Salju abadi di Papua diprediksi akan lenyap pada 2027. Prediksi tersebut muncul seiring suhu di wilayah Pasifik yang diperkirakan mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah. Fenomena mencairnya lapisan es di ketinggian ekstrem ini menjadi alarm serius bagi dunia mengenai laju perubahan iklim. Hilangnya salju abadi di Puncak Jaya akan mengakhiri salah satu keajaiban alam terakhir di kawasan tropis. Menurut Badan Meteorologi Dunia, luas lapisan es terakhir di Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid hanya tersisa 0,1 kilometer persegi pada Juli 2025. Angka tersebut menunjukkan penyusutan yang sangat drastis dibandingkan kondisi beberapa dekade sebelumnya. Lapisan es yang pernah menjadi ciri khas gunung tertinggi di Indonesia kini hampir menghilang sepenuhnya. Data WMO menjadi rujukan utama dalam memprediksi akhir dari salju abadi tersebut.
Penjelajah asal Denmark, Klaus Thymann, yang merekam lapisan gletser terakhir di Carstensz pada 2025, menegaskan kondisi yang sudah kritis. “Hampir tidak ada es yang tersisa. Itu adalah fakta. Salju abadi akan segera lenyap,” kata Thymann. Pengamatannya di lapangan memperkuat temuan ilmiah mengenai kecepatan pencairan es di wilayah tersebut. Dokumentasi yang dihasilkannya menjadi bukti visual yang sulit terbantahkan. Hilangnya salju abadi di Puncak Jaya memiliki makna mendalam bagi masyarakat Papua. Gunung berlapis es tersebut sangat sakral dalam spiritualitas mereka dan menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya setempat. Kehilangan lapisan es berarti kehilangan salah satu simbol spiritual yang telah diwariskan lintas generasi. Dampaknya tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga kultural dan emosional.
Ironisnya, orang Papua hampir tidak berkontribusi apapun dalam menyebabkan pemanasan global yang kini mengancam keberadaan salju abadi mereka. Emisi karbon dari wilayah tersebut tergolong sangat minim dibandingkan negara-negara industri. Namun, dampak perubahan iklim justru paling terasa di kawasan yang paling sedikit menyumbang kerusakan. Ketimpangan ini semakin memperjelas ketidakadilan dalam krisis iklim global. Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid selama ini dikenal sebagai salah satu dari sedikit tempat di dunia yang memiliki gletser tropis. Keberadaan es di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut menjadi fenomena langka di kawasan khatulistiwa. Kini, sisa es seluas 0,1 kilometer persegi pada 2025 menandai fase akhir dari keistimewaan alam tersebut. Prediksi lenyapnya salju abadi pada 2027 semakin mendekati kenyataan.
Klaus Thymann melalui perekaman di lapangan pada 2025 memberikan kesaksian langsung mengenai kondisi gletser yang hampir habis. Pengamatannya sejalan dengan data Badan Meteorologi Dunia yang mencatat penyusutan ekstrem. Kombinasi data ilmiah dan dokumentasi lapangan memperkuat keyakinan bahwa waktu yang tersisa sangat terbatas. Dunia internasional pun semakin menyoroti nasib gletser terakhir di Papua. Masyarakat Papua akan menghadapi kehilangan yang sulit digantikan ketika salju abadi benar-benar lenyap. Gunung yang selama ini menjadi pusat spiritualitas dan kebanggaan budaya akan berubah wajah selamanya. Upaya dokumentasi dan pelestarian memori kolektif menjadi penting sebelum fenomena tersebut benar-benar menghilang. Generasi mendatang mungkin hanya akan mengenal Puncak Jaya tanpa lapisan es yang pernah menyelimutinya.
Prediksi lenyapnya salju abadi pada 2027 menjadi pengingat keras tentang dampak pemanasan global yang semakin nyata. Suhu di wilayah Pasifik yang diperkirakan mencapai rekor tertinggi mempercepat proses pencairan es di Puncak Jaya. Meski masyarakat Papua bukan penyebab utama, mereka justru menjadi pihak yang paling merasakan akibatnya. Situasi ini menuntut perhatian serius dari seluruh dunia terhadap isu keadilan iklim. Dengan sisa es yang hanya 0,1 kilometer persegi pada 2025, Puncak Jaya tengah menghampiri akhir era salju abadinya. Pernyataan Klaus Thymann semakin menegaskan fakta pahit tersebut. Hilangnya gunung berlapis es yang sakral bagi orang Papua akan menjadi duka ekologis dan kultural sekaligus. Dunia berpacu dengan waktu untuk menyaksikan dan merekam keajaiban alam yang sebentar lagi lenyap selamanya.