Duka masih menyelimuti dunia jurnalistik Indonesia setelah lima jurnalis dan tiga awak kapal Arupadhatu I
Di tengah ketidakpastian tersebut, Dewan Pers menyebut kelima jurnalis yang hilang sebagai pahlawan pers
Komarudin HidayatKomarudin mengatakan para jurnalis tersebut telah menjalankan tugas untuk menghadirkan informasi dan visual mengenai peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Menurut dia, pekerjaan jurnalistik di lapangan sering kali menuntut keberanian dan pengorbanan yang tidak selalu terlihat oleh publik.
“Biasanya kita itu menikmati potret gambar, tapi kadang melupakan bagaimana perjuangan mereka untuk mendapatkannya. Nah, ketika ini terjadi musibah, kita baru tersadar betapa mahalnya, beratnya untuk mencari, mendapatkan gambar terbaik,” kata Komarudin.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penghormatan kepada lima pewarta yang hingga kini masih dalam pencarian. Namun, Komarudin juga menjadikan peristiwa itu sebagai pengingat bagi perusahaan media dan jurnalis mengenai pentingnya keselamatan ketika menjalankan liputan di wilayah yang memiliki risiko tinggi.
Menurutnya, media yang hendak menugaskan jurnalis ke daerah berbahaya perlu melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan pemerintah, petugas keamanan, maupun pihak yang memahami kondisi lapangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pekerjaan jurnalistik tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan keselamatan kru.
“Kalau ada liputan di tempat-tempat yang berbahaya, hendaknya berkoordinasi dengan petugas setempat,” ujar Komarudin.
Ia juga mengingatkan perusahaan media agar memberi perhatian khusus kepada keluarga jurnalis apabila terjadi musibah dalam pelaksanaan tugas. Tanggung jawab terhadap pekerja media, menurutnya, tidak berhenti ketika seorang jurnalis berangkat menjalankan liputan, tetapi juga menyangkut perlindungan dan pendampingan terhadap keluarganya ketika terjadi keadaan darurat.
Peristiwa hilangnya lima jurnalis tersebut bermula pada 7 September 2026
Lima jurnalis yang berada dalam rombongan merupakan Arie Basuki, Donal Husni, Yudistiro Pranoto, Firdaus Wajidi, dan Bagus Khoirunas
Hilangnya kapal tersebut kemudian memicu operasi SAR gabungan dalam skala besar. Selama 10 hari pencarian523 personel8.509 mil laut persegi
Tim SAR sebelumnya menemukan 13 objek terapung di kawasan pencarian, di antaranya jaket pelampung dan sejumlah perlengkapan lain. Setelah diverifikasi, seluruh objek tersebut dinyatakan tidak berkaitan dengan Arupadhatu I. Karena tidak ada petunjuk yang mengarah pada keberadaan rombongan, operasi SAR aktif akhirnya dihentikan setelah masa perpanjangan tiga hari berakhir.
Meski operasi aktif telah dihentikan, pencarian belum sepenuhnya tertutup. Basarnas menyatakan pemantauan terhadap perairan Selat Sunda tetap dilakukan melalui berbagai saluran, termasuk informasi dari kapal yang melintas, unsur Lanal, Polairud, serta sistem pemantauan pelayaran.
Apabila muncul informasi baru atau ditemukan tanda yang mengarah pada keberadaan kapal maupun para penumpang, operasi SAR dapat kembali dibuka. Dengan demikian, penghentian operasi aktif bukan berarti pencarian terhadap delapan orang tersebut dinyatakan berakhir untuk selamanya.
Di tengah proses tersebut, solidaritas dari komunitas pers terus mengalir. Pewarta Foto Indonesia (PFI) bersama berbagai organisasi jurnalis sebelumnya menggelar doa bersama untuk mendoakan keselamatan lima wartawan dan tiga awak kapal. Kegiatan solidaritas juga menjadi bentuk dukungan moral bagi keluarga yang masih menunggu kabar.
