Memuat berita

Nasional

Orang Tua Siswa Datangi SDN 1 Kebondalem Tuntut Transparansi usai Dugaan Perundungan

Devi Sry Atmaja · 06 Oktober 2026 · 21:19 WIB · 4 dibaca
Orang Tua Siswa Datangi SDN 1 Kebondalem Tuntut Transparansi usai Dugaan Perundungan

Foto: Kumparan

Ratusan warga dan orang tua siswa mendatangi SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Aksi tersebut berlangsung pada Senin (5/10/2026). Kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak menjadi pemicu utama kedatangan mereka. Dugaan perundungan yang menewaskan salah satu siswa membuat para orang tua geram. Massa yang hadir didominasi oleh para ibu rumah tangga. Mereka menuntut transparansi dari pihak sekolah terkait kematian Muhammad Hasbi Al Aqib. Anak berusia 7 tahun tersebut merupakan siswa kelas 2. Ia diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan kakak kelasnya.

Pantauan di lokasi menunjukkan suasana tegang di depan sekolah. Para orang tua ingin mendapatkan penjelasan resmi mengenai kronologi kejadian. Mereka tidak ingin kasus serupa terulang pada anak-anak lain. Desakan agar sekolah terbuka semakin kuat. Salah satu wali murid kelas 3, Atika (33), mengaku resah dengan situasi yang berkembang. Ia sengaja datang ke sekolah untuk memastikan kondisi anaknya. Kekhawatiran sebagai orang tua membuatnya tidak tinggal diam. Kehadirannya menjadi bagian dari aspirasi bersama.

“Ya, jadi saya resah ya sebagai orang tua, akhirnya saya ke sana tahu barangkali ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti itu. Khawatir banget,” ujar Atika di lokasi. Pernyataan tersebut mencerminkan perasaan banyak orang tua yang hadir. Rasa waswas terhadap keselamatan anak menjadi isu utama.

Atika mengungkapkan bahwa anaknya juga diduga pernah menjadi korban perundungan di sekolah yang sama. Pengalaman tersebut berdampak pada kondisi kesehatan anaknya. Ia tidak ingin kejadian serupa terulang. Kekhawatiran pribadi memperkuat keputusannya untuk hadir di aksi tersebut.

“Khawatir banget, soalnya anak saya sudah pernah sih terjadi seperti itu, enggak bisa pipis, sakit, demam,” kata Atika. Gejala yang dialami anaknya menjadi alasan kuat bagi dirinya untuk menuntut kejelasan. Perundungan di lingkungan sekolah dinilai sudah tidak bisa dibiarkan.

Kematian Muhammad Hasbi Al Aqib menjadi titik balik bagi para orang tua. Dugaan bahwa siswa kelas 2 tersebut menjadi korban kekerasan kakak kelas memicu kemarahan. Mereka menuntut pihak sekolah memberikan keterangan yang jujur dan lengkap. Transparansi dinilai sebagai langkah awal penanganan. Aksi di SDN 1 Kebondalem berlangsung dalam suasana penuh emosi. Para orang tua ingin memastikan bahwa anak-anak mereka aman selama berada di sekolah. Kepercayaan terhadap lingkungan pendidikan sempat terguncang. Penjelasan resmi sangat dinantikan.

Kehadiran ratusan warga menunjukkan besarnya perhatian masyarakat terhadap isu perundungan. Kasus yang menewaskan siswa sekolah dasar menjadi alarm keras. Orang tua tidak lagi mau tinggal diam jika ada indikasi kekerasan di sekolah. Partisipasi aktif masyarakat terlihat jelas. Atika mewakili suara banyak wali murid yang merasa resah. Pengalaman anaknya yang pernah mengalami dampak perundungan membuatnya lebih peka. Ia datang bukan hanya untuk anaknya sendiri, tetapi juga untuk keselamatan siswa lain. Solidaritas antarorang tua terasa kuat di lokasi.

Pihak sekolah menghadapi desakan kuat untuk membuka informasi. Para orang tua ingin mengetahui langkah apa yang sudah dan akan diambil. Penanganan kasus kematian Hasbi Al Aqib menjadi fokus utama tuntutan. Kejelasan kronologi sangat diharapkan. Isu perundungan di sekolah dasar kembali menjadi perhatian serius. Kematian seorang siswa kelas 2 akibat dugaan kekerasan kakak kelas memicu reaksi luas. Aksi di Pemalang menjadi cerminan keresahan orang tua di banyak tempat. Perlindungan anak di lingkungan pendidikan harus diperkuat.