RIYADH - Tiga orang tewas dan 36 lainnya terluka setelah dua bandara internasional di Arab Saudi menjadi sasaran serangan pada Selasa dan Rabu (7/10/2026). Salah satu bandara yang diserang berada di ibu kota Riyadh. Serangan tersebut terjadi setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim telah melancarkan serangan terhadap dua pusat transportasi udara di Arab Saudi. Klaim tersebut disampaikan Houthi melalui pernyataan terpisah, seperti dilansir AFP.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi membenarkan adanya serangan terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Namun, dalam pernyataannya, otoritas tersebut tidak menyebutkan pihak yang bertanggung jawab atas serangan.
"Pada Selasa dan Rabu. Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan yang menargetkan fasilitasnya," demikian pernyataan otoritas penerbangan sipil Saudi.
Akibat serangan tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia. Dua korban merupakan warga negara Mesir dan Aljazair yang tewas di Bandara Internasional Abha. Sementara satu korban lainnya merupakan warga Sudan yang meninggal dunia di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Selain korban tewas, sebanyak 36 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kondisi para korban yang terluka maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkan pada kedua bandara.
Serangan tersebut memicu respons dari koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pro-pemerintah Yaman dalam konflik berkepanjangan di negara tersebut. Koalisi menyatakan akan melakukan tindakan balasan terhadap serangan yang menyasar Riyadh. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan akan menargetkan peluncur rudal balistik yang digunakan dalam serangan terhadap ibu kota Arab Saudi. Ancaman tersebut meningkatkan ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Di sisi lain, kelompok Houthi secara terbuka mengakui telah melancarkan serangan terhadap kedua bandara internasional tersebut. Pengakuan itu disampaikan melalui pernyataan yang dirilis kelompok tersebut setelah serangan terjadi. Selain mengeklaim serangan terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid, Houthi juga mengaku menyerang sebuah konvoi yang membawa pasokan militer di sekitar bandara di Aden, ibu kota sementara pemerintahan Yaman.
Serangkaian serangan tersebut kembali menunjukkan tingginya eskalasi konflik yang melibatkan Houthi dan pihak-pihak yang mendukung pemerintah Yaman. Arab Saudi sebelumnya telah terlibat dalam konflik Yaman melalui koalisi yang mendukung pemerintahan yang diakui secara internasional. Serangan terhadap fasilitas penerbangan sipil juga menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan penumpang dan pekerja bandara. Hingga kini, informasi mengenai dampak lebih lanjut terhadap aktivitas penerbangan di kedua bandara masih terus dihimpun.