Memuat berita

Football

Erick Thohir Ultimatum Suporter Sepak Bola, PSSI Ancam Kembali Larang Suporter Tandang

Fazlur Rahman · 14 Oktober 2026 · 17:06 WIB · 3 dibaca
Erick Thohir Ultimatum Suporter Sepak Bola, PSSI Ancam Kembali Larang Suporter Tandang

Foto: CNN INDONESIA

Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), Erick Thohir, memberikan ultimatum kepada operator kompetisi dan klub-klub sepak bola Indonesia untuk segera mengambil langkah konkret dalam mencegah kekerasan antarsuporter. Jika tidak ada kesepakatan dalam waktu satu pekan, PSSI membuka kemungkinan kembali memberlakukan larangan kehadiran suporter tim tamu atau suporter tandang dalam pertandingan liga.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Erick pada Selasa (13/10/2026), menyusul dua insiden kekerasan yang melibatkan kelompok suporter dalam waktu berdekatan. Insiden pertama berupa penyerangan terhadap rombongan tim Elite Pro Academy (EPA) Persib Bandung U-18 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tidak lama berselang, rombongan suporter Persija Jakarta dari kelompok The Jakmania Cikampek juga dilaporkan menjadi korban penyerangan di ruas Tol Palikanci, Cirebon.

Erick menilai rangkaian kejadian tersebut tidak dapat dipandang sebagai perselisihan biasa antarpendukung klub. Menurutnya, tindakan menyerang rombongan tim, merusak kendaraan, maupun melakukan kekerasan terhadap kelompok suporter lain sudah mengarah pada persoalan kriminalitas yang harus ditangani secara serius.

“Saya akan kasih kesempatan liga dan klub untuk bersepakat satu minggu ini. Kalau tidak ada kesepakatan, PSSI akan intervensi,” ujar Erick, sebagaimana diberitakan ANTARA.

Ia juga menegaskan bahwa larangan suporter tandang dapat kembali diterapkan apabila operator liga dan klub tidak mampu menjamin keamanan dalam penyelenggaraan kompetisi. 

Insiden pertama yang menjadi sorotan terjadi pada Minggu (11/10/2026) malam di Rest Area KM 360 Tol Batang, Jawa Tengah. Rombongan tim EPA Persib Bandung U-18 dilaporkan diserang oleh sejumlah orang yang diduga merupakan oknum suporter. Bus yang membawa rombongan mengalami kerusakan, sementara sejumlah barang milik pemain dan ofisial dilaporkan hilang atau dijarah.

Erick mengecam keras aksi tersebut, terlebih karena rombongan yang menjadi sasaran merupakan tim kelompok usia muda. Ia menilai keselamatan pemain, ofisial, dan seluruh pihak yang terlibat dalam kompetisi harus menjadi tanggung jawab bersama, bukan hanya ketika pertandingan berlangsung di stadion, tetapi juga selama perjalanan menuju dan dari lokasi pertandingan.

Menurut Erick, tindakan membawa benda tumpul untuk menyerang atau merusak kendaraan tidak lagi dapat dianggap sebagai bentuk dukungan terhadap klub. Perbuatan semacam itu harus ditangani melalui proses hukum dan tidak boleh dibiarkan menjadi bagian dari budaya sepak bola Indonesia.

Belum reda perhatian terhadap penyerangan di Batang, insiden berikutnya menimpa rombongan The Jakmania Cikampek di Tol Palikanci KM 200, Cirebon, pada Senin (12/10/2026) dini hari. Rombongan tersebut diketahui sedang dalam perjalanan pulang setelah mendukung Persija Jakarta bertanding melawan PSIM Yogyakarta.

Kendaraan rombongan suporter Persija dilaporkan menjadi sasaran pelemparan benda keras. Kejadian tersebut menambah kekhawatiran mengenai keselamatan suporter yang melakukan perjalanan untuk mendukung tim kesayangannya di luar daerah.

Erick mengingatkan agar insiden penyerangan tidak dibalas dengan aksi kekerasan serupa. Ia menegaskan bahwa siapa pun yang melakukan penyerangan harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tanpa memandang klub yang didukung ataupun latar belakang kelompok suporternya. 

Selain kemungkinan melarang suporter tandang, Erick juga mendorong penerapan sanksi yang lebih berat terhadap klub yang terbukti gagal menjaga ketertiban pendukungnya. Salah satu opsi yang disoroti adalah pengurangan poin dalam kompetisi.

Menurutnya, ancaman sanksi tersebut perlu menjadi dorongan bagi klub untuk membangun sistem pembinaan suporter yang lebih bertanggung jawab. Klub dan operator liga diharapkan tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan pertandingan, tetapi juga memiliki mekanisme pencegahan kekerasan serta koordinasi keamanan yang jelas.

PSSI memberikan waktu satu pekan kepada I.League selaku operator kompetisi bersama klub-klub untuk membahas dan menyepakati langkah-langkah pengamanan. Kesepakatan itu diharapkan mencakup tanggung jawab klub, pengendalian perilaku suporter, koordinasi dengan aparat keamanan, serta prosedur untuk melindungi rombongan tim dan pendukung ketika melakukan perjalanan.

Kebijakan suporter tandang sebelumnya telah dibatasi selama hampir empat tahun sebelum kehadiran pendukung tim tamu mulai kembali diperbolehkan secara bertahap. Menurut Erick, munculnya kembali insiden kekerasan setelah pelonggaran kebijakan tersebut menjadi alasan bagi PSSI untuk mengevaluasi penerapannya.

Meski demikian, keputusan mengenai pembatasan suporter tandang belum dinyatakan berlaku kembali secara menyeluruh. PSSI masih memberikan kesempatan kepada operator liga dan klub untuk menyepakati langkah pencegahan yang dinilai mampu menjamin keselamatan seluruh pihak.

Penanganan kasus-kasus kekerasan tersebut juga memerlukan proses hukum yang transparan. Pihak kepolisian perlu mengusut dugaan penyerangan, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, serta memproses mereka sesuai ketentuan hukum apabila terbukti melakukan pelanggaran.

Di sisi lain, kelompok suporter diharapkan dapat memperkuat komitmen untuk mendukung klub secara tertib dan tidak terlibat dalam aksi intimidasi maupun kekerasan. Rivalitas di lapangan semestinya tidak berubah menjadi ancaman terhadap keselamatan pemain, ofisial, dan masyarakat.

Bagi PSSI, tantangan utama saat ini adalah memastikan kompetisi sepak bola dapat berlangsung dengan aman, baik di dalam stadion maupun di luar arena pertandingan. Hasil pembahasan antara operator liga dan klub dalam waktu satu pekan ke depan akan menjadi salah satu penentu langkah lanjutan yang akan diambil federasi.

Erick menegaskan bahwa keselamatan suporter harus menjadi tanggung jawab bersama. Jika kesepakatan tidak tercapai dan insiden kekerasan terus berulang, PSSI siap mempertimbangkan intervensi, termasuk kembali melarang suporter tandang dan mendorong sanksi pengurangan poin bagi klub yang terbukti gagal menjaga pendukungnya.