Memuat berita

Nasional

Pertalite Langka di Bali, Antrean SPBU Mengular, Pertamina Minta Maaf

Fazlur Rahman · 19 Oktober 2026 · 11:38 WIB · 2 dibaca
Pertalite Langka di Bali, Antrean SPBU Mengular, Pertamina Minta Maaf

Foto: Sapanusa

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) dan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Bali pada pertengahan Oktober 2026 menjadi perhatian masyarakat. PT Pertamina (Persero) menyatakan kondisi tersebut dipicu kombinasi kendala teknis distribusi dan meningkatnya permintaan, terutama terhadap BBM bersubsidi jenis Pertalite.

Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Bali atas gangguan pasokan yang berdampak pada aktivitas warga. Perusahaan menjelaskan, keterlambatan distribusi terjadi setelah proses bongkar muat kapal tanker mengalami kendala teknis saat pemasangan jangkar.

Akibat kendala tersebut, jadwal distribusi yang semula direncanakan berlangsung pada pukul 06.30 WITA mundur hingga pukul 22.00 WITA. Pergeseran jadwal selama belasan jam itu membuat pasokan ke sejumlah SPBU tidak tiba sesuai perkiraan, sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi.

Situasi semakin berat karena konsumsi Pertalite di beberapa wilayah disebut meningkat sehingga stok di tingkat SPBU lebih cepat terkuras dibandingkan proyeksi normal. Sejumlah daerah yang terdampak antara lain Denpasar, Badung, Klungkung, Buleleng, dan Bangli.

Gangguan pasokan tersebut memicu antrean kendaraan yang mengular di sejumlah SPBU. Dalam beberapa laporan, panjang antrean bahkan mencapai sekitar satu kilometer, membuat pengendara harus menunggu lebih lama untuk mendapatkan BBM.

Dampak antrean juga dilaporkan menimbulkan kondisi yang mengkhawatirkan. Seorang warga di Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, disebut sempat pingsan setelah kelelahan ketika mengantre. Insiden itu menggambarkan bagaimana keterlambatan pasokan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama ketika kebutuhan pengisian bahan bakar tidak bisa segera terpenuhi.

Menanggapi kondisi tersebut, Pertamina berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Bali dan Kepolisian Daerah Bali untuk mempercepat pemulihan distribusi. Langkah yang disiapkan mencakup percepatan penyaluran BBM dari depo, penambahan pasokan secara bertahap, serta pengaturan operasional SPBU di sejumlah lokasi strategis.

Sejumlah SPBU di Denpasar dan Badung juga diarahkan untuk melayani masyarakat selama 24 jam. Kebijakan ini diharapkan dapat memperluas waktu pelayanan dan membantu mengurai antrean, terutama di wilayah dengan permintaan tinggi.

Pertamina turut menekankan pentingnya penyampaian informasi yang transparan mengenai ketersediaan stok di setiap SPBU. Informasi yang jelas diharapkan membantu masyarakat menentukan lokasi pengisian bahan bakar, mengurangi penumpukan kendaraan, dan mencegah kepanikan akibat ketidakpastian pasokan.

Pemulihan pasokan tidak hanya bergantung pada penambahan BBM, tetapi juga pada kelancaran proses distribusi dari depo hingga ke SPBU. Karena itu, koordinasi antara Pertamina, pemerintah daerah, dan kepolisian diperlukan agar penyaluran berjalan lebih teratur serta kondisi di lapangan dapat dipantau secara langsung.

Peristiwa ini juga menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi kendala logistik yang dapat menghambat distribusi energi. Ketika jadwal kapal tanker berubah, dampaknya dapat menjalar ke persediaan di SPBU, terlebih apabila permintaan masyarakat sedang meningkat. Antisipasi terhadap gangguan serupa menjadi penting agar keterlambatan tidak berkembang menjadi antrean panjang dan gangguan layanan yang lebih luas.

Di sisi masyarakat, Pertamina mengharapkan warga mengikuti informasi resmi mengenai kondisi pasokan dan pelayanan SPBU. Pengendara juga perlu mempertimbangkan informasi ketersediaan BBM sebelum menuju lokasi pengisian untuk menghindari antrean yang tidak perlu.

Pertamina menyatakan langkah percepatan distribusi dan penambahan pasokan dilakukan untuk menormalkan kembali kondisi di Bali. Meski demikian, pemulihan perlu dipastikan melalui ketersediaan BBM yang konsisten di SPBU terdampak, bukan sekadar perubahan jadwal distribusi atau penambahan layanan sementara.

Masyarakat kini menantikan kepastian pasokan agar aktivitas harian, mobilitas warga, serta kegiatan usaha tidak terus terganggu. Evaluasi terhadap kendala bongkar muat dan pola permintaan juga menjadi penting agar distribusi BBM di Bali dapat berlangsung lebih andal pada masa mendatang.