Memuat berita

Berita International

Pegawai Kementerian Energi AS Ditangkap FBI, Diduga Bantu Houthi Siapkan Drone dan Bahan Peledak

Fazlur Rahman · 02 Oktober 2026 · 18:37 WIB · 2 dibaca
Pegawai Kementerian Energi AS Ditangkap FBI, Diduga Bantu Houthi Siapkan Drone dan Bahan Peledak

Foto: Voa Indonesia

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menangkap seorang pegawai Departemen Energi AS atau Department of Energy (DOE) yang diduga berupaya memberikan dukungan material kepada kelompok Houthi di Yaman. Penangkapan tersebut dilakukan ketika kasus yang melibatkan seorang insinyur kelistrikan itu mulai mengungkap dugaan perjalanan rahasia ke Yaman, pembelian komponen drone dan bahan kimia yang dapat digunakan untuk membuat bahan peledak.

Pria tersebut adalah Ashton Hamed Ellaboudy, 51 tahun, warga Richland, Washington. Departemen Kehakiman AS menyatakan Ellaboudy ditangkap pada Kamis (1/10/2026) di fasilitas Hanford, Washington, dan didakwa atas upaya memberikan dukungan material atau sumber daya kepada Houthi, yang oleh pemerintah Amerika Serikat ditetapkan sebagai organisasi teroris asing. Ia dijadwalkan menjalani sidang awal di hadapan hakim magistrat federal di Richland pada Jumat (2/10).

Menurut dokumen pengadilan yang dikutip Departemen Kehakiman, penyelidikan FBI bermula setelah aparat memperoleh informasi bahwa Ellaboudy membeli prekursor kimia, komponen dan material lain yang lazim digunakan dalam pembuatan alat peledak rakitan. Penyelidik juga menemukan pembelian berbagai komponen yang dapat digunakan untuk membuat drone dan sistem pesawat nirawak yang dikendalikan dari jarak jauh.

Dugaan aktivitas tersebut kemudian berkembang menjadi penyelidikan kontraterorisme. FBI menilai Ellaboudy tidak hanya membeli berbagai komponen, tetapi juga berusaha menggunakan keahlian profesionalnya sebagai insinyur kelistrikan untuk membantu meningkatkan kemampuan komunikasi Houthi.

Dalam proses penyelidikan, FBI memperkenalkan seorang sumber manusia rahasia atau confidential human source (CHS) yang berpura-pura bekerja untuk seorang “kolonel” Houthi. Menurut dokumen perkara, Ellaboudy kemudian berkomunikasi dengan sumber tersebut dan memberikan bantuan teknis terkait perangkat komunikasi yang disebut akan dikirim ke Yaman untuk digunakan sebagai pusat komunikasi bergerak.

Ellaboudy diduga membantu menguji dan memodifikasi generator tenaga surya serta peralatan komunikasi. Ia juga disebut memberikan diagram teknis, skema pemasangan, serta penjelasan mengenai bagaimana sistem kelistrikan dan perangkat komunikasi dapat diintegrasikan. Penyelidik juga menyebut Ellaboudy melakukan riset dan memberikan rekomendasi mengenai peralatan lain yang dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi kelompok tersebut.

Yang menjadi perhatian penyidik adalah dugaan perjalanan Ellaboudy ke Yaman. Dalam dakwaan, pada September 2025 ia disebut menggunakan paspor resmi yang sebelumnya diterbitkan ketika dirinya bekerja untuk U.S. Army Corps of Engineers. Dari Richland, ia melakukan perjalanan menuju Oman, kemudian melintasi perbatasan menuju Yaman dengan tujuan menuju Sana'a, ibu kota yang berada di bawah kendali Houthi.

Setelah kembali ke Amerika Serikat, Ellaboudy diduga memberi tahu petugas U.S. Customs and Border Protection bahwa perjalanan tersebut merupakan perjalanan dinas pemerintah. Namun, menurut Departemen Kehakiman, penyelidik kemudian memperoleh keterangan dari atasannya di Departemen Energi bahwa Ellaboudy tidak memiliki izin perjalanan dinas pemerintah ke kawasan tersebut.

