Memuat berita

Berita International

Kekeringan Ekstrem Landa Eropa, Sungai Danube Menyusut Drastis hingga Bangkai Kapal Perang Nazi Muncul ke Permukaan

Devi Sry Atmaja · 04 Agustus 2026 · 23:30 WIB · 2 dibaca
Kekeringan Ekstrem Landa Eropa, Sungai Danube Menyusut Drastis hingga Bangkai Kapal Perang Nazi Muncul ke Permukaan

Foto: AP Photo

Jakarta – Gelombang panas dan kekeringan ekstrem yang melanda Eropa kembali memicu krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Salah satu sungai terbesar di benua tersebut, Sungai Danube, mengalami penyusutan debit air secara signifikan hingga memunculkan bangkai kapal perang era Nazi yang selama puluhan tahun terkubur di dasar sungai.

Fenomena ini terjadi di sejumlah titik Sungai Danube, khususnya di wilayah Serbia, ketika permukaan air turun drastis akibat minimnya curah hujan dan suhu udara yang terus meningkat sepanjang musim panas. Kapal-kapal yang muncul diketahui merupakan armada Jerman Nazi yang sengaja ditenggelamkan pada 1944 saat pasukan Nazi mundur dari wilayah Balkan menjelang akhir Perang Dunia II.

Kemunculan bangkai kapal tersebut menjadi bukti nyata dampak kekeringan ekstrem yang kini melanda kawasan Eropa. Selain menjadi pengingat sejarah, keberadaan kapal-kapal itu juga menimbulkan kekhawatiran baru karena sebagian masih menyimpan amunisi dan bahan peledak yang berpotensi membahayakan aktivitas pelayaran.

Kondisi Sungai Danube diperkirakan akan semakin memburuk dalam beberapa pekan ke depan. Debit aliran sungai diproyeksikan turun hingga di bawah 1.400 meter kubik per detik sepanjang Agustus, angka yang bahkan lebih rendah dibandingkan rekor terendah yang pernah tercatat sebelumnya. Penurunan debit tersebut menyebabkan jalur pelayaran utama di Eropa Tengah dan Timur terganggu karena kapal-kapal kargo tidak dapat beroperasi dengan muatan penuh.

Gangguan transportasi sungai ini diperkirakan berdampak pada distribusi berbagai komoditas penting, mulai dari hasil pertanian, batu bara, hingga bahan bakar. Biaya logistik pun berpotensi meningkat akibat terbatasnya kapasitas angkut kapal yang harus menyesuaikan kedalaman sungai. Tidak hanya menghambat aktivitas pelayaran, krisis air juga mulai memengaruhi sektor energi di sejumlah negara yang dilintasi Sungai Danube.

Di Hongaria, operator Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Paks terpaksa memangkas hingga 50 persen produksi listrik dari Reaktor 2. Pengurangan kapasitas dilakukan karena berkurangnya pasokan air yang dibutuhkan sebagai sistem pendingin reaktor. Sementara itu, Rumania juga mengambil langkah serupa dengan menghentikan operasional dua reaktor di PLTN Cernavoda. Keputusan tersebut diambil sebagai upaya menjaga keselamatan operasional pembangkit di tengah menurunnya debit air Sungai Danube yang menjadi sumber utama pendinginan fasilitas tersebut.

Fenomena menarik sekaligus mengkhawatirkan juga terjadi di Bulgaria. Surutnya permukaan Sungai Danube mengungkap sisa-sisa mammoth purba yang selama ribuan tahun terkubur di dasar sungai. Penemuan tersebut menarik perhatian para arkeolog karena memberikan gambaran baru mengenai sejarah geologi dan kehidupan prasejarah di kawasan tersebut.

Meski demikian, para ilmuwan menilai temuan-temuan bersejarah yang muncul akibat surutnya air bukanlah kabar baik. Justru sebaliknya, fenomena tersebut menjadi indikator bahwa perubahan iklim telah memicu kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi dan berdampak luas terhadap lingkungan, ekonomi, hingga ketahanan energi.

Para pakar iklim memperingatkan bahwa gelombang panas berkepanjangan dan berkurangnya curah hujan diperkirakan akan membuat kekeringan di Eropa semakin parah apabila tidak diimbangi dengan upaya mitigasi perubahan iklim. Sungai-sungai besar yang selama ini menjadi urat nadi transportasi, pertanian, dan pembangkit listrik kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Krisis di Sungai Danube menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya dirasakan melalui meningkatnya suhu global, tetapi juga mengancam berbagai sektor vital yang menopang kehidupan masyarakat. Dari terganggunya distribusi logistik, berkurangnya pasokan listrik, hingga munculnya kembali artefak sejarah yang lama terkubur, seluruhnya menjadi gambaran nyata bagaimana perubahan iklim mengubah wajah Eropa secara perlahan namun signifikan.