Kutipan aktivis dan intelektual muda Soe Hok-gie tentang ambisi kembali relevan untuk direnungkan di tengah kehidupan sosial yang kerap diwarnai persaingan untuk mendapatkan jabatan, popularitas, pengaruh, maupun keuntungan pribadi.
“Saya jijik melihat orang-orang ambisius yang rela menginjak kepala teman-temannya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.”
Kalimat tersebut menggambarkan kritik tajam terhadap ambisi yang kehilangan batas moral. Ambisi pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Keinginan untuk berkembang, meraih keberhasilan, mendapatkan posisi yang lebih baik, atau memperbaiki kehidupan merupakan bagian dari dorongan manusia untuk maju.
Persoalan muncul ketika ambisi tersebut membuat seseorang menganggap orang lain hanya sebagai tangga untuk mencapai tujuan. Teman yang sebelumnya menjadi rekan seperjalanan berubah menjadi pesaing yang harus disingkirkan. Hubungan yang dibangun bertahun-tahun pun dapat dikorbankan hanya demi mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.
Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena semacam itu dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Ada orang yang mampu melihat keberhasilan temannya sebagai sesuatu yang patut dirayakan. Namun, ada pula yang justru merasa terancam ketika orang di sekitarnya berkembang lebih cepat.
Perasaan tersebut kemudian dapat berkembang menjadi persaingan yang tidak sehat. Keberhasilan orang lain dianggap sebagai ancaman terhadap posisi diri sendiri. Alih-alih ikut mendorong, seseorang justru mencari kelemahan, menyebarkan cerita buruk, mengambil kesempatan orang lain, atau membangun citra diri dengan menjatuhkan mereka yang berada di sekitarnya.
Padahal, keberhasilan tidak selalu harus diperoleh dengan mengorbankan orang lain. Seseorang dapat mencapai posisi tinggi tanpa harus mengkhianati teman, memanfaatkan kepercayaan, ataupun menghancurkan reputasi orang lain.
Justru cara seseorang mencapai keberhasilan sering kali lebih penting daripada sekadar posisi yang berhasil diraihnya. Jabatan dapat memberikan kekuasaan, uang dapat memberikan kenyamanan, dan popularitas dapat memberikan perhatian. Namun, semua itu tidak otomatis menghadirkan rasa hormat.
Rasa hormat dibangun dari karakter. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk memperoleh keuntungan dengan cara merugikan orang lain tetapi memilih untuk tetap menjaga integritas, di situlah kualitas dirinya terlihat.
Karakter seseorang memang tidak selalu terlihat ketika ia berada dalam posisi sulit. Dalam keadaan tidak memiliki kekuasaan, seseorang mungkin bersikap rendah hati karena memang tidak memiliki banyak pilihan. Namun, ketika kesempatan untuk berkuasa datang, pilihan yang dibuatnya akan memperlihatkan siapa dirinya sebenarnya.
Apakah ia akan menggunakan posisi tersebut untuk membantu orang lain, atau justru menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk memperbesar ego? Apakah ia akan mengingat orang-orang yang pernah membantunya, atau melupakan mereka setelah mencapai kedudukan yang diinginkan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi penting karena perjalanan menuju keberhasilan sering kali mempertemukan seseorang dengan berbagai pilihan moral. Ada kesempatan yang menguntungkan tetapi mengharuskan orang lain dirugikan. Ada jalan pintas yang dapat mempercepat pencapaian, tetapi mengorbankan kepercayaan.
Di titik itulah ambisi diuji.
Ambisi yang sehat seharusnya mendorong seseorang untuk bekerja lebih keras, meningkatkan kemampuan, dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik. Ambisi tidak harus berubah menjadi keinginan untuk melihat orang lain gagal.
Sebab, menjatuhkan orang lain tidak otomatis membuat seseorang menjadi lebih tinggi. Ketika seseorang memperoleh posisi melalui pengkhianatan, manipulasi, atau penghancuran orang lain, ia mungkin berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, keberhasilan tersebut dapat meninggalkan persoalan yang lebih panjang: hilangnya kepercayaan dan rusaknya hubungan.
Dalam lingkungan kerja maupun kehidupan sosial, reputasi juga tidak dibangun hanya dari pencapaian. Cara seseorang memperlakukan orang lain menjadi bagian penting dari penilaian terhadap dirinya. Seseorang mungkin memiliki jabatan tinggi, tetapi jika orang-orang di sekitarnya tidak lagi percaya kepadanya, posisi tersebut kehilangan sebagian dari nilainya.
Karena itu, menjadi sukses tidak harus berarti menjadi lebih tinggi dari orang lain. Keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika seseorang mampu naik tanpa perlu membuat orang lain jatuh.
Pada akhirnya, ambisi bukanlah musuh. Yang perlu dijaga adalah cara ambisi tersebut dijalankan. Mengejar cita-cita, menginginkan jabatan, memperoleh penghasilan lebih baik, atau ingin dikenal luas merupakan hal yang wajar. Namun, semua itu semestinya tidak menghilangkan empati dan rasa hormat kepada orang lain.
Pesan yang terkandung dalam kutipan Soe Hok-gie tersebut pada akhirnya sederhana tetapi tajam: jangan mengukur keberhasilan hanya dari seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai, tetapi juga dari bagaimana seseorang sampai ke sana.
Sebab, ketika untuk menjadi hebat seseorang harus menghancurkan orang lain, yang mungkin sebenarnya bertambah tinggi bukanlah derajatnya, melainkan egonya.