Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengingatkan bahwa cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai dengan sendirinya. Menurutnya, target menjadikan Indonesia sebagai negara maju hanya akan menjadi ilusi apabila bangsa ini gagal melakukan transformasi secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan SBY saat memberikan orasi di Universitas Padjadjaran (Unpad), Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Selasa (13/10/2026). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya kepemimpinan nasional yang memiliki visi jangka panjang sekaligus kemampuan menerjemahkan visi tersebut menjadi perubahan nyata.
SBY menilai transformasi merupakan bagian mendasar dari perjalanan sebuah bangsa. Indonesia, menurutnya, tidak cukup hanya bergerak mengikuti perkembangan zaman, tetapi harus mampu melakukan perubahan besar agar dapat meningkatkan kapasitas nasional dan mencapai cita-cita sebagai negara maju.
“Kepemimpinan nasional haruslah visioner dan kemudian bisa melakukan transformasi. Transformasi itu kodrat,” kata SBY dalam orasinya.
Untuk menggambarkan pentingnya perubahan, SBY turut menceritakan perjalanan hidupnya sendiri. Ia mengingat bagaimana dirinya berangkat dari seorang anak desa di Pacitan, Jawa Timur, hingga kemudian meniti karier sebagai prajurit. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa perubahan dapat membuka jalan menuju pencapaian yang lebih besar apabila disertai keyakinan dan upaya yang berkelanjutan.
Ia kemudian menghubungkan pengalaman pribadinya dengan perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Menurut SBY, Indonesia tidak seharusnya hanya dipandang sebagai negara yang masih menunggu kesempatan untuk maju atau sekadar bangsa yang sedang bergerak menuju kemajuan. Indonesia perlu menjadi bangsa yang secara sadar menjalankan transformasi besar dalam berbagai bidang.
“I have to be sure (Saya harus yakin, red) transformasi dalam perjalanan hidup saya juga sukses begitu, demikian juga bangsa. Indonesia bukan nation in waiting, bukan hanya nation on the move tetapi bangsa yang menjalankan great transformations. Kalau kita gagal bertransformasi, Indonesia Emas 2045 itu ilusi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia Emas 2045 sangat bergantung pada kemampuan negara dan masyarakat melakukan perubahan yang mendasar. Pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga perlu diarahkan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan institusi, serta kemampuan menghadapi perubahan ekonomi, sosial, dan teknologi.
Meski menyampaikan peringatan tersebut, SBY tetap memandang cita-cita Indonesia menjadi negara maju pada abad ini masih dapat diwujudkan. Ia menilai Indonesia memiliki modal yang cukup baik untuk melangkah menuju tujuan tersebut. Namun, modal itu harus dikelola secara tepat melalui kebijakan yang konsisten, kepemimpinan yang berorientasi masa depan, dan pelaksanaan agenda pembangunan yang berkesinambungan.
SBY juga mengungkapkan visi besarnya untuk Indonesia menuju pertengahan abad ke-21, yakni membangun negara yang jauh lebih kuat. Menurutnya, bangsa Indonesia perlu memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depan yang ingin dicapai, bukan hanya berfokus pada target-target jangka pendek.
Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan nasional membutuhkan arah yang melampaui pergantian pemerintahan. Program dan kebijakan perlu dirancang dengan mempertimbangkan kepentingan generasi mendatang agar perubahan yang dilakukan hari ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Dalam orasinya, SBY turut menyoroti perbedaan orientasi antara politisi dan negarawan. Ia menilai seorang negarawan harus mampu memikirkan masa depan bangsa, bukan semata-mata mengutamakan kepentingan partai politik atau agenda elektoral.
Meski demikian, SBY tidak mempersoalkan apabila presiden, kepala daerah, maupun anggota dewan berharap dapat kembali terpilih dalam pemilihan umum. Menurutnya, keinginan tersebut merupakan hal yang wajar dalam kapasitas mereka sebagai politisi.
Namun, kepentingan untuk terpilih kembali perlu ditempatkan dalam kerangka tanggung jawab yang lebih luas. Kepemimpinan nasional, menurut pesan yang disampaikan SBY, tetap harus berorientasi pada kepentingan masyarakat dan keberlanjutan pembangunan, bukan hanya pada kepentingan politik jangka pendek.
Peringatan SBY mengenai Indonesia Emas 2045 menjadi relevan karena target tersebut bertepatan dengan satu abad kemerdekaan Indonesia. Ambisi besar itu menuntut lebih dari sekadar penetapan sasaran dan slogan pembangunan. Diperlukan transformasi yang nyata, kepemimpinan visioner, serta kesediaan untuk mengambil keputusan yang mendukung kepentingan bangsa dalam jangka panjang.
Pesan utama SBY dalam orasi di Unpad tersebut adalah bahwa masa depan Indonesia tidak cukup hanya ditunggu atau diharapkan. Cita-cita menjadi negara maju harus diupayakan melalui perubahan yang terarah dan berkelanjutan. Tanpa transformasi yang berhasil, Indonesia Emas 2045 berisiko berhenti sebagai sebuah harapan, bukan kenyataan yang dapat dirasakan oleh masyarakat.