Washington – Selat Hormuz kembali menjadi pusat perebutan pengaruh global setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan penerapan blokade terhadap Iran sekaligus pengenaan tarif 20% bagi seluruh kargo yang melintasi jalur strategis tersebut. Langkah tersebut diambil di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Trump menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran di perairan tersebut.
“Amerika Serikat akan mendapatkan penggantian biaya sebesar 20% dari seluruh kargo yang dikirim untuk menutupi setiap biaya yang diperlukan dalam menjalankan tugas menjaga keselamatan dan keamanan,” tegas Trump.
Selat Hormuz dikenal sebagai urat nadi perdagangan energi dunia. Sekitar 20-30% pasokan minyak mentah global melewati selat sempit di antara Iran dan Oman ini. Penutupan atau gangguan di jalur ini berpotensi memicu gejolak harga energi secara signifikan.
Meski Trump menyatakan Selat Hormuz harus tetap terbuka dengan atau tanpa Iran, Iran dilaporkan masih mempertahankan sikap menutup akses selat tersebut. Ketegangan semakin memanas dengan terjadinya saling serang menggunakan rudal dan drone antara kedua pihak.
Akibatnya, harga minyak dunia kembali terdorong naik, memicu kekhawatiran di pasar global. Pelaku usaha khawatir kebijakan tarif 20% ini akan membebani biaya logistik internasional. Para analis menyebut dampaknya bisa meluas, mulai dari kenaikan harga bahan bakar, inflasi global, hingga peningkatan biaya hidup di banyak negara. Perusahaan pelayaran internasional kemungkinan besar akan meneruskan kenaikan biaya ini kepada klien mereka.
Langkah Trump ini menuai beragam respons. Sebagian pihak memandangnya sebagai upaya menjaga keamanan navigasi internasional di wilayah rawan konflik. Sementara itu, pihak lain menilai kebijakan ini justru membebani perdagangan global dan berpotensi memperburuk ketegangan geopolitik.
Hingga kini, dunia internasional terus memantau perkembangan situasi di Selat Hormuz. Setiap eskalasi lebih lanjut berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dunia yang sedang berusaha pulih.