Dinas Perpustakaan dan Arsip atau Dispursip Palangka Raya menggelar acara puncak pemilihan Duta Baca Palangka Raya 2026. Kegiatan berlangsung pada Selasa, 6 Oktober 2026. Acara yang diikuti siswa SMP dan SMA sederajat itu dilaksanakan di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla. Lokasi kegiatan berada di Halaman Dispursip Palangka Raya, Jalan Diponegoro. Kepala Dispursip Palangka Raya, M Setiadi Hidayat, menjelaskan rangkaian acara tersebut. Ia mengatakan kegiatan pemilihan Duta Baca berlangsung kurang lebih selama tiga hari. Dua hari pertama telah dilaksanakan di dalam ruangan. Puncak pengumuman kemudian digeser ke area terbuka.
Menurut Setiadi Hidayat, pemilihan lokasi di luar ruangan memiliki tujuan khusus. Ia ingin mendekatkan kegiatan tersebut kepada masyarakat umum. Dengan digelar di halaman kantor, publik dapat lebih mudah menyaksikan dan berpartisipasi. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya sosialisasi gemar membaca. Meski digelar di ruang terbuka, kondisi udara saat itu sangat memprihatinkan. Kabut asap karhutla menyelimuti Kota Palangka Raya. Kualitas udara menurun drastis dan masuk kategori berbahaya. Pelaksanaan acara tetap berlangsung di tengah situasi tersebut.
Pada Selasa sekitar pukul 10.45 WIB, indikator kualitas udara tercatat sangat buruk. Aplikasi Indeks Standar Pencemaran Udara atau ISPU dari KLH/BPLH menunjukkan kategori “Berbahaya”. Angka yang tercatat berada di atas 1.000. Kondisi ini jauh melampaui ambang batas aman. Berdasarkan keterangan dalam aplikasi ISPU, kualitas udara dengan angka di atas 1.000 dapat merugikan kesehatan secara serius. Dampaknya berlaku bagi seluruh populasi, tidak hanya kelompok rentan. Penanganan cepat sangat diperlukan untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat. Peringatan tersebut seharusnya menjadi perhatian semua pihak.
Acara pemilihan Duta Baca yang melibatkan pelajar SMP dan SMA sederajat tetap berjalan di halaman kantor. Para peserta dan undangan berada di area terbuka meski asap tebal menyelimuti. Kegiatan yang semestinya meriah terpaksa berhadapan dengan kondisi lingkungan yang tidak ideal. Kewaspadaan terhadap kesehatan menjadi tantangan tersendiri. Setiadi Hidayat menekankan pentingnya mendekatkan kegiatan literasi kepada masyarakat. Pengumuman Duta Baca di luar ruangan diharapkan menarik perhatian warga sekitar. Namun, timing pelaksanaan bertepatan dengan puncak kabut asap. Situasi ini memunculkan dilema antara sosialisasi dan risiko kesehatan.
Kabut asap akibat karhutla sudah menjadi persoalan berulang di Kalimantan Tengah. Palangka Raya kerap terdampak ketika titik api meningkat. Kualitas udara yang masuk kategori berbahaya mengancam aktivitas outdoor. Acara resmi pemerintah daerah pun turut terdampak. Dengan angka ISPU di atas 1.000, risiko gangguan pernapasan meningkat tajam. Anak-anak usia sekolah yang menjadi peserta acara termasuk kelompok yang rentan. Paparan asap dalam waktu lama dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka pendek maupun panjang. Protokol kesehatan di tengah kabut asap menjadi krusial.
Pemilihan Duta Baca Palangka Raya 2026 merupakan upaya menumbuhkan minat literasi di kalangan pelajar. Kegiatan tiga hari tersebut dirancang untuk menjaring duta yang mampu menginspirasi. Dua hari pertama di dalam ruangan relatif lebih aman dari paparan asap. Keputusan memindahkan puncak acara ke luar ruangan diambil dengan pertimbangan keterlibatan publik. Meski demikian, kondisi udara berbahaya tetap menjadi catatan penting. Peringatan dari aplikasi ISPU seharusnya menjadi acuan penyesuaian kegiatan. Penanganan karhutla dan mitigasi dampak asap membutuhkan koordinasi lintas sektor. Kesehatan masyarakat tidak boleh dikesampingkan.
Setiadi Hidayat dan jajaran Dispursip tetap melanjutkan acara sesuai rencana. Tujuan mendekatkan kegiatan kepada masyarakat menjadi alasan utama. Namun, situasi kabut asap yang masuk kategori berbahaya menjadi ironi tersendiri. Kegiatan literasi berlangsung di tengah ancaman kesehatan lingkungan. Warga dan peserta diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak asap. Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas outdoor menjadi langkah yang disarankan. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah mitigasi yang lebih efektif. Kualitas udara di atas 1.000 membutuhkan respons cepat.