Memuat berita

Nasional

Hotman Paris Sentil Rocky Gerung soal Gibran, Singgung Gaji Wantimpres: “Pusing!”

Fazlur Rahman · 13 Oktober 2026 · 14:16 WIB · 2 dibaca
Hotman Paris Sentil Rocky Gerung soal Gibran, Singgung Gaji Wantimpres: “Pusing!”

Foto: BITVOnline.com

Pengacara kondang Hotman Paris Hutapea melontarkan sindiran kepada Rocky Gerung setelah akademisi tersebut menyarankan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengundurkan diri dari jabatannya di tengah polemik putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Hotman menyoroti posisi Rocky yang kini menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), tetapi justru meminta Gibran mundur dari jabatannya.

Sindiran tersebut disampaikan Hotman melalui akun Instagram pribadinya pada Minggu (11/10/2026). Dalam unggahannya, Hotman mempertanyakan konsistensi sikap Rocky yang memberikan saran agar Gibran meletakkan jabatan, sementara dirinya tetap menjalankan tugas sebagai anggota Wantimpres yang memperoleh hak keuangan dari negara.

“Penasehat minta yg dinasehatin mundur! Tapi gajinya mau!! Pusing!,” tulis Hotman dalam unggahannya.

Pernyataan singkat tersebut menjadi sorotan karena menyentuh persoalan konsistensi antara kritik politik dan posisi seseorang di lingkungan pemerintahan. Hotman seolah mempertanyakan apakah seorang penasihat yang menyarankan pejabat lain mundur juga perlu mempertimbangkan kedudukannya sendiri ketika menyampaikan kritik terhadap situasi politik.

Sindiran Hotman muncul setelah Rocky Gerung menyampaikan pandangannya mengenai posisi Gibran di tengah polemik putusan MK. Rocky menilai pengunduran diri Gibran dapat menjadi langkah politik yang elegan untuk meredam ketegangan dan mencegah Presiden Prabowo Subianto ikut terseret dalam kontroversi tersebut.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Rocky mengatakan, “Alangkah elegannya kalau Gibran mengundurkan diri.” Ia mengaitkan usulan tersebut dengan keresahan publik setelah dinamika putusan MK yang menjadi perbincangan politik.

Rocky juga menilai putusan MK telah mengalihkan sebagian persoalan politik dan hukum ke ranah legislatif, khususnya DPR RI. Menurut pandangannya, lembaga tersebut berpotensi menjadi tempat bergulirnya perdebatan dan tekanan politik yang muncul di masyarakat.

Polemik ini semakin menarik perhatian karena Rocky baru dilantik sebagai anggota Wantimpres oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (2/10/2026), di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan tersebut menempatkan Rocky dalam lembaga yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan pemerintahan.

Meski kini berada di lingkungan Istana, Rocky sebelumnya menegaskan bahwa posisinya sebagai anggota Wantimpres tidak serta-merta mengubah sikap kritisnya. Ia menyatakan tetap mempertahankan pandangan dan cara berpikirnya, termasuk dalam menilai kebijakan pemerintah.

Keberadaan Rocky di Wantimpres sekaligus menjadi latar belakang sindiran Hotman. Sebab, sebagai anggota lembaga penasihat Presiden, Rocky memiliki peran memberikan masukan kepada kepala negara. Hotman kemudian menyoroti kontras antara posisi tersebut dan saran Rocky agar Gibran mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden.

Di sisi lain, anggota Wantimpres memang memperoleh hak keuangan dan fasilitas sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, sindiran Hotman merupakan respons terhadap sikap politik Rocky, bukan bukti adanya pelanggaran atau persoalan hukum terkait hak keuangan yang diterimanya.

Polemik mengenai Gibran sendiri berkaitan dengan kontroversi putusan MK yang sebelumnya menjadi perhatian publik dalam pembahasan persyaratan pencalonan presiden dan wakil presiden. Perdebatan tersebut terus memunculkan beragam pandangan dari tokoh politik, akademisi, hingga masyarakat.

Pernyataan Rocky yang menyarankan Gibran mundur dan respons Hotman memperlihatkan perbedaan cara pandang dalam menyikapi polemik tersebut. Rocky menawarkan pengunduran diri sebagai pilihan politik, sedangkan Hotman justru mempertanyakan konsistensi pihak yang menyampaikan saran itu.

Hingga polemik tersebut mencuat, sindiran Hotman menjadi bagian dari perdebatan di ruang publik mengenai posisi pejabat, tanggung jawab penasihat pemerintah, serta batas antara kritik dan konsekuensi dari jabatan yang diemban.

Peristiwa ini kembali menunjukkan bagaimana pernyataan tokoh publik di media sosial dapat memicu diskusi yang lebih luas. Di tengah perbedaan pandangan mengenai putusan MK dan posisi Gibran, perdebatan antara Hotman Paris dan Rocky Gerung menambah dinamika politik nasional yang terus menjadi perhatian masyarakat.