Memuat berita

Nasional

Transportasi Publik Jakarta Tembus 93 Persen, Pramono Soroti Lonjakan Peringkat Jakarta di Dunia

Fazlur Rahman · 30 September 2026 · 14:12 WIB · 2 dibaca
Transportasi Publik Jakarta Tembus 93 Persen, Pramono Soroti Lonjakan Peringkat Jakarta di Dunia

Foto: Antara News

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti perkembangan layanan transportasi publik di Ibu Kota yang disebut telah menjangkau lebih dari 93 persen wilayah Jakarta. Capaian tersebut disampaikan Pramono saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) Tingkat Provinsi DKI Jakarta 2026 di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (29/9/2026).

Pramono mengatakan peningkatan konektivitas transportasi publik menjadi salah satu bagian penting dalam perkembangan sistem transportasi Jakarta. Menurut dia, masyarakat kini semakin banyak beralih dari kendaraan pribadi ke berbagai moda transportasi umum yang tersedia di Ibu Kota.

"Alhamdulillah sekarang ini konektivitas transportasi publik di Jakarta sudah 93 persen lebih," kata Pramono dalam acara tersebut. Ia menyebut penggunaan sejumlah moda transportasi publik mengalami peningkatan rata-rata lebih dari 15 persen.

Layanan transportasi yang dimaksud mencakup sejumlah moda yang telah terintegrasi dalam jaringan transportasi Jakarta, antara lain MRT, LRT, TransJakarta, Transjabodetabek, Mikrotrans, dan layanan yang terhubung melalui JakLingko. Peningkatan penggunaan moda-moda tersebut menjadi salah satu indikator yang disoroti Pemerintah Provinsi DKI dalam pengembangan sistem transportasi massal.

Selain tingkat konektivitas, Pramono juga menyampaikan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap layanan transportasi publik tercatat mencapai 97,5 persen berdasarkan survei Litbang Kompas. Angka tersebut, menurut Pramono, menjadi gambaran mengenai respons masyarakat terhadap perkembangan layanan transportasi di Jakarta.

Perkembangan transportasi publik tersebut juga dikaitkan Pramono dengan posisi Jakarta dalam pemeringkatan kota dunia. Berdasarkan Global Cities Index 2026 yang diterbitkan Oxford Economics, Jakarta menempati peringkat ke-140 dari 1.000 kota yang dinilai.

Posisi tersebut meningkat cukup jauh dibandingkan 2024 ketika Jakarta berada di peringkat ke-287. Jakarta juga tercatat naik dari posisi ke-159 pada 2025 menjadi peringkat ke-140 pada 2026.

Oxford Economics dalam Global Cities Index 2026 menilai 1.000 kota berdasarkan lima kategori utama, yakni ekonomi, modal manusia atau human capital, kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola pemerintahan. Dengan demikian, posisi keseluruhan Jakarta dalam indeks tersebut tidak hanya ditentukan oleh sektor transportasi.

Dalam pemeringkatan 2026, Jakarta mencatat posisi yang relatif tinggi pada kategori human capital, yakni peringkat ke-23 dari 1.000 kota. Untuk kategori ekonomi, Jakarta berada di peringkat ke-59. Sementara itu, pada kategori tata kelola pemerintahan Jakarta berada di posisi ke-372, lingkungan di peringkat ke-553, dan kualitas hidup di peringkat ke-561.

Pramono mengatakan transportasi publik menjadi salah satu aspek yang menurutnya penting dalam perkembangan Jakarta sebagai kota global. Ia menilai peningkatan konektivitas transportasi memberikan dampak terhadap mobilitas masyarakat sekaligus mendukung aktivitas ekonomi dan sosial di wilayah metropolitan.

Di tingkat Indonesia, Jakarta juga menjadi kota dengan peringkat tertinggi dalam Global Cities Index 2026. Setelah Jakarta di posisi ke-140, Surabaya berada di peringkat ke-308, Medan di posisi ke-371, dan Bandung di peringkat ke-409.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih berupaya memperluas jaringan transportasi publik agar konektivitas antarmoda semakin terintegrasi. Salah satu proyek yang mendapat perhatian adalah pengembangan jaringan LRT Jakarta. Jalur Kelapa Gading-Manggarai yang telah beroperasi disebut menjadi bagian dari upaya memperkuat koneksi transportasi massal di dalam kota.

Pramono mengatakan penggunaan transportasi publik diperkirakan masih dapat meningkat apabila jaringan LRT nantinya diperluas menuju kawasan strategis seperti Dukuh Atas, Jakarta International Stadium (JIS), hingga Stasiun Whoosh Halim. Perluasan jaringan tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara berbagai simpul transportasi di Jakarta dan kawasan sekitarnya.

Capaian tersebut menjadi bagian dari agenda Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam membangun sistem transportasi yang tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah armada, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap layanan transportasi massal. Integrasi antar moda, peningkatan konektivitas, serta kemudahan perpindahan penumpang menjadi faktor penting dalam pengembangan sistem tersebut.

Meski demikian, pemeringkatan Oxford Economics menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah aspek yang menjadi ruang pengembangan Jakarta. Posisi Jakarta pada kategori kualitas hidup, lingkungan, dan tata kelola berada jauh di bawah peringkatnya pada kategori human capital dan ekonomi. Hal itu menunjukkan bahwa peningkatan posisi secara keseluruhan dalam indeks kota global berjalan bersama dengan tantangan pembangunan pada berbagai sektor.

Dengan cakupan transportasi publik yang disebut telah mencapai lebih dari 93 persen wilayah dan meningkatnya penggunaan sejumlah moda transportasi, Pemprov DKI Jakarta kini menghadapi tahap berikutnya, yakni mempertahankan kualitas layanan sekaligus memperluas konektivitas. Perkembangan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya Jakarta memperkuat perannya sebagai kota metropolitan dan pusat aktivitas ekonomi nasional.