Memuat berita

Nasional

1.999 Dapur MBG Ditutup BGN, Bukan karena Gagal Uji Kelayakan tetapi Tak Pernah Daftar SLHS

Fazlur Rahman · 08 September 2026 · 20:43 WIB · 2 dibaca
1.999 Dapur MBG Ditutup BGN, Bukan karena Gagal Uji Kelayakan tetapi Tak Pernah Daftar SLHS

Foto: Suara.com

Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas terhadap ribuan dapur yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 1.999 dapur resmi ditutup setelah diketahui tidak mendaftarkan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) kepada dinas kesehatan.

Kepala BGN Sudaryono menegaskan, penutupan tersebut bukan dilakukan karena dapur-dapur tersebut dinyatakan gagal dalam uji kelayakan. Persoalannya justru lebih mendasar, yakni ribuan dapur tersebut disebut sama sekali belum pernah melakukan pendaftaran SLHS sebagai bagian dari pemenuhan standar higiene dan sanitasi.

Tindakan tersebut dilakukan setelah BGN melakukan evaluasi terhadap 27.022 dapur yang sebelumnya telah memperoleh izin penetapan sementara. Evaluasi itu menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh dapur yang terlibat dalam penyediaan makanan program MBG memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, BGN menemukan adanya 1.999 dapur yang tidak melakukan pendaftaran SLHS. Temuan itu kemudian menjadi dasar bagi BGN untuk menghentikan operasional dapur-dapur tersebut sekaligus melakukan investigasi lebih lanjut.

Sudaryono menekankan bahwa kepatuhan terhadap standar higiene dan sanitasi tidak dapat dipandang sebagai sekadar urusan administratif. Dapur MBG berhubungan langsung dengan penyediaan makanan bagi masyarakat, terutama anak-anak dan kelompok penerima manfaat lainnya, sehingga aspek keamanan pangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan program.

SLHS sendiri menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa tempat pengolahan makanan memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi. Dalam konteks program MBG, pemenuhan standar tersebut menjadi semakin penting karena makanan diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan kepada banyak penerima manfaat dalam waktu yang relatif bersamaan.

Ketika sebuah dapur tidak memenuhi prosedur administrasi dan persyaratan sanitasi yang diwajibkan, potensi persoalan tidak hanya menyangkut kepatuhan terhadap aturan. Risiko tersebut juga berkaitan dengan keamanan makanan yang dikonsumsi penerima manfaat.

Karena itu, langkah penutupan 1.999 dapur menjadi bagian dari proses evaluasi dan penertiban terhadap satuan pelayanan yang sebelumnya mendapatkan penetapan sementara. BGN tidak hanya menghentikan operasional dapur yang dinilai tidak memenuhi ketentuan, tetapi juga akan melakukan investigasi untuk mengetahui lebih jauh alasan dan kondisi di balik ketidakpatuhan tersebut.

Jumlah 1.999 dapur yang ditutup menunjukkan skala evaluasi yang dilakukan BGN. Dari total 27.022 dapur yang sebelumnya mendapatkan izin penetapan sementara, seluruhnya menjadi bagian dari proses pemeriksaan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar.

Langkah tersebut juga menegaskan bahwa izin penetapan sementara bukan berarti seluruh persyaratan dapat diabaikan. Setiap dapur tetap dituntut memenuhi ketentuan yang berkaitan dengan higiene, sanitasi, keamanan pangan, dan kelayakan operasional.

Dalam program MBG, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyediakan makanan dalam jumlah besar. Makanan yang diberikan kepada penerima manfaat juga harus aman, higienis, dan diproses melalui fasilitas yang memenuhi standar kesehatan.

Hal ini menjadi semakin penting karena program MBG menyasar kelompok masyarakat dalam jumlah besar. Kesalahan dalam proses pengolahan makanan dapat menimbulkan dampak luas apabila tidak terdeteksi dan ditangani sejak awal.

Oleh sebab itu, pengawasan terhadap dapur MBG menjadi salah satu titik krusial dalam menjaga kualitas program. Evaluasi tidak hanya diperlukan ketika muncul persoalan, tetapi juga harus dilakukan secara berkala untuk memastikan standar tetap dipenuhi selama dapur beroperasi.

Penutupan ribuan dapur tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa aspek kelayakan dan keamanan pangan tidak dapat dinegosiasikan demi mengejar percepatan pelaksanaan program. Setiap dapur harus memenuhi persyaratan yang ditetapkan sebelum menjalankan pelayanan kepada penerima manfaat.

BGN kini memiliki pekerjaan lanjutan untuk memastikan proses investigasi terhadap 1.999 dapur tersebut berjalan secara menyeluruh. Hasil investigasi nantinya penting untuk mengetahui penyebab ketidakpatuhan sekaligus menentukan langkah yang perlu dilakukan terhadap masing-masing dapur.

Bagi pengelola dapur MBG lainnya, kebijakan tersebut menjadi pengingat agar seluruh persyaratan dipenuhi sesuai ketentuan. Administrasi, higiene, sanitasi, hingga keamanan pangan harus menjadi bagian utama dari operasional, bukan sekadar formalitas.

Langkah BGN ini pada akhirnya menunjukkan bahwa perluasan program MBG harus berjalan beriringan dengan penguatan pengawasan. Semakin besar cakupan program, semakin besar pula kebutuhan untuk memastikan seluruh rantai penyediaan makanan memenuhi standar keamanan.

Dengan menutup dapur yang tidak mendaftarkan SLHS dan melakukan investigasi terhadapnya, BGN berupaya memastikan tidak ada celah dalam sistem pengawasan. Kebijakan tersebut sekaligus menegaskan bahwa keselamatan dan kualitas makanan bagi penerima manfaat menjadi prioritas utama.

Program MBG memang dituntut mampu menjangkau masyarakat secara luas, tetapi percepatan distribusi tidak boleh mengorbankan standar kesehatan. Sebab, tujuan pemenuhan gizi hanya dapat tercapai apabila makanan yang diberikan bukan hanya bergizi, tetapi juga aman untuk dikonsumsi.