Memuat berita

Nasional

Gunung Semeru Masih Siaga Level III, Tercatat 30 Kali Letusan dalam Enam Jam

Devi Sry Atmaja · 17 September 2026 · 11:47 WIB · 2 dibaca
Gunung Semeru Masih Siaga Level III, Tercatat 30 Kali Letusan dalam Enam Jam

Foto: Detik Jatim/Nur Hadi Wicaksono

LUMAJANG – Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga. Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru periode 15 September 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas vulkanik gunung tersebut masih menunjukkan intensitas yang perlu diwaspadai. Petugas terus memantau perkembangan secara ketat. Dalam kurun waktu enam jam tersebut, tercatat 30 kali letusan. Beberapa letusan disertai suara dentuman dengan intensitas lemah hingga kuat. Aktivitas ini menjadi perhatian utama karena menunjukkan bahwa sistem vulkanik Gunung Semeru masih aktif dan dinamis. Selain letusan, Gunung Semeru juga mengalami empat kali guguran. Guguran material dari puncak atau lereng menjadi salah satu indikator yang terus dipantau. Kejadian tersebut menambah catatan aktivitas harian yang dilaporkan oleh petugas pengamatan.

Delapan kali embusan juga tercatat dalam periode pengamatan yang sama. Embusan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang menunjukkan pelepasan gas dan material dari dalam gunung. Pemantauan visual dan instrumental terus dilakukan untuk mencatat setiap kejadian. Dua kali tremor harmonik turut terdeteksi pada periode tersebut. Tremor harmonik sering dikaitkan dengan pergerakan magma atau fluida di dalam sistem vulkanik. Kehadirannya menjadi salah satu parameter yang dipertimbangkan dalam menilai status gunung api. Hingga kini, status Gunung Semeru masih berada di Level III atau Siaga. Keputusan untuk mempertahankan status tersebut didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap data visual dan kegempaan. Tidak ada penurunan status meski aktivitas terus berlangsung.

Petugas mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan. Batasan yang ditetapkan adalah sejauh 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru. Area tersebut dinilai memiliki risiko tinggi terhadap aliran material vulkanik. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Pembatasan ini bertujuan untuk menghindari risiko terkena aliran lahar atau material guguran yang dapat bergerak cepat. Kewaspadaan terhadap potensi awan panas guguran atau APG menjadi salah satu fokus imbauan. Awan panas guguran dapat bergerak dengan kecepatan tinggi dan jarak jangkau yang jauh. Masyarakat diingatkan untuk selalu siaga terhadap kemungkinan tersebut.

Guguran lava juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai di sekitar kawasan gunung. Material lava yang gugur dapat memicu aliran di lereng dan lembah. Pemantauan terus dilakukan untuk mendeteksi tanda-tanda awal kejadian tersebut. Lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru menjadi perhatian serius. Lahar dapat terbentuk ketika material vulkanik bercampur dengan air hujan atau aliran sungai. Risiko ini meningkat terutama pada musim hujan. Kewaspadaan terutama diperlukan di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Empat aliran sungai tersebut menjadi jalur utama yang berpotensi dilalui material vulkanik. Warga di sekitar area ini diminta meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat juga diminta mewaspadai potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai Besuk Kobokan. Aliran sekunder ini sering kali menjadi jalur tak terduga bagi material lahar. Pemahaman terhadap kondisi lokal sangat penting bagi warga setempat. Pos Pengamatan Gunung Api Semeru terus memperbarui data aktivitas secara berkala. Laporan enam jam pertama pada 15 September 2026 menjadi dasar imbauan yang disampaikan kepada publik. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait terus dilakukan. Dengan status Level III yang masih berlaku, seluruh pihak diimbau untuk mematuhi rekomendasi yang telah ditetapkan. Gunung Semeru dengan 30 kali letusan, empat guguran, delapan embusan, dan dua tremor harmonik dalam enam jam menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap harus dijaga secara serius.