Memuat berita

Nasional

Lima Bulan Disandera Perompak Somalia, 4 ABK WNI MT Honour-25 Akhirnya Bebas dan Pulang

Fazlur Rahman · 06 Oktober 2026 · 21:16 WIB · 2 dibaca

Empat anak buah kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia (WNI) yang menjadi korban penyanderaan perompak Somalia akhirnya berhasil dibebaskan setelah lebih dari lima bulan berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Keempatnya merupakan awak kapal tanker MT Honour-25 yang dibajak dalam perjalanan menuju Mogadishu, Somalia.

Keempat WNI tersebut dijadwalkan tiba di Indonesia pada Selasa (6/10/2026), setelah sebelumnya menjalani proses pemulangan yang dikawal langsung oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Kapal MT Honour-25 diketahui membawa sekitar 18.500 barel minyak ketika dibajak pada 21 April 2026. Saat itu, kapal tersebut mengangkut 17 awak dari sejumlah negara dan tengah menjalankan pelayaran menuju Mogadishu.

Peristiwa pembajakan tersebut kemudian membuat seluruh awak kapal berada dalam situasi penyanderaan selama berbulan-bulan. Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik terus memantau perkembangan kondisi keempat WNI yang berada di antara awak kapal tersebut.

Upaya pembebasan akhirnya membuahkan hasil pada 29 September 2026. Aparat Puntland melakukan operasi untuk membebaskan para awak kapal yang masih berada dalam penguasaan kelompok perompak.

Namun, proses pembebasan tersebut berlangsung dalam situasi yang sangat berbahaya. Operasi aparat Puntland diwarnai baku tembak dan menyebabkan sejumlah awak kapal menjadi korban.

Lima ABK dilaporkan meninggal dunia dalam operasi tersebut. Mereka terdiri atas tiga warga negara Pakistan, satu warga India, dan satu warga Myanmar. Sejumlah awak lainnya juga mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Di tengah situasi tersebut, empat WNI berhasil diselamatkan dan kemudian berada dalam pendampingan Pemerintah Indonesia. Keselamatan mereka menjadi prioritas sebelum proses pemulangan ke Tanah Air dilakukan.

Duta Besar RI untuk Nairobi T.B.H. Witjaksono Adji bersama tim Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Nairobi dan Direktorat Pelindungan WNI Kementerian Luar Negeri turun langsung ke Garowe, Puntland, untuk memastikan kondisi keempat WNI tersebut.

Pendampingan dilakukan tidak hanya untuk memastikan keselamatan dan kondisi mereka setelah melalui masa penyanderaan yang panjang, tetapi juga untuk mengawal seluruh proses administrasi serta perjalanan mereka hingga kembali ke Indonesia.

Pembebasan tersebut menjadi titik akhir dari masa panjang yang penuh tekanan bagi keempat WNI. Selama lebih dari lima bulan, mereka berada dalam situasi yang tidak menentu setelah kapal yang mereka tumpangi dibajak di perairan Somalia.

Pemerintah Indonesia kemudian memastikan keempatnya tidak langsung dilepas begitu saja setelah operasi pembebasan. Mereka mendapatkan pendampingan dari aparat dan perwakilan pemerintah Indonesia sebelum dipulangkan ke Tanah Air.

Kehadiran langsung Dubes RI Nairobi bersama tim KBRI Nairobi di Garowe juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani kasus yang melibatkan WNI di luar negeri, khususnya ketika menyangkut keselamatan awak kapal yang menjadi korban kejahatan bersenjata dan penyanderaan.

Bagi keluarga para ABK, kepulangan tersebut tentu menjadi kabar yang sangat dinantikan setelah berbulan-bulan menghadapi ketidakpastian mengenai kondisi orang-orang terdekat mereka. Pembebasan keempat WNI menjadi kabar lega di tengah tragedi yang menewaskan sejumlah awak kapal lainnya.

Kasus MT Honour-25 juga kembali memperlihatkan risiko yang dapat dihadapi para pelaut ketika menjalankan pekerjaan di wilayah dengan ancaman keamanan tinggi. Pembajakan kapal dan penyanderaan awak menjadi ancaman serius yang dapat mengubah perjalanan pelayaran menjadi situasi darurat dalam sekejap.

Kini, setelah berhasil dibebaskan, fokus pemerintah adalah memastikan keempat WNI dapat kembali ke Tanah Air dengan aman. Pemerintah juga perlu memastikan mereka memperoleh pendampingan yang diperlukan setelah melewati pengalaman penyanderaan dan operasi pembebasan yang diwarnai baku tembak.

Kepulangan empat ABK WNI MT Honour-25 menjadi akhir dari penantian panjang selama lebih dari lima bulan. Mereka akhirnya dapat meninggalkan Puntland dan kembali menuju Indonesia, setelah perjalanan yang dimulai dengan misi mengantarkan muatan minyak berubah menjadi salah satu pengalaman paling berat dalam kehidupan mereka.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia terus memberikan perhatian terhadap perkembangan kasus tersebut, termasuk kondisi para awak kapal lainnya yang menjadi korban. Tragedi pembajakan MT Honour-25 menyisakan duka setelah lima ABK tewas, tetapi pembebasan empat WNI memberikan harapan bahwa mereka kini dapat kembali berkumpul dengan keluarga setelah melalui masa penyanderaan yang panjang.