Memuat berita

Nasional

Kabut Asap Karhutla Selimuti Sumatera Utara, Bobby Nasution Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Datangkan Hujan

Fazlur Rahman · 19 Oktober 2026 · 11:28 WIB · 2 dibaca
Kabut Asap Karhutla Selimuti Sumatera Utara, Bobby Nasution Lakukan Modifikasi Cuaca untuk Datangkan Hujan

Foto: Inspirasinews

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti wilayah Sumatera Utara. Asap yang disebut berasal dari kebakaran di Sumatera Selatan dan Kalimantan tersebut mendorong pemerintah provinsi mengambil langkah untuk mengurangi dampaknya, salah satunya melalui operasi modifikasi cuaca guna memicu turunnya hujan.

Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, operasi modifikasi cuaca dilaksanakan mulai Kamis (15/10/2026) hingga Jumat (16/10/2026). Upaya tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi konsentrasi asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera Utara, terutama ketika kualitas udara terganggu akibat sebaran asap dari kebakaran di daerah lain.

Kawasan Danau Toba menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan pada tahap awal pelaksanaan modifikasi cuaca. Pemerintah berharap hujan dapat membantu membersihkan partikel asap di udara sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap aktivitas masyarakat.

Namun, operasi tersebut tidak hanya menyasar kawasan Danau Toba. Menurut Bobby, sejumlah wilayah lain di Sumatera Utara juga akan menjadi sasaran secara bertahap. Penentuan lokasi pelaksanaan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan penanganan kabut asap dan peluang untuk mendukung terbentuknya hujan.

Modifikasi cuaca merupakan salah satu upaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan apabila kondisi atmosfer mendukung. Dalam pelaksanaannya, operasi ini umumnya dilakukan dengan menyemai bahan tertentu ke dalam awan yang memenuhi persyaratan, sehingga proses pembentukan hujan dapat berlangsung lebih efektif. Meski demikian, keberhasilannya tetap bergantung pada kondisi awan, kelembapan, dan faktor meteorologis lainnya.

Pemerintah berharap hujan yang dihasilkan melalui operasi tersebut dapat membantu menekan konsentrasi asap di wilayah terdampak. Hujan berpotensi membawa sebagian partikel di udara turun ke permukaan, sehingga kualitas udara dapat membaik. Akan tetapi, dampak tersebut tidak selalu berlangsung lama apabila sumber kebakaran masih aktif dan asap terus terbawa angin dari wilayah lain.

Karena itu, modifikasi cuaca perlu berjalan beriringan dengan penanganan sumber karhutla. Pemadaman titik api, pencegahan kebakaran baru, serta pemantauan kondisi cuaca dan kualitas udara tetap menjadi bagian penting dalam mengatasi kabut asap secara menyeluruh.

Kabut asap lintas wilayah juga menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti di lokasi kebakaran. Asap dapat terbawa angin hingga melintasi batas provinsi dan mengganggu daerah yang tidak menjadi pusat kebakaran. Kondisi tersebut membuat koordinasi antardaerah diperlukan agar upaya pemadaman dan pengendalian asap dapat dilakukan secara lebih efektif.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat di wilayah yang terdampak perlu memperhatikan informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan dari pemerintah maupun instansi terkait. Ketika asap menebal, masyarakat dapat mengurangi aktivitas berat di luar ruangan, menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar, serta menutup pintu dan jendela apabila kondisi udara di luar memburuk.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Apabila muncul keluhan seperti sesak napas, batuk yang memburuk, atau iritasi berat, masyarakat disarankan mencari bantuan medis.

Operasi modifikasi cuaca yang berlangsung pada 15–16 Oktober 2026 menjadi salah satu langkah pemerintah Sumatera Utara dalam merespons kabut asap yang meluas. Meski hujan diharapkan dapat membantu memperbaiki kualitas udara, hasil pelaksanaan operasi dan perkembangan kondisi asap masih perlu dipantau untuk mengetahui sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat.

Penanganan kabut asap pada akhirnya membutuhkan langkah berkelanjutan, mulai dari upaya mendatangkan hujan ketika kondisi memungkinkan hingga pemadaman dan pencegahan karhutla di wilayah sumber kebakaran. Pemerintah berharap kombinasi langkah tersebut dapat mengurangi paparan asap dan membantu memulihkan kualitas udara di Sumatera Utara.