Memuat berita

Nasional

Pemilik Buaya Coki Histeris hingga Pingsan saat Hewan Peliharaannya Dievakuasi

Devi Sry Atmaja · 28 September 2026 · 19:06 WIB · 4 dibaca
Pemilik Buaya Coki Histeris hingga Pingsan saat Hewan Peliharaannya Dievakuasi

Foto: Berita Satu

BANDAR LAMPUNG - Suasana haru dan tegang menyelimuti proses evakuasi seekor buaya muara bernama Coki di Kelurahan Pidada, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Pemiliknya, Wike Saputri, menangis histeris hingga sempat pingsan saat melihat hewan peliharaannya dibawa petugas. Evakuasi dilakukan oleh tim gabungan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Bandar Lampung bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada Sabtu (26/09/2026). Kejadian tersebut menarik perhatian warga sekitar. Coki merupakan buaya betina berukuran sekitar 2,5 meter dengan berat kurang lebih 50 kilogram. Buaya tersebut telah dipelihara Wike sejak masih berupa telur yang ditemukan di kawasan Pelabuhan Panjang sekitar tiga tahun lalu. Selama dirawat di kolam kecil di teras rumah, Coki tumbuh besar dan mulai sering berkeliaran di sekitar pekarangan. Kondisi itu menimbulkan keresahan di kalangan warga sekitar.

Proses evakuasi berlangsung relatif cepat, sekitar 30 menit. Petugas Damkarmat berhasil menggiring Coki ke daratan, kemudian mengikat dan melakban bagian mulutnya agar tidak membahayakan. Kasi Bidang Penyelamatan Damkarmat Bandar Lampung, Omar Dhani, mengungkapkan teknik khusus diterapkan agar evakuasi aman.

“Proses evakuasi tadi tidak lama, kurang lebih setengah jam atau 30 menit saja,” kata Omar.

Meski evakuasi berjalan lancar, suasana di lokasi sempat mencekam karena reaksi pemilik. Wike yang sudah merawat Coki sejak kecil tidak kuasa menahan kesedihan. Ia menangis histeris dan akhirnya pingsan ketika melihat buaya kesayangannya dibawa pergi. Ikatan emosional yang terjalin selama tiga tahun membuat proses perpisahan terasa sangat berat.

Camat Panjang Hendry Satria Jaya mengakui proses negosiasi dengan pemilik sempat berlangsung alot.

“Tadi kita sudah coba negosiasi, tapi alot. Pihak keluarga mungkin rasa cintanya, rasa memiliki seperti memeliharanya,” ujar Hendry.

Evakuasi melibatkan sejumlah instansi, termasuk Damkarmat, KKP, Linmas, TNI, dan Polri. Langkah tersebut diambil sebagai tindak lanjut arahan Wali Kota Bandar Lampung untuk memastikan keamanan warga di sekitar lokasi. Keberadaan buaya berukuran besar di tengah permukiman padat penduduk dinilai berisiko tinggi. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Setelah berhasil diamankan, Coki diserahkan kepada KKP untuk dibawa ke tempat penangkaran di Ogan Ilir, Sumatera Selatan. Pihak berwenang menekankan bahwa memelihara satwa liar seperti buaya tanpa izin melanggar ketentuan. Masyarakat diimbau segera melaporkan keberadaan satwa yang berpotensi membahayakan kepada instansi terkait.

Wike diketahui tidak hanya memelihara Coki. Ia juga memiliki ular piton berukuran sekitar 6 meter serta sejumlah satwa eksotis lainnya. Namun, pada saat evakuasi, petugas baru berhasil mengamankan buaya tersebut. Informasi mengenai satwa lain akan ditindaklanjuti secara terpisah oleh pihak berwenang. Reaksi histeris hingga pingsan yang ditunjukkan Wike menjadi sorotan di media sosial. Banyak pihak memahami rasa sedih pemilik yang sudah merawat Coki sejak kecil. Di sisi lain, sebagian warga mengapresiasi langkah evakuasi demi keamanan bersama. Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya aturan pemeliharaan satwa liar.

Omar Dhani menjelaskan bahwa petugas menerapkan teknik khusus agar proses penaklukan berjalan aman. Buaya digiring perlahan ke daratan sebelum diikat. Keberhasilan evakuasi dalam waktu singkat dinilai cukup baik mengingat ukuran dan potensi bahaya satwa tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam proses tersebut. Sebelum evakuasi, petugas telah beberapa kali melakukan pendekatan kepada pemilik. Imbauan datang dari tingkat RT, kepala lingkungan, hingga kecamatan. Akhirnya Wike bersedia menyerahkan Coki dengan catatan tetap mendapatkan informasi mengenai kondisi buaya tersebut di penangkaran. Permintaan itu akan dibicarakan lebih lanjut.

Keresahan warga menjadi pemicu utama dilakukannya evakuasi. Coki yang semakin besar sering terlihat berkeliaran di sekitar rumah dan menimbulkan ketakutan. Di kawasan padat penduduk, kehadiran buaya berukuran 2,5 meter dianggap tidak aman. Langkah tegas diambil untuk mencegah potensi bahaya. Prosesi evakuasi yang diwarnai tangisan dan pingsannya pemilik menjadi momen emosional. Wike sempat terisak dan kesulitan menerima kenyataan harus berpisah dengan Coki. Namun, demi keamanan warga dan penanganan yang lebih tepat, satwa tersebut tetap dipindahkan. Petugas berusaha menenangkan pemilik selama proses berlangsung.