Guangxi, China – Dalam upaya penyelamatan yang cepat dan terkoordinasi, tim penyelamat China berhasil membangun jembatan apung bertenaga mesin sepanjang sekitar 60 meter dan lebar 8 meter untuk mengevakuasi ribuan siswa dan guru yang terjebak banjir di kawasan Xijiang Education Park, Provinsi Guangxi. Jembatan darurat tersebut mampu mengangkut hingga 500 orang dalam satu kali penyeberangan. Operasi penyelamatan ini dilakukan pada Jumat (10/7/2026), hanya dua hari setelah banjir besar melanda wilayah tersebut.
Banjir disebabkan oleh hujan ekstrem akibat Topan Maysak yang membuat sungai meluap dan merendam kawasan pendidikan serta pemukiman. Selain jembatan apung, pemerintah China mengerahkan puluhan perahu, drone untuk pemantauan, dan bantuan logistik besar-besaran. Hingga saat ini, sekitar 130.000 warga berhasil dievakuasi dalam kurun waktu tiga hari sejak banjir melanda pada Rabu (8/7/2026).
Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan terdapat 533 Warga Negara Indonesia (WNI) di Provinsi Guangxi, yang mayoritas merupakan mahasiswa. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai WNI yang terdampak atau menjadi korban banjir tersebut. KBRI Beijing dan konsulat-konsulat terkait terus memantau situasi dan berkoordinasi dengan otoritas China untuk memastikan keselamatan seluruh WNI di wilayah terdampak.
Keberhasilan pembangunan jembatan apung dalam waktu singkat mendapat apresiasi luas dari masyarakat internasional. Operasi ini menunjukkan kesiapan dan inovasi tim penyelamat China dalam menghadapi bencana alam berskala besar.
Banjir di Guangxi ini menjadi pengingat akan semakin seringnya bencana hidrometeorologi akibat perubahan iklim. Pemerintah China menyatakan akan terus meningkatkan sistem peringatan dini dan infrastruktur tangguh bencana di wilayah rawan.