengaruhi ketahanan struktur candi dalam jangka panjang.
Salah satu persoalan yang terlihat di sejumlah bagian candi adalah penggaraman, yakni munculnya endapan garam pada permukaan batu. Gejala ini tampak pada beberapa relief yang terlihat memutih. Penggaraman dapat berkaitan dengan pergerakan air dan garam terlarut di dalam pori-pori batu, kemudian meninggalkan endapan ketika air menguap.
Apabila tidak ditangani sesuai prinsip konservasi, proses tersebut berpotensi memengaruhi kondisi permukaan batu. Karena itu, penanganan penggaraman perlu dilakukan dengan memperhatikan karakter material candi dan penyebab kemunculannya. Metode yang digunakan harus mempertimbangkan aspek pelestarian agar tidak menimbulkan kerusakan baru pada relief maupun struktur bangunan.
Pemugaran Yasti dan konservasi Mahastupa menunjukkan bahwa pelestarian Candi Borobudur membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan hanya melalui pekerjaan pemugaran dalam skala besar. Pemeriksaan rutin, pemantauan kondisi batu, serta penanganan masalah yang muncul menjadi bagian penting untuk menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut.
Sebagai salah satu warisan budaya dunia yang memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan keagamaan yang tinggi, Candi Borobudur memerlukan pengelolaan yang mengutamakan ketelitian ilmiah. Setiap tindakan konservasi harus mempertimbangkan keaslian material, kestabilan struktur, serta nilai penting yang melekat pada bangunan candi.
Dengan dimulainya pemugaran Yasti setelah sekitar 115 tahun, upaya pelestarian Candi Borobudur memasuki tahap penting dalam menjaga bagian puncaknya. Pekerjaan tersebut, bersama konservasi Mahastupa dan penanganan penggaraman pada relief, diharapkan dapat membantu mempertahankan keutuhan candi agar warisan sejarah ini tetap terjaga bagi generasi mendatang.