Memuat berita

Berita International

Demonstrasi Anti-Perang dan Biaya Hidup di Milan Berujung Ricuh, 50 Orang Ditahan

Devi Sry Atmaja · 22 Oktober 2026 · 17:31 WIB · 4 dibaca
Demonstrasi Anti-Perang dan Biaya Hidup di Milan Berujung Ricuh, 50 Orang Ditahan

Foto: EPA/Matteo Corner

Demonstrasi menentang perang dan kenaikan biaya hidup berlangsung di Milan, Italia. Aksi yang semula damai berujung pada kericuhan. Peristiwa terjadi pada Sabtu (17/10/2026). Situasi di sejumlah titik kota memanas dalam waktu singkat. Massa demonstran terlibat bentrok langsung dengan aparat kepolisian. Ketegangan meningkat seiring berjalannya aksi. Sebagian peserta mulai melakukan tindakan destruktif. Kondisi lapangan berubah menjadi tidak terkendali.

Dalam kericuhan tersebut, massa terlihat membakar barikade. Api yang menyala menambah kekacauan di lokasi. Selain itu, aksi penjarahan terhadap toko-toko juga terjadi. Kerugian material tidak terhindarkan akibat tindakan tersebut. Polisi merespons situasi dengan langkah tegas. Mereka membubarkan demonstran menggunakan meriam air. Gas air mata juga ditembakkan untuk mengendalikan massa. Upaya pembubaran berlangsung di tengah bentrokan yang masih berlangsung. Akibat bentrokan, sedikitnya dua polisi mengalami luka. Mereka mendapatkan penanganan medis setelah insiden. Di sisi lain, sekitar 50 demonstran ditahan oleh aparat. Proses hukum terhadap para tertangkap tangan segera berjalan.

Demonstrasi yang mengangkat isu anti-perang dan biaya hidup mencerminkan keresahan sosial. Kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu pemicu. Sikap menentang perang juga menjadi narasi utama aksi. Namun, kekerasan yang muncul mengubah wajah unjuk rasa. Pembakaran barikade menunjukkan eskalasi yang cepat. Massa yang sebelumnya berdemonstrasi beralih ke tindakan anarkis. Penjarahan toko semakin memperburuk citra aksi. Aparat keamanan tidak tinggal diam dan langsung mengambil tindakan. Penggunaan meriam air dan gas air mata menjadi instrumen pembubaran standar. Polisi berupaya memulihkan ketertiban di kawasan terdampak. Dua personel yang terluka menjadi bukti betapa intensnya bentrokan. Penahanan 50 demonstran diharapkan memberikan efek jera.

Kota Milan sebagai lokasi aksi kembali menjadi panggung protes sosial. Isu perang dan biaya hidup berhasil mengumpulkan massa dalam jumlah signifikan. Ketika emosi memuncak, kontrol terhadap aksi menjadi longgar. Akibatnya, kericuhan pun tak terelakkan. Dengan ditahannya sekitar 50 orang, proses identifikasi dan pemeriksaan sedang berlangsung. Polisi mengumpulkan bukti terkait pembakaran, penjarahan, dan kekerasan terhadap aparat. Dua polisi yang terluka menjadi bagian dari laporan resmi. Penegakan hukum dijalankan sesuai ketentuan.

Bentrok antara massa dan polisi menciptakan suasana mencekam di beberapa ruas jalan. Asap dari barikade yang terbakar dan gas air mata memenuhi udara. Warga sipil di sekitar lokasi diimbau menjauh demi keselamatan. Operasi pembersihan dan pengamanan dilanjutkan setelah massa bubar. Aksi menentang perang dan kenaikan biaya hidup sebenarnya memiliki landasan keresahan yang nyata. Namun, cara-cara kekerasan dan penjarahan menciderai substansi perjuangan. Pihak berwenang menekankan bahwa demonstrasi harus tetap damai dan tertib. Pelanggaran hukum akan ditindak tegas.

Dua polisi yang terluka mendapatkan perawatan dan dipastikan dalam kondisi stabil. Sementara itu, 50 demonstran yang ditahan menunggu proses hukum selanjutnya. Penyidikan terhadap dalang dan pelaku utama kericuhan terus dilakukan. Otoritas ingin memastikan akuntabilitas atas kerusakan yang timbul. Kericuhan di Milan pada 17 Oktober 2026 menambah deretan protes sosial yang berakhir ricuh di Eropa. Isu global seperti perang dan tekanan ekonomi lokal saling bertemu dalam satu aksi. Ketika dialog tidak mencukupi, sebagian massa memilih jalan konfrontasi. Hasilnya adalah penahanan dan luka di kedua belah pihak.