JAKARTA - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami erupsi pada Sabtu malam, 5 September 2026. Sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi tersebut terpantau mulai memasuki sejumlah wilayah, termasuk sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat pada Minggu (6/9). Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko gangguan pada saluran pernapasan dan iritasi mata.
Pakar gempa dan tsunami sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak untuk menggunakan masker medis atau masker N95. Penggunaan masker dinilai penting untuk mengurangi paparan abu vulkanik yang terhirup. Daryono menjelaskan, abu vulkanik atau volcanic ash memiliki ukuran yang sangat halus. Secara umum, ukuran material tersebut kurang dari 2 milimeter sehingga dapat dengan mudah terbawa angin dan menyebar ke wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.
Material abu vulkanik yang terbawa udara dapat masuk ke saluran pernapasan apabila terhirup. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak disarankan menggunakan alat pelindung diri, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Selain melindungi pernapasan, masyarakat juga diminta menggunakan kacamata pelindung ketika berada di luar rumah. Abu vulkanik dapat menyebabkan iritasi pada mata, terlebih material tersebut memiliki sifat tajam dan dapat mengganggu permukaan mata.
Daryono menyampaikan setidaknya ada empat langkah utama yang perlu dilakukan masyarakat untuk menghadapi sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pertama, masyarakat diminta menggunakan alat pelindung diri. Masker N95 maupun masker medis dapat digunakan untuk membantu mengurangi masuknya abu vulkanik ke saluran pernapasan. Kacamata pelindung juga disarankan ketika masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan untuk mengurangi risiko iritasi mata.
Kedua, masyarakat perlu melindungi sumber air bersih dan makanan. Tempat penampungan air dianjurkan ditutup rapat agar abu vulkanik tidak masuk dan mencemari persediaan air. Bahan makanan juga perlu disimpan dalam kondisi tertutup. Abu vulkanik dapat membawa berbagai material, termasuk kandungan silika dan asam, sehingga kebersihan air dan makanan perlu dijaga selama wilayah masih terdampak sebaran abu.
Ketiga, masyarakat diminta mewaspadai informasi palsu atau hoaks terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau. Dalam situasi bencana atau erupsi, informasi yang beredar di media sosial dapat berkembang dengan cepat dan belum tentu memiliki dasar yang benar. Masyarakat diimbau tetap tenang serta mengacu pada pembaruan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Keempat, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi mitigasi yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait. Warga tidak dianjurkan mencoba mendekati area penyeberangan laut di sekitar kompleks Gunung Anak Krakatau dan harus mematuhi garis batas aman yang telah ditentukan. Imbauan tersebut menjadi penting mengingat Gunung Anak Krakatau masih berada pada status Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan masyarakat perlu tetap memperhatikan perkembangan aktivitas gunung api dan mengikuti arahan dari pihak berwenang.
Berdasarkan pantauan citra satelit, BMKG menyebut sebaran abu vulkanik pada Minggu (6/9) telah memasuki sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat serta perairan di sekitarnya. Meluasnya sebaran abu menunjukkan bahwa material hasil erupsi dapat terbawa oleh kondisi atmosfer dan angin menuju wilayah yang berada cukup jauh dari Gunung Anak Krakatau. Karena itu, masyarakat di wilayah yang dilalui sebaran abu perlu memperhatikan kondisi udara dan mengurangi paparan secara langsung.
Gunung Anak Krakatau sendiri berada di kawasan Selat Sunda, wilayah yang memiliki aktivitas vulkanik yang perlu terus dipantau. Aktivitas erupsi dapat menghasilkan material vulkanik berupa abu, pasir, maupun material lainnya yang berpotensi terbawa angin dan memengaruhi wilayah di sekitarnya. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat tidak perlu panik, tetapi tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Penggunaan masker, perlindungan mata, menjaga kebersihan air dan makanan, serta mengikuti informasi resmi menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak sebaran abu vulkanik.
Dengan status Gunung Anak Krakatau yang masih berada pada Level III atau Siaga, pemantauan terhadap aktivitas gunung api dan sebaran abu vulkanik akan terus menjadi perhatian. Warga di wilayah terdampak diminta tetap waspada, mengikuti perkembangan informasi, serta mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan otoritas terkait.