Memuat berita

Nasional

Transjakarta Laut Dinilai Bisa Buka Akses Kepulauan Seribu, Akademisi UI Ingatkan Nasib Operator Lokal

Fazlur Rahman · 19 Oktober 2026 · 11:28 WIB · 2 dibaca
Transjakarta Laut Dinilai Bisa Buka Akses Kepulauan Seribu, Akademisi UI Ingatkan Nasib Operator Lokal

Foto: Beritajakarta.id

Rencana ekspansi PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) ke sektor transportasi perairan melalui layanan Transjakarta Laut dinilai berpotensi memperluas akses mobilitas masyarakat Kepulauan Seribu. Namun, pengembangan layanan tersebut perlu disertai perencanaan pembiayaan yang matang serta melibatkan pelaku transportasi lokal agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas tanpa mengesampingkan mata pencaharian masyarakat setempat.

Akademisi Universitas Indonesia (UI), Arry Rahmawan Destianto, menilai kehadiran Transjakarta Laut dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas antara wilayah kepulauan dan pusat aktivitas masyarakat di Jakarta. Bagi warga Kepulauan Seribu, transportasi laut memiliki peran penting dalam menunjang mobilitas sehari-hari, termasuk untuk mengakses pekerjaan, pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai kebutuhan lainnya.

Meski demikian, menurut Arry, pengembangan layanan baru tersebut tidak cukup hanya berfokus pada penyediaan armada dan perluasan rute. Pemerintah dan pengelola transportasi juga harus memastikan skema pembiayaan yang digunakan dapat menopang operasional layanan dalam jangka panjang.

Perencanaan anggaran menjadi salah satu aspek penting karena transportasi laut memiliki kebutuhan operasional yang berbeda dari layanan bus perkotaan. Pengelola perlu memperhitungkan biaya pengadaan dan perawatan kapal, kebutuhan bahan bakar, keselamatan pelayaran, tenaga kerja, hingga fasilitas pendukung di dermaga. Perhitungan tersebut diperlukan agar layanan dapat beroperasi secara berkelanjutan tanpa menimbulkan beban pembiayaan yang tidak terkelola.

Selain persoalan anggaran, Arry mengingatkan pentingnya memperhatikan dampak sosial dan ekonomi terhadap masyarakat lokal. Selama ini, pemilik kapal tradisional dan tenaga kerja transportasi laut menjadi bagian dari aktivitas mobilitas warga Kepulauan Seribu. Karena itu, masuknya operator baru berskala besar perlu dirancang dengan mempertimbangkan keberadaan pelaku usaha yang telah lebih dahulu melayani masyarakat.

Jika tidak direncanakan secara inklusif, ekspansi layanan baru berpotensi menimbulkan persaingan yang memengaruhi pendapatan operator lokal. Pemilik kapal tradisional dapat menghadapi tantangan apabila layanan baru menawarkan rute, tarif, atau fasilitas yang lebih menarik, sementara mereka memiliki keterbatasan modal dan sumber daya untuk bersaing.

Karena itu, pelibatan pelaku transportasi lokal dinilai penting sejak tahap perencanaan. Pemerintah dan Transjakarta dapat mengkaji berbagai bentuk kolaborasi, termasuk kemitraan operasional, pembagian peran dalam melayani rute tertentu, serta peluang keterlibatan tenaga kerja lokal. Skema tersebut perlu disesuaikan dengan hasil kajian dan ketentuan yang berlaku agar kerja sama dapat berjalan secara adil dan berkelanjutan.

Pengembangan Transjakarta Laut juga perlu mempertimbangkan pola perjalanan masyarakat Kepulauan Seribu. Penentuan rute dan jadwal idealnya didasarkan pada kebutuhan mobilitas warga, bukan semata-mata pada potensi wisata atau jumlah penumpang pada waktu tertentu. Ketersediaan layanan yang teratur dan dapat diandalkan menjadi faktor penting bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi laut untuk aktivitas sehari-hari.

Aspek keselamatan pelayaran pun harus menjadi prioritas. Pengoperasian kapal membutuhkan standar keselamatan, pemeliharaan armada, kesiapan awak, serta prosedur menghadapi perubahan kondisi cuaca dan gelombang. Fasilitas dermaga dan sistem informasi perjalanan juga perlu diperhatikan agar layanan dapat digunakan dengan aman dan nyaman.

Di sisi lain, keberadaan Transjakarta Laut berpotensi membuka peluang untuk meningkatkan keterhubungan antarpulau dan memperkuat akses masyarakat terhadap berbagai layanan publik. Jika dirancang sesuai kebutuhan, sistem transportasi yang lebih terintegrasi dapat membantu mengurangi hambatan perjalanan sekaligus mendukung kegiatan ekonomi warga.

Namun, manfaat tersebut perlu diukur melalui perencanaan yang jelas, termasuk kajian kebutuhan penumpang, kemampuan pembiayaan, dampak terhadap operator yang sudah ada, dan mekanisme evaluasi setelah layanan berjalan. Pelibatan masyarakat dalam proses perencanaan juga penting agar kebijakan yang diterapkan sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Pandangan Arry menegaskan bahwa pengembangan transportasi publik tidak hanya menyangkut pembangunan layanan baru, tetapi juga bagaimana layanan tersebut dikelola agar berkelanjutan dan memberikan manfaat yang merata. Dalam konteks Transjakarta Laut, keberhasilan ekspansi tidak cukup dinilai dari bertambahnya armada atau rute, melainkan juga dari kemampuannya memenuhi kebutuhan warga tanpa mengabaikan keberadaan pelaku transportasi lokal.

Dengan perencanaan pembiayaan yang matang, pengutamaan keselamatan, dan keterlibatan masyarakat setempat, Transjakarta Laut berpotensi menjadi bagian dari penguatan konektivitas Kepulauan Seribu. Tantangannya adalah memastikan modernisasi transportasi tersebut berjalan seiring dengan perlindungan mata pencaharian warga dan keberlanjutan usaha transportasi tradisional.