Dalam sebuah keputusan yang mengejutkan dan bersejarah, Raja Charles III memutuskan untuk tidak menjadikan Istana Buckingham sebagai kediaman utamanya meski renovasi megah senilai £369 juta (sekitar Rp7,8 triliun) telah rampung tahun depan. Keputusan ini secara resmi mengakhiri tradisi hampir 200 tahun di mana Buckingham Palace menjadi tempat tinggal utama para raja dan ratu Inggris sejak era Ratu Victoria pada 1837.
Menurut pengumuman dari akun resmi kerajaan yang dirilis Kamis lalu, Raja Charles dan Ratu Camilla akan tetap tinggal di Clarence House, kediaman pribadi mereka yang lebih kecil dan nyaman di London. Clarence House, yang terletak di dekat St James’s Palace, telah menjadi rumah Raja Charles sejak tahun 2003.
Renovasi Istana Buckingham yang dimulai sejak 2017 merupakan proyek besar untuk memperbaiki infrastruktur listrik, plumbing, dan pemanasan yang sudah usang. Meski demikian, pasangan kerajaan memilih tidak pindah demi “meningkatkan akses publik secara signifikan” terhadap istana tersebut.
Buckingham Palace akan terus berfungsi sebagai markas administratif monarki, tempat penyelenggaraan acara kenegaraan, jamuan resmi, audiensi, dan upacara seremonial. Bendera Kerajaan Raja Charles tetap akan dikibarkan di istana saat beliau berada di London. Namun, istana legendaris dengan 775 kamar itu kini lebih difokuskan sebagai “markas kerja” monarki daripada kediaman pribadi.
Seorang sumber kerajaan mengatakan keputusan ini diambil setelah “pertimbangan matang”. Clarence House dianggap lebih sesuai untuk kebutuhan sehari-hari pasangan kerajaan yang kini berusia lanjut. Istana Buckingham yang luas dan megah disebut-sebut kurang nyaman untuk kehidupan sehari-hari dibandingkan kediaman yang lebih intim.
Tradisi tinggal di Buckingham Palace dimulai ketika Ratu Victoria menjadikannya kediaman resmi pada 1837. Sejak saat itu, setiap monarki Inggris menempati istana tersebut, termasuk Ratu Elizabeth II yang tinggal di sana selama puluhan tahun sebelum lebih sering berada di Windsor Castle pada masa pandemi.
Keputusan Raja Charles ini juga memicu spekulasi tentang masa depan. Sumber dekat dengan Pangeran William menyebutkan bahwa putra mahkota itu juga tidak berencana menjadikan Buckingham sebagai kediaman utama keluarganya kelak. Hal ini menandakan pergeseran besar dalam cara monarki modern beroperasi: lebih efisien, hemat, dan berorientasi pada akses publik.
Keputusan ini menuai beragam reaksi. Bagi sebagian pihak, langkah ini dipandang sebagai langkah progresif yang mencerminkan semangat modernisasi Raja Charles. “Istana yang kosong dan seperti sekolah kosong tidak lagi sesuai untuk kehidupan kerajaan modern,” ujar seorang pakar kerajaan.
Sementara itu, sebagian lainnya merasa kehilangan karena Buckingham Palace bukan hanya simbol monarki, melainkan juga ikon budaya dan pariwisata Inggris yang ikonik. Namun, dengan rencana pembukaan lebih luas bagi publik, istana ini diharapkan tetap menjadi daya tarik utama bagi jutaan wisatawan setiap tahun.
Raja Charles III, yang naik takhta pada 2022, terus menunjukkan pendekatan yang berbeda dari pendahulunya. Dari komitmen terhadap lingkungan hingga efisiensi kerajaan, keputusan ini menjadi babak baru dalam sejarah panjang institusi monarki Inggris.
Clarence House tetap menjadi rumah bagi Raja dan Ratu, sementara Buckingham Palace akan terus menjadi simbol keagungan monarki—meski tanpa lagi menjadi tempat para raja “pulang ke rumah”.