London – Inggris memasuki babak politik baru setelah Raja Charles III resmi menunjuk Andy Burnham sebagai Perdana Menteri Inggris pada Senin (20/7/2026). Penunjukan tersebut dilakukan setelah Keir Starmer menyerahkan pengunduran dirinya sebagai kepala pemerintahan. Istana Buckingham mengonfirmasi bahwa Raja Charles III telah meminta Burnham untuk membentuk pemerintahan berikutnya. Dalam pernyataan resminya, istana menyebut Burnham telah menerima tawaran Raja dan secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri.
"Andy Burnham menerima tawaran Raja dan secara resmi dilantik sebagai Perdana Menteri," demikian pernyataan Istana Buckingham yang dikutip AFP.
Pengangkatan Burnham menjadi perhatian publik karena ia bukan sosok yang asing dalam politik Inggris. Sebelum menduduki jabatan tertinggi pemerintahan, pria yang dikenal dengan julukan "King of the North" tersebut menjabat sebagai Wali Kota Greater Manchester dan memiliki pengalaman panjang di dunia politik Partai Buruh. Partai Buruh memilih Burnham sebagai kandidat Perdana Menteri karena dinilai memiliki kemampuan untuk menghadapi tantangan politik baru, termasuk meningkatnya dukungan terhadap Partai Reform UK yang dipimpin Nigel Farage. Popularitas Reform UK dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu faktor yang mendorong Partai Buruh mencari figur yang dianggap mampu menarik kembali kepercayaan masyarakat.
Dalam pidato perdananya di Downing Street, Burnham berjanji membawa pendekatan berbeda dalam menjalankan pemerintahan. Ia menekankan pentingnya menciptakan stabilitas politik, memperbaiki hubungan antara pemerintah dan masyarakat, serta mengembalikan kepercayaan publik terhadap institusi negara. Burnham juga menyoroti persoalan ekonomi yang masih menjadi perhatian utama masyarakat Inggris, terutama terkait tekanan biaya hidup. Ia berjanji pemerintahannya akan bergerak cepat untuk membantu warga menghadapi berbagai tantangan ekonomi.
"Saya akan mengambil pendekatan berbeda terhadap belanja publik dan pengelolaan ekonomi, lebih fokus pada investasi sejak awal, intervensi dini, menyiapkan masyarakat untuk sukses, dan jauh lebih sedikit membayar akibat kegagalan," ujar Burnham dalam pidatonya.
Menurut Burnham, pemerintah tidak hanya harus berfokus pada penanganan masalah setelah terjadi, tetapi juga melakukan langkah pencegahan melalui investasi jangka panjang di berbagai sektor. Pendekatan tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang ingin ia terapkan selama memimpin pemerintahan Inggris. Pergantian kepemimpinan ini menjadi momen penting bagi Inggris, terutama di tengah berbagai tantangan nasional seperti kondisi ekonomi, layanan publik, serta meningkatnya persaingan politik antarpartai.