Teheran
Dalam suasana duka yang mendalam, para pelayat berpakaian serba hitam rela mengantre hingga 10 jam di bawah terik matahari musim panas Teheran. Suhu yang tinggi tidak menyurutkan tekad mereka untuk melihat peti jenazah Khamenei yang diselimuti bendera nasional Iran. Acara ini menandai hari pertama dari rangkaian pemakaman kenegaraan selama enam hari yang berlangsung hingga 9 Juli 2026.
Ayatollah Ali Khamenei, yang berusia 86 tahun, gugur akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026, di hari-hari awal konflik regional yang dikenal sebagai Perang Iran 2026. Kematiannya, bersama beberapa anggota keluarga, menjadi pukulan berat bagi bangsa Iran. Jenazahnya sempat ditunda pemakamannya selama hampir empat bulan karena situasi keamanan, sebelum akhirnya prosesi pemakaman kenegaraan digelar secara besar-besaran.
Peti jenazah Khamenei ditempatkan di lokasi utama Grand Mosalla, di samping husseiniyeh, dan menjadi pusat perhatian. Foto-foto yang dirilis media resmi Iran menunjukkan pejabat tinggi, tokoh agama, anggota milisi, serta delegasi asing dari Rusia, Pakistan, India, dan bahkan Arab Saudi yang hadir untuk memberikan penghormatan. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, yang kini menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi baru, juga muncul di publik untuk pertama kalinya sejak konflik.
Suasana di Grand Mosalla dipenuhi tangisan dan doa. Banyak pelayat yang datang dari berbagai penjuru Iran, termasuk kelompok-kelompok yang mengenakan pakaian tradisional dan membawa poster serta spanduk bertuliskan slogan-slogan penghormatan. Pihak penyelenggara memperkirakan antara 15 hingga 20 juta orang akan mengikuti seluruh rangkaian acara di Teheran, Qom, Najaf, Karbala, hingga pemakaman akhir di Mashhad pada 9 Juli.
Acara ini tidak hanya menjadi ungkapan duka mendalam, tetapi juga simbol ketahanan dan persatuan nasional di tengah ketegangan geopolitik. Pemerintah Iran menekankan bahwa pemakaman ini menjadi “acara terpenting abad ini” sejak Revolusi Islam 1979, sekaligus pesan tegas terhadap musuh-musuhnya. Prosesi selanjutnya akan mencakup pemindahan jenazah ke kota-kota suci Syiah di Irak dan akhirnya dimakamkan di Haram Imam Reza di Mashhad, kampung halaman Khamenei. Peristiwa ini menjadi sorotan dunia internasional, mencerminkan warisan panjang Khamenei sebagai pemimpin yang mendukung program nuklir sipil Iran, Axis of Resistance, serta kebijakan luar negeri yang anti-Israel dan anti-Zionis.