Memuat berita

Nasional

Polisi Bantah M Siswa SD di Pemalang Dipalak, Ungkap Pemicu Kekerasan hingga Korban Meninggal

Fazlur Rahman · 07 Oktober 2026 · 19:02 WIB · 2 dibaca
Polisi Bantah M Siswa SD di Pemalang Dipalak, Ungkap Pemicu Kekerasan hingga Korban Meninggal

Foto: Kompas.id

Polisi membantah adanya aksi pemalakan terhadap M (7), siswa kelas II SDN 01 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sebelum korban mengalami kekerasan yang berujung pada meninggal dunia. Polisi menyebut kekerasan yang dialami M dipicu oleh rasa tersinggung dari para siswa yang diduga melakukan tindakan tersebut.

Wakil Kepala Kepolisian Resor Pemalang Komisaris Eddy Purnama Lilah mengatakan, peristiwa kekerasan terhadap M terjadi pada Sabtu, 12 September 2026, sekitar pukul 09.00 WIB. Kejadian berlangsung di lingkungan sekolah, tepatnya di sekitar toilet ketika para siswa tengah menjalani jam istirahat.

Keterangan polisi tersebut berbeda dengan informasi yang sebelumnya diterima Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Berdasarkan laporan yang diterima KPAI, M disebut sempat mengalami pemalakan dan kemudian dipukuli oleh kakak kelasnya.

Namun, polisi menyatakan tidak menemukan keterangan yang mengarah pada adanya pemalakan. Berdasarkan pemeriksaan terhadap saksi-saksi, polisi menyebut kekerasan tersebut bermula dari adanya persoalan yang membuat para pelaku tersinggung terhadap korban.

”Menurut penyampaian dari saksi-saksi, ada ketersinggungan sehingga dibalas dengan tindakan fisik,” kata Eddy, Selasa (6/10/2026).

Menurut Eddy, tindakan kekerasan tersebut kemudian menimbulkan sejumlah gangguan terhadap kondisi M. Korban juga disebut tidak dapat kembali menjalani kegiatan belajar mengajar seperti biasanya setelah peristiwa tersebut.

Kondisi M kemudian membutuhkan penanganan medis. Bocah berusia tujuh tahun itu sempat menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari akibat kondisi yang dialaminya.

Setelah mendapatkan perawatan, M kemudian dibawa pulang ke rumah. Namun, kondisi kesehatannya disebut tidak kunjung membaik. Kondisi korban terus menurun hingga akhirnya M meninggal dunia pada Rabu, 30 September 2026.

Kasus tersebut kini menjadi perhatian karena melibatkan seorang siswa sekolah dasar yang mengalami kekerasan di lingkungan pendidikan hingga berujung pada kematian. Perbedaan informasi mengenai pemicu kekerasan, termasuk soal dugaan pemalakan, juga menjadi bagian penting dalam pengungkapan perkara tersebut.

Polisi sejauh ini menekankan bahwa berdasarkan keterangan saksi yang telah diperoleh, kekerasan terhadap M bukan dipicu oleh aksi pemalakan, melainkan berawal dari ketersinggungan yang kemudian dibalas dengan tindakan fisik.

Kasus meninggalnya M juga menyoroti kembali pentingnya pengawasan terhadap interaksi antarsiswa di lingkungan sekolah. Peristiwa kekerasan yang terjadi saat jam sekolah, terlebih di area yang relatif jauh dari pengawasan langsung, menunjukkan pentingnya sistem pencegahan dan pengawasan agar tindakan perundungan maupun kekerasan terhadap anak dapat segera dicegah.

Penyelidikan terhadap rangkaian kejadian tersebut menjadi penting untuk memastikan secara terang bagaimana peristiwa pada 12 September 2026 terjadi, siapa saja yang terlibat, serta bagaimana kekerasan tersebut kemudian berdampak terhadap kondisi kesehatan M hingga akhirnya meninggal dunia.