Memuat berita

Berita International

Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Pegang Prinsip One China, Sebut Taiwan Bagian dari China

Fazlur Rahman · 04 September 2026 · 21:19 WIB · 2 dibaca
Anwar Ibrahim Tegaskan Malaysia Pegang Prinsip One China, Sebut Taiwan Bagian dari China

Foto: The Diplomat

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan posisi pemerintahnya terkait status Taiwan dengan menyatakan bahwa Taiwan merupakan bagian dari China. Sikap tersebut disampaikan bersamaan dengan penegasan bahwa Malaysia tetap berpegang pada prinsip “One China”

Dalam wawancara dengan Al Jazeera English

Anwar menekankan bahwa Malaysia tidak mendukung langkah yang berpotensi mendorong pemisahan Taiwan dari China. Pandangan tersebut sejalan dengan prinsip diplomatik yang selama ini menjadi dasar hubungan Malaysia dengan Beijing.

“Kita memahami aspirasi mereka untuk demokrasi, tetapi kita tidak dapat menerima upaya untuk memecah keutuhan sebuah negara,” ujar Anwar dalam wawancara tersebut.

Pernyataan Anwar muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Asia Timur, khususnya terkait hubungan antara China dan Taiwan. Beijing selama ini menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan menentang segala bentuk upaya menuju kemerdekaan Taiwan.

Sementara itu, Taiwan menjalankan pemerintahan sendiri secara demokratis dan tidak berada di bawah kendali pemerintah China. Perbedaan pandangan mengenai status Taiwan tersebut menjadi salah satu persoalan geopolitik paling sensitif di kawasan Asia-Pasifik.

Dalam wawancara itu, Anwar juga menyampaikan pandangannya mengenai kemungkinan suatu wilayah berupaya memisahkan diri dari sebuah negara. Ia mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu, penggunaan kekuatan untuk mempertahankan keutuhan suatu negara dapat dibenarkan.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa posisi Malaysia tidak hanya menekankan aspek hubungan diplomatik dengan China, tetapi juga prinsip mengenai keutuhan wilayah dan kedaulatan negara.

Meski demikian, Anwar tetap menyampaikan pentingnya memahami aspirasi masyarakat Taiwan. Ia tidak menampik bahwa demokrasi merupakan bagian penting dalam kehidupan politik Taiwan, tetapi menilai persoalan tersebut harus ditempatkan dalam kerangka keutuhan negara dan prinsip hubungan internasional yang dianut Malaysia.

Sikap Malaysia ini menjadi penting mengingat negara tersebut memiliki hubungan ekonomi dan diplomatik yang erat dengan China sekaligus berada di kawasan yang memiliki kepentingan strategis terhadap stabilitas Selat Taiwan dan Laut China Selatan.

Dengan menegaskan kembali prinsip One China