Memuat berita

Nasional

Viral Ahli Brasil Tegur Herman Deru saat Tinjau Karhutla, Minta Gubernur Sentuh Tanah Gambut

Fazlur Rahman · 13 Oktober 2026 · 14:16 WIB · 2 dibaca
Viral Ahli Brasil Tegur Herman Deru saat Tinjau Karhutla, Minta Gubernur Sentuh Tanah Gambut

Foto: Sumatera News

Video yang memperlihatkan tenaga ahli asal Brasil memberikan instruksi langsung kepada Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru saat meninjau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, sang ahli terdengar berulang kali meminta pejabat setempat menyentuh permukaan tanah untuk merasakan kondisi lahan yang masih menyimpan panas.

Momen itu terjadi pada Jumat (9/10/2026), ketika Herman Deru bersama Wakil Gubernur Sumatera Selatan Cik Ujang meninjau penanganan karhutla di Kabupaten Banyuasin. Kunjungan tersebut juga menjadi bagian dari demonstrasi teknologi cairan pemadam yang diperkenalkan tim dari Brasil bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). 

Dalam video yang beredar, tenaga ahli tersebut tampak memberikan arahan dengan nada tegas agar Herman Deru menyentuh tanah di lokasi bekas kebakaran. Instruksi itu menarik perhatian warganet karena disampaikan secara langsung kepada kepala daerah yang sedang meninjau kondisi lapangan.

Cuplikan tersebut kemudian memicu beragam reaksi. Sebagian perhatian publik tertuju pada cara tenaga ahli memberikan instruksi, sementara lainnya menyoroti pentingnya pejabat memahami karakteristik kebakaran lahan gambut secara langsung. Meski demikian, penilaian mengenai maksud maupun sikap tenaga ahli dalam video perlu mempertimbangkan konteks lengkap kejadian, bukan hanya potongan rekaman yang beredar.

Di balik momen viral itu, terdapat persoalan teknis yang menjadi salah satu tantangan utama dalam penanganan karhutla, yakni bara api yang dapat bertahan di bawah permukaan tanah. Pada lahan gambut, kebakaran tidak selalu terlihat sebagai kobaran api besar. Api dapat merambat di lapisan organik bawah tanah dan tetap menyala meskipun bagian permukaannya tampak telah padam.

Kondisi tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan pemeriksaan menyeluruh. Petugas perlu memastikan bahwa panas dan bara di dalam lapisan gambut benar-benar terkendali agar api tidak kembali muncul setelah proses pemadaman selesai. Karena itu, pemeriksaan kondisi tanah menjadi bagian penting dalam upaya menangani kebakaran di kawasan gambut.

Kunjungan Herman Deru dan Cik Ujang juga berkaitan dengan pengenalan cairan pemadam khusus asal Brasil yang disebut Realiza Anticomas atau Realiza Anti Chamas. Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai alternatif untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan, terutama pada wilayah yang memiliki karakteristik gambut. 

Dalam demonstrasi yang berlangsung di Banyuasin, cairan tersebut dicampurkan dengan air sebelum digunakan pada lahan yang terbakar. Herman Deru menyebutkan bahwa berdasarkan informasi yang diterimanya, satu liter cairan dicampurkan dengan sekitar 2,5 meter kubik air. Ia juga menyampaikan bahwa hasil uji coba perlu diamati untuk mengetahui efektivitasnya dalam membantu pemadaman serta mencegah kebakaran berulang. 

Tim yang memperkenalkan teknologi itu menyebutkan bahwa lahan yang telah disiram menunjukkan kondisi lebih lembap dibandingkan area yang hanya disiram air biasa. Kelembapan tersebut dilaporkan dapat bertahan selama dua hingga tiga hari. Namun, klaim mengenai efektivitas cairan tetap perlu dinilai berdasarkan hasil pengujian dan penerapannya di lapangan, termasuk kesesuaiannya dengan kondisi lahan gambut di Sumatera Selatan. 

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan berharap pemanfaatan teknologi baru dapat memperkuat upaya penanggulangan karhutla. Persoalan kebakaran di wilayah tersebut tidak hanya membutuhkan pemadaman ketika api muncul, tetapi juga strategi pencegahan agar titik panas tidak berkembang dan kebakaran tidak berulang.

Selain penggunaan teknologi pemadam, penanganan karhutla memerlukan kerja sama lintas sektor, kesiapan petugas, ketersediaan sumber air, serta pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan. Upaya pemadaman melalui jalur darat dan udara juga perlu disertai langkah pencegahan yang disesuaikan dengan kondisi wilayah rawan kebakaran. <Cite refs={["turn141827search3","turn141827search4"]}/>

Viralnya video tersebut akhirnya memperluas perhatian publik dari demonstrasi teknologi pemadam menuju cara pejabat merespons arahan teknis di lapangan. Namun, di tengah perdebatan mengenai gaya komunikasi tenaga ahli, persoalan utama yang perlu mendapat perhatian tetaplah penanganan kebakaran dan dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.

Kebakaran gambut dapat menyulitkan proses pemadaman karena sumber panas berpotensi tersembunyi di bawah permukaan. Oleh sebab itu, keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari hilangnya kobaran api yang terlihat, tetapi juga dari kemampuan memastikan bara benar-benar padam dan tidak kembali menyala.

Peristiwa di Banyuasin tersebut menjadi pengingat bahwa penanggulangan karhutla membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, tenaga ahli, petugas lapangan, dan masyarakat. Teknologi baru dapat menjadi salah satu pilihan, tetapi penerapannya perlu didukung pengujian yang memadai, evaluasi hasil, serta langkah pencegahan jangka panjang agar kebakaran tidak terus berulang.