Luksemburg – Menteri Iklim Swedia, Romina Pourmokhtari, menjadi sorotan dunia setelah membawa putranya yang baru berusia tiga bulan ke rapat Dewan Uni Eropa di Luksemburg. Momen tersebut langsung viral dan menuai pujian sebagai bentuk dukungan nyata terhadap kebijakan kesetaraan gender dan keseimbangan kerja-keluarga.
Kehadiran bayi mungil itu bukan sekadar momen menggemaskan di tengah rapat tingkat tinggi. Bagi Pourmokhtari, langkah ini menjadi simbol bahwa perempuan tidak harus memilih antara karier dan keluarga. Yang menarik, ini disebut-sebut sebagai kali pertama seorang bayi menghadiri rapat tingkat menteri Uni Eropa.
Swedia dikenal memiliki salah satu sistem cuti orang tua paling progresif dan dermawan di dunia. Negara tersebut menyediakan total sekitar 480 hari cuti berbayar yang dapat dibagi antara kedua orang tua. Kebijakan ini dirancang untuk mendorong partisipasi perempuan dalam dunia kerja sekaligus memastikan peran ayah dalam pengasuhan anak.
Dalam rapat tersebut, Pourmokhtari tetap menjalankan tugasnya sebagai menteri sambil merawat putranya. Gambaran sang menteri yang fokus berdiskusi sambil sesekali menenangkan bayinya menuai apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk aktivis gender dan politisi Eropa.
“Menjadi orang tua dan politisi seharusnya bukan pilihan yang sulit. Swedia telah membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan,” ujar Pourmokhtari dalam pernyataannya yang dikutip berbagai media internasional.
Kebijakan cuti orang tua Swedia yang inklusif ini sering dijadikan contoh oleh banyak negara. Dengan pembagian cuti yang fleksibel, Swedia berhasil mencatatkan tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja yang tinggi, sekaligus mendukung tingkat kesetaraan gender terbaik di Eropa.
Momen ini kembali menegaskan komitmen Swedia dalam isu kesetaraan dan menjadi inspirasi bagi negara-negara lain untuk mereformasi kebijakan keluarga yang lebih ramah orang tua.