Polisi Belgia menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa. Ratusan demonstran terlibat dalam aksi di Brussel dan Liege. Peristiwa berlangsung pada Sabtu (17/10/2026). Situasi di kedua kota tersebut sempat memanas. Aksi unjuk rasa dipicu oleh kenaikan biaya hidup yang membebani masyarakat. Salah satu isu spesifik yang diangkat adalah biaya pendaftaran universitas. Sebelumnya, para siswa sekolah menengah juga telah memprotes kebijakan serupa. Keresahan terhadap biaya pendidikan dan hidup menjadi pemicu utama.
Di kawasan Bourse, Brussel, terjadi konfrontasi langsung. Polisi menggunakan gas air mata terhadap sekelompok pemuda. Massa tersebut melemparkan botol dan benda lainnya ke arah aparat. Menurut jurnalis AFP, situasi di lokasi tersebut cukup tegang. Kepolisian Belgia melaporkan hasil penahanan di lapangan. Sekitar 10 orang telah ditangkap terkait kericuhan di Brussel. Proses identifikasi dan pemeriksaan terhadap para tertangkap tangan langsung dilakukan. Penegakan hukum menjadi bagian dari respons aparat.
Meskipun aksi unjuk rasa telah mendapatkan izin resmi, kekerasan tetap pecah. Polisi terpaksa menggunakan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran. Pemicunya adalah lemparan kembang api dan cairan mudah terbakar dari pihak massa. Langkah tegas diambil untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Kerusuhan di Brussel menimbulkan kerusakan material. Sejumlah tempat sampah terbakar akibat aksi massa. Skuter listrik juga menjadi sasaran dan ikut terbakar. Selain itu, kantor Partai Sosialis dilaporkan mengalami perusakan.
Sementara itu, di Liege yang terletak di wilayah timur Belgia, situasi serupa terjadi. Polisi mengerahkan meriam air untuk membubarkan kelompok demonstran. Jumlah massa di Liege relatif lebih kecil dibandingkan Brussel. Namun, ketegangan tetap terasa di lokasi tersebut. Kota Liege sebelumnya juga pernah diwarnai bentrokan. Insiden serupa terjadi sekitar 10 hari sebelum peristiwa Sabtu. Pola kericuhan yang berulang menunjukkan keresahan yang belum mereda. Aparat keamanan meningkatkan kewaspadaan di wilayah tersebut.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin memberikan penilaian resmi. Ia menyebut kerusuhan tersebut sebagai bentuk kekerasan yang terorganisasi. Pernyataan itu menegaskan bahwa aksi anarkis bukan semata-mata spontan. Otoritas melihat adanya pola yang terstruktur dalam kericuhan. Aksi protes ini berlangsung di tengah meningkatnya keresahan masyarakat. Biaya hidup yang terus naik menjadi keluhan utama. Biaya pendidikan, termasuk pendaftaran universitas, semakin memperberat beban. Demonstrasi menjadi saluran bagi warga untuk menyuarakan ketidakpuasan.
Penggunaan gas air mata dan meriam air di Brussel serta Liege menunjukkan eskalasi respons keamanan. Polisi berupaya mengendalikan situasi agar tidak meluas. Penangkapan sekitar 10 orang di Brussel menjadi langkah awal proses hukum. Kerusakan pada fasilitas umum dan kantor partai menjadi catatan tersendiri. Lemparan kembang api dan cairan mudah terbakar dari demonstran memicu respons lebih tegas. Meski aksi memiliki izin, tindakan berbahaya tersebut membuat polisi tidak ragu menggunakan kekuatan. Pembubaran dilakukan demi menjaga keselamatan publik dan mencegah kebakaran lebih luas. Ketertiban menjadi prioritas.
Keresahan terhadap biaya hidup dan pendidikan bukan isu baru di Belgia. Namun, gelombang protes yang berujung kekerasan menambah kompleksitas. Siswa sekolah menengah yang sebelumnya ikut bersuara menunjukkan bahwa isu ini menyentuh generasi muda. Tekanan ekonomi dirasakan lintas usia. Bernard Quintin dengan menyebut kekerasan terorganisasi ingin menyampaikan pesan tegas. Negara tidak akan membiarkan aksi destruktif berkedok demonstrasi. Penyelidikan terhadap dalang dan pelaku akan dilanjutkan. Penegakan hukum diharapkan memberikan efek jera.