Memuat berita

Nasional

86 Siswa di Pariaman Diduga Keracunan usai Santap MBG, SPPG Ditutup Sementara

Devi Sry Atmaja · 17 September 2026 · 00:29 WIB · 4 dibaca
86 Siswa di Pariaman Diduga Keracunan usai Santap MBG, SPPG Ditutup Sementara

Foto: Kompas.com/Dharma Harisa

PARIAMAN – Sebanyak 86 siswa di Kota Pariaman, Sumatera Barat, diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis pada 14 September 2026. Kejadian tersebut menimbulkan keprihatinan di kalangan orang tua dan pihak sekolah. Penanganan segera dilakukan untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut. Sekitar satu jam setelah menyantap hidangan MBG, para siswa mulai merasakan keluhan kesehatan. Gejala yang muncul meliputi pusing, mual, muntah, dan gatal-gatal. Keluhan tersebut dirasakan secara bersamaan oleh sejumlah siswa di sekolah yang menerima pasokan makanan tersebut. Para siswa yang mengalami gejala kemudian dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan untuk mendapatkan perawatan. Tindakan medis segera diberikan agar kondisi mereka stabil. Pihak sekolah dan orang tua berkoordinasi untuk memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan yang memadai.

Pasca kejadian, Pemerintah Kota Pariaman mengambil langkah cepat dengan menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG yang memasok MBG ke sekolah tersebut. Penutupan dilakukan sebagai langkah preventif sambil menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut. Keputusan ini diambil untuk mencegah risiko serupa di hari-hari berikutnya. Wali Kota Pariaman Yota Balad menyatakan akan melakukan investigasi terkait peristiwa keracunan massal tersebut. Ia menekankan pentingnya pengungkapan penyebab secara tuntas agar kejadian serupa tidak terulang. Investigasi akan melibatkan berbagai pihak terkait di tingkat kota. 

Dinas Kesehatan Kota Pariaman juga akan menguji sampel makanan yang disantap siswa. Pengujian dilakukan di laboratorium untuk mengetahui kemungkinan adanya kontaminan atau bahan yang memicu gejala keracunan. Hasil uji diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai sumber masalah.

Selain sampel makanan, Dinas Kesehatan juga akan memeriksa sampel muntahan korban. Pemeriksaan ini menjadi bagian penting dari proses investigasi untuk memperkuat temuan laboratorium. Data yang diperoleh akan digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan selanjutnya. Kejadian yang menimpa 86 siswa ini menjadi perhatian serius bagi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah Pariaman. Pihak terkait berupaya memastikan bahwa standar keamanan pangan tetap terjaga. Langkah penutupan sementara SPPG mencerminkan kehati-hatian dalam penanganan kasus. Gejala pusing, mual, muntah, dan gatal-gatal yang muncul sekitar satu jam setelah makan menjadi indikasi awal adanya masalah pada hidangan yang disajikan. Respons cepat dari pihak sekolah dalam membawa siswa ke fasilitas kesehatan membantu meminimalkan risiko komplikasi. Kondisi para siswa terus dipantau selama perawatan.

Pemerintah Kota Pariaman melalui Wali Kota Yota Balad berkomitmen untuk mengungkap kronologi dan penyebab kejadian. Investigasi yang akan digelar diharapkan berjalan transparan dan akuntabel. Hasilnya akan menjadi acuan perbaikan sistem distribusi dan pengolahan makanan bergizi gratis di daerah tersebut. Pengujian laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban menjadi langkah ilmiah yang krusial. Dinas Kesehatan akan bekerja sama dengan laboratorium yang kompeten untuk memastikan hasil yang akurat. Temuan dari uji tersebut akan menentukan apakah terdapat kelalaian dalam proses pengolahan atau penyimpanan. Penutupan sementara SPPG memberikan waktu bagi pihak berwenang untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Proses produksi dan distribusi makanan di unit tersebut akan ditinjau ulang. Langkah ini diambil demi melindungi kesehatan siswa yang menjadi penerima manfaat program.

Kejadian di Pariaman menambah catatan terkait pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di lapangan. Koordinasi antara pemerintah kota, dinas kesehatan, dan pengelola SPPG menjadi kunci dalam penanganan pascakejadian. Publik menunggu hasil investigasi yang dijanjikan Wali Kota. Perawatan terhadap 86 siswa dilakukan di sejumlah fasilitas kesehatan untuk memastikan pemulihan yang optimal. Orang tua siswa mendapatkan informasi berkala mengenai kondisi anak-anak mereka. Pendekatan yang terkoordinasi membantu menenangkan situasi di tengah kekhawatiran masyarakat. Secara keseluruhan, sebanyak 86 siswa di Pariaman diduga keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis pada 14 September 2026 dengan gejala pusing, mual, muntah, dan gatal-gatal. Pemkot Pariaman menutup sementara SPPG terkait, sementara Wali Kota Yota Balad dan Dinas Kesehatan akan melakukan investigasi serta pengujian laboratorium terhadap sampel makanan dan muntahan korban.