Memuat berita

Football

Bus The Jakmania Cikampek Dilempari Batu di Tol Palikanci, Perempuan dan Balita Alami Trauma

Fazlur Rahman · 13 Oktober 2026 · 16:05 WIB · 2 dibaca
Bus The Jakmania Cikampek Dilempari Batu di Tol Palikanci, Perempuan dan Balita Alami Trauma

Foto: Bolaskor.com

Rombongan suporter Persija Jakarta, The Jakmania wilayah Cikampek, mengalami insiden penyerangan saat perjalanan pulang setelah menyaksikan pertandingan melawan PSIM Yogyakarta. Bus yang mereka tumpangi menjadi sasaran pelemparan benda keras di Tol Palikanci KM 200, Cirebon, Jawa Barat, pada Senin (12/10/2026) dini hari. Peristiwa tersebut menyebabkan sejumlah anggota mengalami luka fisik dan meninggalkan trauma psikologis bagi penumpang, termasuk perempuan, bayi, dan balita. <Cite refs={["turn186524search0","turn186524search1"]}/>

Rombongan The Jakmania Cikampek sebelumnya bertolak ke Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk memberikan dukungan langsung kepada Persija Jakarta yang menghadapi PSIM Yogyakarta di Stadion Sultan Agung pada Sabtu (10/10/2026). Dalam pertandingan tersebut, Persija berhasil meraih kemenangan 4-0 atas tuan rumah.

Namun, perjalanan pulang para suporter tidak berjalan aman. Saat melintasi ruas Tol Palikanci, bus yang membawa rombongan tersebut dilaporkan menjadi sasaran pelemparan oleh orang-orang yang belum diketahui identitasnya. Benda keras yang dilemparkan mengenai bus hingga menyebabkan sejumlah bagian kaca mengalami kerusakan.

Insiden itu tidak hanya menimbulkan kerusakan pada kendaraan, tetapi juga berdampak langsung terhadap keselamatan penumpang. Sejumlah anggota The Jakmania Cikampek dilaporkan mengalami luka-luka, termasuk seorang anggota perempuan. Keberadaan bayi dan balita di dalam rombongan turut menjadi perhatian karena aksi tersebut juga dilaporkan menimbulkan trauma psikologis bagi penumpang yang menyaksikannya.

Melalui pernyataan resmi yang disampaikan pada Senin (12/10/2026), The Jakmania Cikampek mengecam keras tindakan pelemparan tersebut. Mereka menilai kekerasan terhadap rombongan suporter yang sedang melakukan perjalanan pulang merupakan tindakan yang membahayakan keselamatan dan tidak dapat dibenarkan dalam konteks apa pun.

Pengurus The Jakmania Cikampek menyatakan bahwa perhatian utama mereka saat ini adalah memastikan anggota yang mengalami luka-luka mendapatkan perawatan. Penanganan korban menjadi prioritas setelah insiden yang membuat perjalanan pulang para suporter berubah menjadi pengalaman traumatis.

Selain memastikan kondisi para korban, pengurus juga menyampaikan imbauan kepada seluruh anggota agar tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Mereka meminta para suporter, khususnya di wilayah Cikampek, untuk menahan diri serta tidak melakukan tindakan balasan yang berpotensi memperluas konflik.

Imbauan tersebut dinilai penting untuk mencegah insiden serupa berkembang menjadi aksi saling serang antarkelompok suporter. Kekerasan yang dibalas dengan kekerasan justru berisiko menambah jumlah korban dan membuat situasi semakin sulit dikendalikan.

Pengurus Pusat The Jakmania turut menyoroti kejadian tersebut dan mendesak agar kasusnya diusut secara tuntas serta ditangani secara adil. Mereka menegaskan bahwa keselamatan manusia harus menjadi prioritas, tanpa membedakan identitas, afiliasi klub, maupun latar belakang pihak yang menjadi korban.

Dalam sikap resminya, The Jakmania menekankan bahwa rivalitas sepak bola tidak boleh dijadikan alasan untuk melakukan tindakan yang membahayakan orang lain. Dukungan terhadap klub seharusnya diwujudkan melalui semangat olahraga, bukan melalui kekerasan terhadap suporter yang memiliki afiliasi berbeda.

Insiden di Tol Palikanci ini kembali menyoroti persoalan keamanan dalam perjalanan suporter, terutama ketika rombongan melintasi jalur antarkota setelah pertandingan. Keberadaan perempuan dan anak-anak di dalam bus memperlihatkan bahwa dampak aksi kekerasan tidak hanya dirasakan oleh mereka yang terlibat langsung dalam rivalitas, tetapi juga oleh penumpang yang ikut dalam perjalanan.

Kasus ini juga mengingatkan bahwa keamanan suporter perlu mendapat perhatian di luar stadion. Perjalanan menuju dan dari lokasi pertandingan merupakan bagian dari aktivitas pendukung sepak bola yang semestinya berlangsung aman, tanpa ancaman pelemparan, intimidasi, ataupun tindakan kekerasan lainnya.

Hingga informasi ini disusun, identitas pihak yang diduga melakukan pelemparan serta motif di balik serangan tersebut belum diketahui secara pasti. Penelusuran lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap kronologi kejadian dan menentukan pihak yang bertanggung jawab.

The Jakmania berharap insiden tersebut dapat ditangani melalui proses hukum yang adil dan transparan. Di tengah upaya pemulihan para korban, pengurus juga mengingatkan seluruh suporter agar tidak terprovokasi dan tetap mengedepankan keselamatan.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa rivalitas dalam sepak bola seharusnya berhenti di lapangan. Tidak ada kemenangan, kekalahan, atau perbedaan dukungan klub yang dapat membenarkan tindakan yang membahayakan nyawa dan keselamatan orang lain.