Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memasuki tahap uji coba dengan pola penyajian berbeda di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Badan Gizi Nasional (BGN) menguji sistem prasmanan di SDN Tunjung 2, Kecamatan Burneh, Rabu (7/10/2026), dengan harapan makanan dapat disajikan lebih hangat sekaligus memberikan pengalaman makan yang lebih baik bagi para siswa.
Uji coba tersebut menjadi bagian dari upaya BGN dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mengevaluasi pola pelayanan MBG di sekolah. Dalam sistem ini, makanan tidak langsung dibagikan dalam bentuk porsi yang telah ditentukan, melainkan disiapkan untuk kemudian diambil dan disajikan kepada siswa secara langsung di lingkungan sekolah.
Perubahan pola penyajian tersebut tidak hanya menyangkut cara makanan diberikan kepada siswa. Para pelajar juga dilibatkan dalam proses pelayanan sebagai bagian dari edukasi mengenai kemandirian, tanggung jawab, kebersihan, hingga kesadaran untuk mengambil makanan sesuai kebutuhan.
Dalam pelaksanaan di SDN Tunjung 2, siswa kelas VI mendapat peran membantu melayani adik-adik kelas mereka. Mereka diarahkan untuk membantu mengambilkan makanan dengan porsi secukupnya sekaligus mengingatkan agar makanan yang diambil tidak berlebihan dan berujung menjadi sampah makanan.
Keterlibatan siswa senior tersebut membuat proses pembagian makanan sekaligus menjadi sarana pembelajaran karakter. Anak-anak tidak hanya menerima makanan bergizi, tetapi juga belajar berbagi, tertib mengantre, bertanggung jawab terhadap makanan yang diambil, serta memperhatikan kebutuhan teman-temannya.
Para siswa juga mendapatkan edukasi mengenai kebersihan diri. Salah satunya melalui praktik mencuci tangan dengan cara yang benar sebelum menyantap makanan. Edukasi tersebut dinilai penting karena kebersihan tangan merupakan salah satu bagian mendasar dalam menjaga keamanan pangan dan kesehatan anak.
Selain kebersihan, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengonsumsi makanan bergizi. Pesan tersebut disampaikan agar program MBG tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan makan harian, tetapi turut membangun kebiasaan makan sehat sejak usia sekolah.
Model prasmanan juga memberikan pengalaman berbeda bagi siswa. Makanan dapat disajikan dalam kondisi lebih hangat karena makanan dari dapur SPPG tidak harus langsung dikemas menjadi porsi individual sejak awal. BGN sebelumnya menjelaskan bahwa metode prasmanan tengah disiapkan sebagai salah satu pola penyajian MBG karena makanan dapat tetap hangat dan proses penyajian serta distribusi dinilai lebih efisien.
Kondisi makanan yang hangat menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi siswa. Selain lebih menggugah selera, penyajian langsung memungkinkan makanan disantap tidak terlalu lama setelah tiba di sekolah.
Di sisi lain, sistem prasmanan juga memberi ruang untuk menyesuaikan jumlah makanan dengan kebutuhan siswa. Anak dapat mengambil makanan sesuai porsi yang diperlukan sehingga diharapkan dapat mengurangi makanan yang tersisa. Hal tersebut menjadi penting mengingat salah satu tujuan uji coba adalah memperbaiki efisiensi sekaligus menekan potensi makanan terbuang.
Model seperti ini sebelumnya juga mulai diuji di sejumlah sekolah di daerah lain. BGN menyebut uji coba prasmanan merupakan bagian dari evaluasi pola pelayanan MBG agar makanan dapat diterima siswa dalam kondisi lebih baik dan proses penyajiannya lebih efektif.
Di Bangkalan, uji coba tersebut direncanakan tidak langsung diterapkan setiap hari. Mitra MBG setempat menyatakan pola prasmanan akan dilakukan secara bergiliran, yakni satu kali dalam sepekan untuk setiap sekolah yang berada di bawah kewenangan SPPG.
Dengan pola tersebut, pelaksanaan uji coba sekaligus menjadi kesempatan bagi pengelola untuk melihat respons siswa, kesiapan sekolah, kebutuhan sarana pendukung, serta efektivitas pelayanan sebelum model tersebut dikembangkan lebih luas.
Penerapan sistem prasmanan juga membutuhkan keterlibatan aktif sekolah. Guru dan pengelola harus memastikan antrean berjalan tertib, porsi makanan tetap sesuai kebutuhan, kebersihan terjaga, serta makanan tidak terkontaminasi selama proses penyajian.
Aspek keamanan pangan menjadi perhatian penting dalam perubahan pola pelayanan tersebut. BGN sebelumnya menyatakan bahwa pembenahan mekanisme pelayanan, termasuk pengaturan cakupan penerima manfaat dan pengembangan metode prasmanan, dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi risiko dalam penyelenggaraan MBG.
Karena itu, keberhasilan sistem prasmanan tidak hanya akan diukur dari apakah siswa menyukai makanan yang disajikan. Evaluasi juga perlu melihat aspek kebersihan, ketepatan porsi, kecepatan pelayanan, kondisi makanan saat disantap, jumlah makanan yang tersisa, hingga kemampuan sekolah dan SPPG menjalankan sistem tersebut secara konsisten.
Uji coba di SDN Tunjung 2 menjadi gambaran bahwa program MBG terus mengalami penyesuaian di tingkat pelaksanaan. Dari sekadar memastikan makanan sampai kepada siswa, pola baru ini mencoba menggabungkan pemenuhan gizi dengan pendidikan kebiasaan hidup sehat, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Jika hasil evaluasi menunjukkan sistem tersebut berjalan efektif, pola prasmanan berpotensi menjadi salah satu alternatif dalam penyelenggaraan MBG di sekolah. Namun, penerapannya tetap membutuhkan penyesuaian dengan kapasitas dapur SPPG, kondisi sekolah, jumlah penerima manfaat, serta standar keamanan pangan yang ditetapkan pemerintah.
Bagi para siswa, perubahan tersebut menghadirkan pengalaman baru dalam menikmati MBG. Mereka tidak hanya mendapatkan makanan dalam kondisi lebih hangat, tetapi juga belajar bahwa makanan yang tersedia harus dihargai, diambil sesuai kebutuhan, dan tidak berakhir menjadi sia-sia.