Memuat berita

Nasional

Kementerian Kehutanan Tutup Sementara 9 Taman Nasional, Pendakian Dibatasi Imbas Risiko Karhutla

Devi Sry Atmaja · 01 September 2026 · 22:24 WIB · 2 dibaca
Kementerian Kehutanan Tutup Sementara 9 Taman Nasional, Pendakian Dibatasi Imbas Risiko Karhutla

Foto: Kompas.com/Aji YK Putra

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menutup sementara aktivitas di sembilan taman nasional (TN) serta membatasi jalur pendakian di sejumlah kawasan konservasi. Kebijakan tersebut diambil menyusul meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau. Penutupan sementara dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas sekaligus mengurangi risiko keselamatan bagi masyarakat yang melakukan aktivitas di kawasan konservasi. Kondisi musim kemarau membuat vegetasi di sejumlah kawasan menjadi lebih kering dan mudah terbakar.

Sembilan taman nasional yang masuk dalam kebijakan penutupan sementara yakni Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, khususnya kawasan Gunung Semeru, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Tambora, Taman Nasional Manusela, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuser, serta Taman Nasional Lorentz pada jalur tertentu.

Selain penutupan sementara, Kemenhut juga menerapkan pembatasan aktivitas pendakian di sejumlah kawasan konservasi lainnya. Kawasan yang terdampak pembatasan tersebut meliputi Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang atau Argopuro, serta Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan keputusan tersebut berkaitan erat dengan kondisi karhutla yang terjadi di sejumlah kawasan. Menurutnya, karakter medan di kawasan konservasi yang umumnya sulit dijangkau membuat proses pemadaman kebakaran menjadi lebih kompleks dan membutuhkan sumber daya besar.

"Beberapa taman nasional kita juga terjadi karhutla dan menyulitkan kita melakukan pemadaman. Beberapa helikopter yang harusnya diprioritaskan di enam provinsi yang mengalami karhutla, namun karena ada kebakaran di taman nasional membuat heli ini juga di-deploy ke taman nasional untuk melakukan pemadaman," ungkap Raja Juli, Senin (31/8/2026).

Menurut Raja Juli, pengerahan helikopter untuk menangani kebakaran di taman nasional turut menjadi tantangan karena pada saat yang sama terdapat sejumlah wilayah lain yang juga membutuhkan dukungan udara untuk penanganan karhutla. Kondisi medan yang berat membuat proses pemadaman tidak dapat hanya mengandalkan personel yang bekerja dari darat. Dalam situasi tertentu, dukungan helikopter diperlukan untuk menjangkau titik-titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat serta membantu proses pemadaman dari udara.

Oleh Karena itu, pemerintah menilai pencegahan menjadi langkah penting untuk menekan potensi munculnya titik api baru di kawasan konservasi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membatasi aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan pendakian di kawasan yang dinilai memiliki risiko kebakaran tinggi. Raja Juli mengatakan kebijakan penutupan dan pembatasan tersebut akan segera dituangkan secara resmi melalui Surat Edaran (SE). Aturan tersebut nantinya menjadi dasar pelaksanaan penutupan sementara maupun pembatasan aktivitas di kawasan konservasi yang masuk dalam daftar.

Masyarakat yang telah memiliki rencana pendakian juga diminta mempertimbangkan kembali aktivitas tersebut selama musim kemarau. Pemerintah mengimbau pendaki untuk menunda perjalanan hingga kondisi dinilai lebih aman dan risiko karhutla menurun. Kebijakan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mencegah kebakaran, tetapi juga untuk melindungi keselamatan para pendaki dan wisatawan. Kebakaran di kawasan pegunungan dan hutan dapat menyebar dengan cepat ketika kondisi vegetasi kering, terlebih jika didukung angin kencang.

Dengan ditutupnya sejumlah taman nasional dan dibatasinya beberapa jalur pendakian, pemerintah berharap potensi munculnya kebakaran akibat aktivitas manusia dapat ditekan. Di sisi lain, sumber daya seperti personel dan helikopter dapat lebih difokuskan untuk menangani karhutla di wilayah-wilayah yang membutuhkan penanganan segera.

Kemenhut juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, seperti membuang puntung rokok sembarangan, membuat api unggun tanpa pengawasan, maupun melakukan pembakaran di sekitar kawasan hutan. Kesadaran masyarakat dinilai menjadi salah satu faktor penting dalam mencegah meluasnya karhutla selama musim kemarau.