Memuat berita

Nasional

"Makan Tabungan" Berlanjut, Rata-Rata Saldo Warga RI Kini Terendah dalam 7 Tahun Terakhir

Rizqi Akbar Sadly · 07 Agustus 2026 · 15:35 WIB · 4 dibaca
"Makan Tabungan" Berlanjut, Rata-Rata Saldo Warga RI Kini Terendah dalam 7 Tahun Terakhir

Foto: Istimewa

Fenomena masyarakat yang menggerus tabungannya sendiri, atau yang belakangan populer disebut "makan tabungan" (mantab), rupanya masih terus terjadi di Indonesia. Riset terbaru Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) mengungkap bahwa rata-rata saldo tabungan masyarakat kini berada di titik terendah dalam tujuh tahun terakhir, menandakan tekanan ekonomi yang kian membebani kantong warga, khususnya kelompok menengah ke bawah.


Berdasarkan data yang dipaparkan Perbanas, tren penurunan ini sudah berlangsung sejak 2018. Kala itu, nominal rata-rata simpanan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta masih berada di angka Rp3,1 juta per rekening. Namun angka tersebut terus menyusut hingga menjadi Rp1,8 juta per rekening pada 2024, dan kembali merosot menjadi Rp1,7 juta per rekening hingga Mei 2026. Chief Economist Perbanas, Winang Budoyo, menyebut penurunan ini menjadi indikasi nyata bahwa kebutuhan hidup masyarakat kini bergerak jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan mereka mengumpulkan tabungan.


"Artinya, lebih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi dibandingkan kemampuan mereka untuk mengakumulasi tabungan. Di situlah muncul fenomena yang kami sebut sebagai 'makan tabungan'," ujar Winang dalam forum Kelas Jurnalis Perbanas (KJP) di Jakarta, Kamis (30/7/2026). Ia menambahkan, meski jumlah rekening dan total dana simpanan pada segmen ini secara keseluruhan masih tumbuh, nilai simpanan yang tersisa pada masing-masing rekening individu justru terus tergerus dari waktu ke waktu.


Ironisnya, kondisi ini berbanding terbalik dengan kelompok nasabah bermodal besar. Data Perbanas menunjukkan rata-rata saldo rekening simpanan di atas Rp5 miliar justru melonjak dari Rp27,62 miliar pada 2018 menjadi Rp38,77 miliar per Mei 2026. Kenaikan ini turut didorong oleh maraknya perpindahan dana ke rekening berdenominasi dolar Amerika Serikat, yang jumlah rekeningnya melesat hingga 185,5 persen secara tahunan, seiring pelemahan nilai tukar rupiah dan upaya kelompok berpunya melindungi nilai aset mereka.


Namun, di tengah sorotan publik terhadap fenomena "makan tabungan" tersebut, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) justru membantah adanya gejala tersebut. Berdasarkan data LPS hingga Juni 2026, nominal simpanan pada kelompok di bawah Rp100 juta masih mencatatkan pertumbuhan sebesar 2,1 persen secara bulanan dan 5,2 persen secara tahunan, dengan total mencapai Rp1.166,76 triliun. LPS menegaskan bahwa seluruh kelompok simpanan, tanpa terkecuali, masih mencatat pertumbuhan positif secara tahunan hingga periode tersebut.


Perbedaan pandangan antara Perbanas dan LPS ini pun menyisakan pekerjaan rumah bagi para pemangku kebijakan untuk membaca kondisi riil di lapangan. Sebab, di balik angka pertumbuhan agregat yang tampak positif, tren penurunan saldo rata-rata per rekening tetap menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan begitu saja—terutama bagi jutaan warga kelas menengah ke bawah yang tengah berjuang menjaga ketahanan finansial mereka di tengah tekanan biaya hidup yang kian meningkat.