Memuat berita

Nasional

Investasi Rp2,8 Triliun Masuk Galuga, Dua Proyek Ubah Sampah Jadi Listrik dan BBM, Warga Berharap Kebagian Manfaat

Fazlur Rahman · 11 Oktober 2026 · 17:10 WIB · 2 dibaca
Investasi Rp2,8 Triliun Masuk Galuga, Dua Proyek Ubah Sampah Jadi Listrik dan BBM, Warga Berharap Kebagian Manfaat

Foto: Kompas.com

Kawasan Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mulai disiapkan menjadi pusat pengolahan sampah berbasis teknologi yang menggabungkan produksi energi listrik dan bahan bakar. Dua proyek nasional yang dibangun berdekatan ini diharapkan menjadi bagian dari solusi persoalan sampah yang selama bertahun-tahun membebani wilayah Bogor.

Pada Kamis (17/9/2026), Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan atau Zulhas bersama Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak dan sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih menghadiri peletakan batu pertama pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1 dan Pengolahan Sampah Menjadi Energi berbasis teknologi pirolisis. Kegiatan tersebut menandai dimulainya pembangunan dua fasilitas dengan fungsi yang saling melengkapi. <Cite refs={["turn256049search2","turn256049search4","turn256049search6"]}/>

Total investasi yang dikaitkan dengan proyek PSEL Bogor Raya 1 mencapai Rp2,8 triliun. Sementara itu, fasilitas pirolisis yang dibangun TNI AD merupakan proyek tersendiri dengan nilai investasi yang diberitakan sekitar Rp600 miliar. Dengan demikian, kedua fasilitas tersebut memiliki skema dan peruntukan berbeda, meski sama-sama diarahkan untuk menangani persoalan sampah di Galuga. <Cite refs={["turn256049search0","turn256049search4"]}/>

Konsep utama proyek ini adalah mengolah sampah yang baru masuk setiap hari sekaligus menangani tumpukan sampah lama yang telah bertahun-tahun berada di tempat pembuangan akhir. PSEL Bogor Raya 1 dirancang mengubah sampah menjadi energi listrik, sedangkan teknologi pirolisis disiapkan untuk mengolah sampah lama menjadi produk bahan bakar.

Zulhas menyebut integrasi dua teknologi dalam satu kawasan sebagai pendekatan yang diharapkan mampu memberikan solusi lebih menyeluruh. Menurut dia, penanganan sampah tidak cukup hanya mengendalikan sampah baru, tetapi juga harus menyelesaikan timbunan lama yang masih menjadi persoalan lingkungan.

PSEL Bogor Raya 1 dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2028 dan melayani kebutuhan pengelolaan sampah kawasan aglomerasi Kabupaten Bogor dan Kota Bogor. Pengembang proyek juga memproyeksikan fasilitas tersebut dapat menghasilkan energi hijau yang memasok kebutuhan listrik lebih dari 100.000 rumah. <Cite refs={["turn256049search0","turn256049search5"]}/>

Adapun fasilitas pirolisis TNI AD diarahkan untuk mengolah sampah lama yang telah menumpuk di kawasan Galuga. Dalam keterangan saat peletakan batu pertama, Maruli menyampaikan rencana kapasitas pengolahan awal sekitar 1.000 ton per hari, dengan potensi pengembangan lebih lanjut. Hasil pengolahannya ditujukan untuk menghasilkan bahan bakar, termasuk solar, meski kapasitas dan hasil produksi aktual nantinya bergantung pada pelaksanaan serta pengoperasian fasilitas. <Cite refs={["turn256049search4","turn256049search8"]}/>

Di tengah rencana pembangunan bernilai triliunan rupiah tersebut, masyarakat sekitar berharap tidak hanya menjadi pihak yang menanggung dampak aktivitas pengolahan sampah, tetapi juga ikut merasakan manfaat ekonomi. Keterlibatan warga dalam pembangunan maupun operasional, peluang kerja, dan kesempatan usaha lokal menjadi harapan yang menyertai hadirnya dua proyek tersebut.

Harapan itu menjadi penting karena proyek berskala besar tidak hanya membutuhkan investasi dan teknologi, tetapi juga dukungan sosial masyarakat di sekitar lokasi. Pelibatan warga dapat diwujudkan melalui kesempatan kerja sesuai kualifikasi, kebutuhan jasa pendukung, serta kemitraan usaha yang terbuka dan transparan. Namun, bentuk dan jumlah tenaga kerja lokal yang akan terserap perlu menunggu kejelasan dari pengelola proyek.

Danantara Indonesia menyebut PSEL Bogor Raya 1 diproyeksikan membuka hingga 1.200 lapangan kerja hijau. Proyek tersebut juga ditargetkan mengolah lebih dari 500.000 ton sampah per tahun dan mengurangi emisi karbon sekitar 640.000 ton setara karbon dioksida setiap tahun. Angka-angka tersebut merupakan proyeksi yang pencapaiannya akan bergantung pada kapasitas operasional dan kinerja fasilitas setelah beroperasi. <Cite refs={["turn256049search0","turn256049search3","turn256049search5"]}/>

Meski demikian, pembangunan fasilitas pengolahan sampah bukan berarti persoalan di Galuga dapat langsung selesai. Selama proses konstruksi berlangsung hingga fasilitas mulai beroperasi, sampah tetap dihasilkan setiap hari dan harus ditangani agar tidak menimbulkan bau, pencemaran, maupun gangguan bagi warga. Kementerian Lingkungan Hidup juga menekankan bahwa pengelolaan sampah di lapangan harus terus berjalan selama masa pembangunan. <Cite refs={["turn256049search1","turn256049search2"]}/>

Keberhasilan proyek ini pada akhirnya tidak hanya akan diukur dari besarnya investasi atau kemampuan menghasilkan listrik dan bahan bakar. Pengurangan timbunan sampah, pengendalian emisi, keamanan operasional, serta manfaat ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat akan menjadi faktor penting dalam menentukan dampaknya bagi Bogor.

Bagi warga Galuga dan sekitarnya, pembangunan dua fasilitas tersebut membawa harapan sekaligus tuntutan agar pengelolaan sampah dilakukan secara bertanggung jawab. Masyarakat berharap proyek nasional ini tidak berhenti sebagai pembangunan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan lingkungan yang lebih baik, peluang ekonomi yang nyata, dan penyelesaian persoalan sampah yang selama ini mereka hadapi.