Kemunculan daratan baru di sekitar Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi melalui citra satelit memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat. Sebagian bahkan menyebutnya sebagai gunung api baru atau "cucu Krakatau". Namun, para ahli menegaskan bahwa daratan tersebut bukanlah gunung api baru, melainkan hasil pengendapan material vulkanik yang terus berlangsung akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Edukator Mitigasi Bencana Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa daratan baru tersebut terbentuk dari akumulasi material vulkanik berupa abu, batuan, material piroklastik, serta aliran lava yang mengendap di kawasan perairan sekitar gunung.
Menurutnya, fenomena tersebut merupakan proses geologi yang lazim terjadi pada gunung api aktif yang mengalami erupsi berulang dalam jangka waktu panjang. Material yang dimuntahkan saat erupsi akan terus menumpuk hingga membentuk perluasan daratan di sekitar tubuh gunung. Daryono menegaskan bahwa daratan baru tersebut belum dapat dikategorikan sebagai gunung api baru karena tidak memenuhi sejumlah syarat utama dalam ilmu vulkanologi. Setidaknya terdapat tiga kriteria geologis yang harus dipenuhi agar suatu bentukan dapat disebut gunung api.
Ketiga kriteria tersebut meliputi adanya saluran magma yang mandiri, aktivitas erupsi yang berasal dari sistem vulkanik tersendiri, serta struktur geologis yang menunjukkan keberadaan tubuh gunung api baru. Sementara itu, daratan yang muncul di sekitar Gunung Anak Krakatau saat ini masih merupakan bagian dari sistem vulkanik yang sama dan terbentuk dari material hasil erupsi gunung tersebut. Sebelumnya, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Rita Susilawati, mengungkapkan bahwa perluasan daratan di kawasan Gunung Anak Krakatau terdeteksi melalui hasil evaluasi citra satelit Sentinel.
Berdasarkan hasil pemantauan tersebut, penambahan daratan terjadi pada sektor barat laut, barat, hingga barat daya tubuh Gunung Anak Krakatau. Perubahan morfologi itu merupakan dampak langsung dari proses pengendapan material piroklastik dan aliran lava yang terus berlangsung selama aktivitas erupsi.
“Penambahan daratan pada tubuh Gunung Anak Krakatau terjadi di sektor barat laut, barat, hingga barat daya. Ini merupakan akibat dari pengendapan material piroklastik dan aliran lava hasil erupsi menerus, dengan total penambahan luasan mencapai 32,8 hektare,” kata Rita Susilawati , Kamis (24/9/2026).
Penambahan luas daratan hingga 32,8 hektare tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih terus membentuk dan mengubah bentang alam di sekitarnya. Fenomena ini juga menjadi bukti bahwa kawasan Selat Sunda merupakan wilayah yang sangat dinamis secara geologi karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif. Meski demikian, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru menyimpulkan munculnya gunung api baru hanya berdasarkan perubahan bentuk daratan yang terlihat dari citra satelit. Penentuan status gunung api memerlukan kajian ilmiah yang mendalam dengan mempertimbangkan berbagai aspek geologi dan vulkanologi.
Gunung Anak Krakatau sendiri merupakan gunung api aktif yang muncul setelah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Sejak kemunculannya, gunung ini terus mengalami pertumbuhan akibat akumulasi material erupsi dan menjadi salah satu objek pemantauan utama para vulkanolog di Indonesia.