Dokumen perkara juga menyebut bahwa Ellaboudy sebelumnya mengambil cuti sakit pada Desember 2024 dan mengaku mengalami paparan asam nitrat berkonsentrasi tinggi. Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu bagian yang diperiksa FBI setelah penyidik menemukan adanya pembelian bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan bahan peledak.

Selain dugaan bantuan komunikasi, aparat juga menyoroti pembelian komponen drone dan sistem udara yang dikendalikan dari jarak jauh. Jaksa federal menyebut material yang diperoleh Ellaboudy diduga berkaitan dengan upaya mendukung kemampuan Houthi, termasuk kemungkinan penggunaan drone untuk membawa bahan peledak.

Asisten Jaksa Agung AS untuk Keamanan Nasional John A. Eisenberg mengatakan, sebagaimana diduga dalam perkara tersebut, seorang pegawai pemerintah AS melakukan perjalanan ke luar negeri dan menggunakan keahlian khususnya dalam upaya membantu Houthi. Eisenberg juga menyoroti dugaan pengadaan material untuk bahan peledak dan drone.

FBI menyatakan kasus tersebut ditangani melalui Inland Northwest Joint Terrorism Task Force. Penyelidikan melibatkan kerja sama antara FBI dan sejumlah lembaga penegak hukum dalam mengungkap dugaan dukungan terhadap organisasi yang ditetapkan pemerintah AS sebagai organisasi teroris asing.

Meski penangkapan dilakukan di fasilitas Hanford yang memiliki keterkaitan dengan kegiatan nuklir pemerintah AS, Departemen Energi menegaskan bahwa perkara tersebut tidak melibatkan upaya untuk menyerang atau merusak fasilitas Hanford maupun membahayakan para pekerjanya.

Ray Geimer, manajer Hanford Field Office, mengatakan aktivitas yang menjadi pokok perkara tidak melibatkan upaya untuk membahayakan Hanford Site atau tenaga kerjanya. Menurut DOE, tidak ada ancaman terhadap keselamatan maupun keamanan fasilitas tersebut dalam kasus ini.

Hal tersebut menjadi penting karena lokasi penangkapan Ellaboudy merupakan bagian dari kompleks Hanford, salah satu fasilitas penting Departemen Energi AS. Karena itu, otoritas membedakan secara tegas antara dugaan tindakan pribadi yang sedang diproses secara hukum dengan keamanan fasilitas tempat ia bekerja.

Kasus Ellaboudy kini akan bergulir melalui proses peradilan federal. Jika dinyatakan bersalah atas dakwaan tersebut, ia menghadapi ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. Namun, Departemen Kehakiman AS menegaskan bahwa seluruh tuduhan dalam pengaduan pidana tersebut masih berupa dugaan dan Ellaboudy dianggap tidak bersalah sampai terbukti bersalah di pengadilan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana penyelidikan kontraterorisme AS dapat menelusuri aktivitas yang bermula dari pembelian material dan komunikasi teknis hingga dugaan perjalanan ke wilayah yang dikuasai kelompok bersenjata. Bagi aparat penegak hukum AS, perhatian tidak hanya tertuju pada tindakan kekerasan langsung, tetapi juga pada upaya memberikan keahlian, peralatan maupun sumber daya yang dapat memperkuat kemampuan kelompok yang masuk dalam daftar organisasi teroris Amerika Serikat.

Untuk saat ini, sejumlah rincian paling serius dalam perkara tersebut masih harus diuji melalui proses pengadilan. Bukti mengenai perjalanan ke Yaman, pembelian material, komunikasi dengan sumber rahasia FBI, serta dugaan pemberian bantuan teknis akan menjadi bagian dari proses hukum yang menentukan apakah tuduhan terhadap Ellaboudy dapat dibuktikan.