Memuat berita

Nasional

Karhutla Banyuasin Kembali Meluas, Asap Selimuti Palembang dan 17.434 Kasus ISPA Tercatat

Fazlur Rahman · 10 Oktober 2026 · 12:34 WIB · 2 dibaca
Karhutla Banyuasin Kembali Meluas, Asap Selimuti Palembang dan 17.434 Kasus ISPA Tercatat

Foto: Detikcom

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali memperburuk kondisi udara di Sumatera Selatan. Kebakaran lahan gambut di Kabupaten Banyuasin pada Rabu (7/10/2026) sore menambah kekhawatiran masyarakat di tengah kepungan kabut asap yang menyelimuti Kota Palembang. Dampaknya tidak hanya mengganggu aktivitas warga, tetapi juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan Kota Palembang mencatat sebanyak 17.434 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang September 2026. Tingginya jumlah kasus tersebut menjadi perhatian di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran lahan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Kabut asap yang menyelimuti Palembang menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi warga selama musim karhutla. Asap hasil pembakaran lahan dapat membawa partikel halus yang masuk ke saluran pernapasan. Paparan dalam konsentrasi tinggi, terlebih jika berlangsung berulang atau dalam waktu lama, berisiko memperburuk gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

Kebakaran lahan gambut juga memiliki tantangan tersendiri dalam proses pemadaman. Api tidak selalu terlihat di permukaan karena dapat menjalar di bawah lapisan tanah organik yang mengering. Kondisi ini membuat titik api berpotensi bertahan lebih lama dan kembali muncul meskipun bagian permukaan telah dipadamkan. Asap yang dihasilkan pun dapat terus mengganggu kualitas udara selama kebakaran belum sepenuhnya terkendali.

Situasi di Sumatera Selatan merupakan bagian dari persoalan karhutla yang lebih luas. Sepanjang 2026, hampir satu juta hektare lahan di berbagai wilayah Indonesia dilaporkan terbakar. Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam pengendalian kebakaran, terutama di kawasan rawan api dan lahan gambut.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada awal Oktober menunjukkan penanganan karhutla masih berlangsung di sejumlah provinsi. Pemerintah mengandalkan kombinasi pemadaman darat, operasi udara menggunakan helikopter water bombing

Di Sumatera Selatan sendiri, karhutla telah menjadi persoalan berulang selama musim kemarau. BNPB pada September melaporkan ribuan personel gabungan dikerahkan untuk memperkuat penanganan di wilayah rawan, termasuk Banyuasin dan Palembang. Operasi tersebut mencakup pemadaman di titik api aktif serta upaya mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain. <Cite refs={["turn402474search6"]}/>

Besarnya dampak karhutla menunjukkan bahwa penanganan tidak cukup hanya berfokus pada pemadaman setelah api muncul. Pencegahan, pengawasan kawasan rawan, kesiapan sarana pemadaman, serta penindakan terhadap pembakaran lahan yang melanggar hukum menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.

Di tengah kondisi udara yang memburuk, masyarakat juga perlu mengambil langkah perlindungan untuk mengurangi paparan asap. Warga disarankan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan ketika asap pekat, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus jika harus beraktivitas di luar, serta menjaga agar udara di dalam rumah tetap sebersih mungkin. Anak-anak dan kelompok rentan sebaiknya mendapat perlindungan ekstra selama kualitas udara belum membaik.

Warga yang mengalami sesak napas, napas berbunyi, nyeri dada, atau gejala pernapasan yang memburuk perlu segera mencari pertolongan medis. Pemerintah daerah dan fasilitas kesehatan juga perlu memastikan informasi kualitas udara dan layanan kesehatan mudah diakses masyarakat, terutama ketika jumlah pasien dengan keluhan pernapasan meningkat.

Kebakaran di Banyuasin dan tingginya kasus ISPA di Palembang menjadi pengingat bahwa karhutla bukan semata persoalan lingkungan. Dampaknya menjalar ke kesehatan masyarakat, kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga mobilitas warga. Selama titik api masih muncul dan asap terus menyebar, pengendalian kebakaran serta perlindungan kesehatan penduduk perlu berjalan beriringan.