Musisi Sherina Munaf mengajak mahasiswa Universitas Palangka Raya (UPR), Kalimantan Tengah, untuk ikut bergotong royong membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sekitar area kampus. Ajakan tersebut disampaikan Sherina saat mengunjungi Universitas Palangka Raya dalam rangkaian kegiatannya bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) di Kalimantan Tengah. Kehadiran Sherina menjadi bagian dari upaya meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan lingkungan dan ancaman karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan.
Di hadapan mahasiswa, Sherina secara terbuka mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga lingkungan. Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah atau petugas pemadam, tetapi membutuhkan kepedulian dan kerja sama berbagai elemen masyarakat. Sherina menyoroti tantangan besar dalam memadamkan kebakaran yang terjadi di kawasan lahan gambut. Api di lahan gambut memiliki karakter berbeda dibandingkan kebakaran di permukaan tanah biasa karena dapat menjalar dan bertahan di bawah permukaan.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan tenaga dan waktu yang tidak sedikit. Petugas maupun masyarakat yang terlibat harus bekerja lebih keras untuk memastikan api benar-benar padam dan tidak kembali muncul dari bagian gambut yang masih menyimpan bara. Menurut Sherina, persoalan karhutla bukan hanya berkaitan dengan munculnya asap dan memburuknya kualitas udara. Kebakaran juga membawa dampak panjang terhadap ekosistem serta berbagai satwa yang bergantung pada kawasan hutan sebagai habitatnya.
Ia menyoroti hilangnya puluhan spesies burung akibat kerusakan habitat yang ditimbulkan kebakaran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan dapat memutus keseimbangan ekosistem serta mengancam keanekaragaman hayati yang menjadi salah satu kekayaan alam Indonesia. Kerusakan habitat juga dapat membuat satwa kehilangan tempat berlindung dan sumber makanan. Jika kebakaran berlangsung luas dan berulang, dampaknya tidak hanya dirasakan pada saat api berkobar, tetapi dapat berlanjut hingga bertahun-tahun setelah kebakaran terjadi. Karena itu, Sherina menilai keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya menjaga lingkungan. Mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki energi, pengetahuan, dan kepedulian terhadap isu sosial dinilai dapat mengambil peran dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.
Ajakan untuk bergotong royong memadamkan karhutla juga menjadi pesan bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Upaya penanganan kebakaran membutuhkan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, komunitas lingkungan, akademisi, hingga organisasi yang bergerak dalam konservasi. Keterlibatan Sherina bersama BOSF di Kalimantan Tengah juga memperlihatkan perhatian terhadap kondisi hutan dan satwa liar di wilayah tersebut. Kalimantan merupakan salah satu kawasan penting bagi keanekaragaman hayati Indonesia, termasuk habitat berbagai satwa yang keberadaannya terancam akibat kerusakan hutan.
Bagi Sherina, menjaga kekayaan alam Indonesia tidak cukup hanya dengan membicarakan pentingnya lingkungan. Kepedulian tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan nyata, termasuk membantu mencegah kebakaran, mendukung pemadaman ketika terjadi karhutla, serta menjaga habitat satwa agar tetap lestari. Karhutla yang terjadi di lahan gambut menjadi salah satu tantangan lingkungan yang membutuhkan penanganan serius. Selain mengancam kawasan hutan dan satwa, kebakaran juga dapat menghasilkan asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat serta mengganggu aktivitas warga.