Memuat berita

Keuangan

Rupiah Menguat ke Rp17.729 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bergerak Campuran

Fazlur Rahman · 20 September 2026 · 13:11 WIB · 2 dibaca
Rupiah Menguat ke Rp17.729 per Dolar AS, Mata Uang Asia Bergerak Campuran

Foto: Suara Surabaya

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat (18/9/2026). Mata uang Garuda bergerak ke level Rp17.729 per dolar Amerika Serikat (AS)24 poin setara 0,14 persen

Penguatan rupiah terjadi di tengah dinamika pasar valuta asing Asia yang bergerak cukup beragam. Sejumlah mata uang kawasan ikut menguat terhadap dolar AS, sementara beberapa mata uang lainnya justru masih berada dalam tekanan.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar valuta asing Asia masih merespons berbagai sentimen global secara berbeda. Selain arah dolar AS, investor juga mencermati perkembangan harga komoditas energi, imbal hasil obligasi Amerika Serikat, serta kebijakan moneter bank sentral utama dunia.

Di kawasan Asia, dolar Singapura tercatat melemah tipis 0,01 persen

0,17 persen0,33 persen

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia lainnya bergerak positif. Yuan China menguat sekitar 0,10 persen0,20 persen0,40 persen0,01 persen

Dari negara-negara maju, pergerakan mata uang juga berlangsung bervariasi. Euro Eropa menguat 0,05 persen0,01 persen0,11 persen0,03 persen

Penguatan rupiah pada Jumat pagi sekaligus menjadi pembalikan arah setelah mata uang domestik tertekan pada perdagangan sebelumnya. Pada Kamis (17/9), rupiah di pasar spot Bloomberg ditutup melemah 0,32 persen0,23 persen

Tekanan sehari sebelumnya berkaitan dengan respons pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat. Perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan imbal hasil aset AS dapat memengaruhi keputusan investor dalam menempatkan dana di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Penyesuaian portofolio semacam ini sering kali berdampak langsung terhadap permintaan terhadap mata uang lokal.

Namun, pada Jumat pagi tekanan tersebut mulai mereda. Salah satu sentimen yang ikut diperhatikan pasar adalah penurunan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap negara-negara importir energi, termasuk Indonesia, karena harga minyak yang lebih rendah berpotensi membantu menekan kebutuhan dolar untuk pembayaran impor energi.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong memperkirakan rupiah masih memiliki ruang untuk menguat pada perdagangan Jumat. Menurut dia, turunnya harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan tekanan terhadap mata uang regional. Perkembangan tersebut juga ikut menekan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi AS.

Namun, pergerakan rupiah tetap tidak terlepas dari risiko eksternal. Pasar global masih menghadapi ketidakpastian akibat tingginya harga energi dan perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Reuters juga mencatat bahwa kenaikan harga minyak dan tingginya imbal hasil Treasury AS telah meningkatkan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang Asia.

Di sisi lain, sentimen terhadap Indonesia dalam beberapa hari terakhir turut menjadi perhatian investor. Perubahan kepemimpinan di Kementerian Keuangan setelah Suahasil Nazara menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu perkembangan domestik yang diperhatikan pasar. Reuters melaporkan sentimen investor terhadap Indonesia membaik setelah pergantian tersebut, meski rupiah masih mencatat pelemahan sekitar 6 persen sepanjang tahun berjalan hingga periode laporan tersebut.

Kondisi tersebut membuat pergerakan rupiah pada akhir pekan menjadi penting untuk dicermati. Penguatan pada pembukaan perdagangan memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda tidak berlangsung satu arah. Namun, pasar masih akan menguji seberapa jauh penguatan tersebut dapat bertahan ketika perdagangan berlangsung dan investor merespons perkembangan global terbaru.

Untuk perdagangan Jumat, analis memperkirakan rupiah bergerak pada kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS

Dengan posisi Rp17.729 per dolar AS pada pembukaan, rupiah kini kembali mendekati batas bawah kisaran tersebut. Pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada arah dolar AS, perkembangan harga minyak, imbal hasil surat utang AS, serta arus dana investor ke pasar negara berkembang.

Bagi perekonomian domestik, pergerakan rupiah tetap menjadi indikator penting karena berkaitan dengan biaya impor, harga energi dan bahan baku, tekanan inflasi, hingga beban pembayaran kewajiban dalam valuta asing. Karena itu, setiap perubahan nilai tukar selalu menjadi perhatian pemerintah, Bank Indonesia, dunia usaha, dan pelaku pasar.

Penguatan 24 poin pada Jumat pagi memang tergolong terbatas, tetapi cukup untuk menunjukkan adanya perubahan sentimen setelah rupiah melemah pada perdagangan sebelumnya. Pasar kini menunggu apakah penguatan tersebut dapat berlanjut sepanjang perdagangan atau kembali terpengaruh oleh sentimen global yang masih bergerak cepat.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah memasuki perdagangan akhir pekan dengan pijakan yang sedikit lebih kuat. Namun, arah berikutnya masih akan ditentukan oleh pertarungan antara sentimen positif dari meredanya tekanan dolar dan harga minyak dengan risiko global yang tetap membayangi pasar valuta asing.