Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia kembali berdampak terhadap kualitas udara di kawasan Asia Tenggara. Singapura menjadi salah satu negara yang merasakan dampaknya, dengan indeks kualitas udara di sejumlah wilayah sempat masuk kategori tidak sehat. Melansir Channel News Asia (CNA), data National Environment Agency (NEA) Singapura menunjukkan indeks Standar Pencemar Udara atau Pollutant Standards Index (PSI) 24 jam di wilayah tengah Singapura sempat mencapai level 105.
Kondisi tersebut menandakan kualitas udara mulai berada pada kategori tidak sehat. Situasi ini menjadi perhatian karena paparan polusi udara, termasuk partikel yang terkandung dalam kabut asap, dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok yang rentan. Dalam pembaruan terbarunya, NEA mencatat sejumlah stasiun pemantauan kualitas udara di Kalimantan, wilayah tengah dan selatan Sumatra, serta Sabah dan Sarawak juga mencatat kualitas udara pada tingkat tidak sehat hingga berbahaya.
Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan meluasnya hotspot atau titik panas di sejumlah wilayah. Titik panas terdeteksi tersebar di Kalimantan serta kawasan selatan dan tengah Sumatra. Sejumlah hotspot lainnya juga ditemukan di beberapa bagian selatan kawasan ASEAN yang masih mengalami kondisi kering. Cuaca yang kering dapat meningkatkan risiko kebakaran dan membuat api lebih mudah meluas, sementara asap yang dihasilkan berpotensi terbawa angin menuju wilayah lain. Dampak kabut asap ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar lokasi kebakaran. Ketika asap terbawa angin melintasi perbatasan, negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia juga dapat mengalami penurunan kualitas udara.
Di Singapura, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara. Warga diimbau mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara memburuk. Pembatasan aktivitas fisik di luar ruangan menjadi salah satu langkah untuk mengurangi paparan polutan. Aktivitas berat dapat membuat seseorang bernapas lebih banyak sehingga jumlah udara yang masuk ke paru-paru meningkat dan paparan terhadap polutan juga berpotensi lebih besar.
Kelompok masyarakat yang lebih rentan terhadap dampak polusi udara juga perlu memberikan perhatian lebih terhadap kondisi PSI sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan. Tak hanya masyarakat umum, pemerintah Singapura juga memberikan perhatian terhadap pekerja yang beraktivitas di tengah kondisi kabut asap. Kementerian Tenaga Kerja Singapura memiliki pedoman bagi perusahaan untuk melindungi pekerja dari dampak kabut asap.
Pedoman tersebut menjadi acuan bagi perusahaan dalam mengambil langkah perlindungan terhadap pekerja, khususnya mereka yang harus melakukan pekerjaan di luar ruangan ketika kualitas udara mengalami penurunan. Situasi ini kembali menunjukkan bahwa karhutla di kawasan Asia Tenggara memiliki dampak yang dapat melampaui batas wilayah negara. Kebakaran yang terjadi di Indonesia dapat menghasilkan asap yang terbawa oleh kondisi angin dan kemudian memengaruhi kualitas udara di negara-negara tetangga.
Pemantauan hotspot dan kualitas udara menjadi penting untuk melihat perkembangan kondisi dari waktu ke waktu. Perubahan cuaca, arah angin, serta bertambah atau berkurangnya titik panas dapat memengaruhi tingkat kepekatan kabut asap dan wilayah yang terdampak. Dengan PSI di wilayah tengah Singapura yang sempat mencapai level 105, masyarakat di negara tersebut diminta tetap memperhatikan informasi resmi mengenai kualitas udara dan menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi terkini.
Di sisi lain, perkembangan hotspot di Kalimantan dan Sumatra menjadi perhatian karena masih adanya wilayah yang mengalami kondisi kering. Penanganan karhutla dan pencegahan munculnya titik panas baru menjadi faktor penting untuk mengurangi potensi meluasnya kabut asap serta dampaknya terhadap negara-negara di kawasan ASEAN.