Ketua PFI Dwi Pambudo mengatakan organisasinya merasakan duka mendalam atas hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal. Ia menyebut para pewarta yang sedang menjalankan tugas tersebut merupakan bagian dari perjuangan menyampaikan informasi kepada masyarakat.
Menurut Dwi, karya jurnalistik memiliki posisi penting karena menjadi salah satu jalan bagi publik untuk mengetahui fakta dan peristiwa terkini. Karena itu, hilangnya para pewarta dalam tugas jurnalistik meninggalkan duka yang tidak hanya dirasakan keluarga, tetapi juga seluruh komunitas pers.
Dwi menegaskan, jurnalis merupakan bagian penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dan bekerja di garis depan ketika sebuah peristiwa besar terjadi. Ia berharap kelima jurnalis beserta tiga awak kapal tersebut dapat kembali bersama keluarga dan berharap kejadian serupa tidak terulang.
Bagi insan pers, peristiwa ini juga menghadirkan refleksi mengenai risiko pekerjaan jurnalistik. Peliputan bencana alam, konflik, kecelakaan, dan wilayah yang sulit dijangkau sering kali membawa risiko yang jauh lebih tinggi dibandingkan liputan biasa.
Gunung Anak Krakatau sendiri berada di kawasan yang memiliki aktivitas vulkanik aktif. Karena itu, peliputan di sekitar gunung api dan perairan di sekitarnya membutuhkan perhatian terhadap perkembangan aktivitas vulkanik, kondisi cuaca dan laut, serta informasi keselamatan dari otoritas terkait.
Pesan Dewan Pers menjadi relevan dalam konteks tersebut. Keberanian seorang jurnalis untuk mendapatkan informasi tidak seharusnya dipisahkan dari kewajiban institusi media untuk menyiapkan prosedur keselamatan. Koordinasi sebelum keberangkatan, pemantauan kondisi lapangan, komunikasi darurat, dan kesiapan evakuasi merupakan bagian penting dari pengelolaan risiko liputan.
Di sisi lain, pengalaman para jurnalis yang hilang menunjukkan bahwa pekerjaan pers memiliki dimensi kemanusiaan yang besar. Masyarakat sering hanya melihat foto, video, atau laporan yang sudah jadi, tanpa mengetahui bagaimana seorang pewarta harus mencapai lokasi untuk mendapatkannya.
Karena itu, penghormatan yang disampaikan Dewan Pers bukan hanya ditujukan kepada lima jurnalis yang hilang, tetapi juga menjadi pengingat mengenai nilai kerja jurnalistik itu sendiri. Sebuah gambar atau berita yang sampai kepada publik sering kali merupakan hasil dari perjalanan, ketelitian, keberanian, dan risiko yang harus dihadapi para pewarta.
Namun, penghormatan tersebut tetap berjalan berdampingan dengan pesan bahwa keselamatan harus menjadi bagian utama dari setiap penugasan. Tidak ada hasil liputan yang seharusnya menghilangkan perhatian terhadap keselamatan manusia yang berada di baliknya.
Kini, keluarga dan rekan-rekan lima jurnalis serta tiga awak kapal masih menanti kepastian. Meski operasi SAR aktif telah dihentikan, pemantauan di Selat Sunda tetap berjalan dan pintu pencarian masih terbuka apabila ditemukan petunjuk baru.
Bagi dunia pers, hilangnya para pewarta tersebut meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab sekaligus pelajaran yang sangat penting. Di satu sisi, masyarakat membutuhkan informasi dari lapangan. Di sisi lain, mereka yang bekerja untuk menghadirkan informasi itu juga harus mendapatkan perlindungan dan sistem keselamatan yang memadai.
Sebutan “pahlawan pers”
Dan sampai kabar tentang mereka benar-benar ditemukan, doa serta harapan dari keluarga, rekan sesama jurnalis, dan masyarakat masih terus menyertai perjalanan pencarian lima pewarta dan tiga awak Arupadhatu I