Kepergian Guruh Soekarnoputra pada Sabtu (26/9/2026) meninggalkan duka bagi keluarga besar, para seniman, musisi, hingga orang-orang yang pernah bersentuhan langsung dengan perjalanan panjangnya di dunia seni dan kebudayaan Indonesia.
Di antara mereka yang memiliki kenangan khusus adalah pasangan musisi Addie MS dan Memes. Bagi keduanya, Guruh bukan sekadar sosok seniman yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan musik dan seni pertunjukan, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan karier sekaligus kisah pribadi mereka sejak masa remaja.
Guruh Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di RS MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu sekitar pukul 04.16 WIB. Kabar tersebut kemudian menyebar luas dan memunculkan gelombang ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan.
Bagi Addie MS, perkenalannya dengan Guruh menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan bermusiknya. Ia mengenang pertemuan pertama mereka sekitar 1979, ketika Addie masih duduk di kelas 3 SMA.
Saat itu, Guruh mengajak Addie untuk terlibat dalam penggarapan musik Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra. Namun, karena masih merasa belum percaya diri dengan kemampuannya, Addie memilih belum terlibat dalam pagelaran pertama tersebut. Kesempatan kemudian datang kembali pada pagelaran berikutnya.
Addie akhirnya ikut terlibat dalam Pagelaran Karya Cipta Guruh Soekarnoputra II bertajuk Cinta Indonesia
Bagi Addie, pengalaman tersebut membekas bukan hanya karena kesempatan berkarya yang diberikan Guruh, tetapi juga karena kepercayaan tersebut datang ketika dirinya masih sangat muda.
"Saya terkesan sekali pada bagaimana Mas Guruh mempercayai saya padahal saya waktu itu masih kelas 3 SMA," ujar Addie.
Hubungan profesional itu kemudian berlanjut. Pada 1984, Addie dipercaya menggarap aransemen lagu ciptaan Guruh berjudul "Sendiri" yang dibawakan oleh Chrisye. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang keduanya di dunia musik Indonesia.
Sementara itu, bagi Memes, Guruh memiliki peran yang tidak kalah besar. Memes bergabung dengan Swara Maharddhika angkatan ke-9 pada 1980 ketika masih berusia sekitar 15 tahun. Dari lingkungan tersebut, ia mendapatkan berbagai pengalaman mengenai tari, musik, kebudayaan, organisasi, hingga kedisiplinan dalam mempersiapkan sebuah pertunjukan.
Memes mengenang bagaimana dirinya dan anggota Swara Maharddhika lainnya tidak hanya diajarkan mengenai seni pertunjukan, tetapi juga berbagai hal yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia, termasuk tata busana tradisional.
"Waktu itu kita latihan pakai kebaya. Kita belajar banyak dari Mas Guruh, bukan hanya soal tari dan seni, tapi juga budaya, organisasi, disiplin, kebaya, makeup, sampai rambut," ujar Memes.
Rumah Guruh di kawasan Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan, juga menyimpan kenangan yang jauh lebih personal bagi Addie dan Memes. Tempat tersebut dahulu menjadi salah satu lokasi kegiatan dan latihan Swara Maharddhika, tempat Memes menghabiskan sebagian masa remajanya.
Di lokasi itulah Addie kerap menjemput Memes seusai latihan ketika keduanya masih berpacaran pada awal 1980-an. Kenangan tersebut kembali muncul ketika keduanya datang ke rumah duka Guruh.
"Jadi saya boleh dibilang suka ngapel. Waktu pacaran tahun '82 itu di sini. Saya jemput Memes habis latihan, habis itu baru kita dating," kenang Addie.
Bagi pasangan tersebut, rumah Guruh akhirnya bukan sekadar tempat yang berkaitan dengan perjalanan seni mereka. Tempat itu juga menjadi saksi perjalanan hubungan Addie dan Memes ketika masih muda, sebelum keduanya kemudian membangun kehidupan bersama sebagai pasangan musisi.
Memes juga mengenang kontribusinya dalam salah satu karya Guruh. Ia pernah terlibat sebagai penyanyi latar dalam lagu "Seni", yang dinyanyikan Chrisye dan diaransemen oleh Addie MS. Saat itu, Memes masih berstatus sebagai anggota Swara Maharddhika sekaligus penari.
Kenangan tentang Guruh bagi Addie tidak berhenti pada persoalan musik. Ia melihat sosok tersebut sebagai figur yang konsisten membawa gagasan mengenai identitas Indonesia melalui seni.
Menurut Addie, Guruh tidak hanya berbicara mengenai musik, tetapi juga berulang kali mengingatkan orang-orang di sekitarnya mengenai budaya, batik, tata krama, etika, serta pentingnya menjaga identitas sebagai orang Indonesia.
"Di awal karier saya, beliau adalah tokoh musik yang bukan hanya saya kagumi musikalitasnya, tapi semangat ke-Indonesia-annya," kata Addie.
Memes mengatakan dirinya sempat bertemu Guruh bersama rekan-rekan alumni Swara Maharddhika pada beberapa kesempatan pada 2026. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari silaturahmi yang kini terasa semakin berharga setelah Guruh berpulang.
Ia mengaku sudah mengetahui kondisi kesehatan Guruh yang menurun dalam beberapa waktu terakhir. Namun, kabar kepergian Guruh tetap menjadi pukulan bagi dirinya.
"Cuma ya terkejut juga Mas Guruh secepat itu meninggalkan kita, karena meninggalkan legasi yang luar biasa banyak ya," ujar Memes.
Ucapan duka juga datang dari penyanyi Kris Dayanti. Ia mengenang Guruh bukan semata sebagai seorang seniman besar, melainkan sebagai sosok yang meninggalkan warisan pemikiran dan karya yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan kebudayaan Indonesia.
Kris Dayanti juga mengungkapkan adanya pesan terakhir Guruh yang masih diingatnya. Kenangan tersebut menjadi bagian dari rasa kehilangan yang dirasakan penyanyi tersebut setelah mengetahui sang maestro meninggal dunia.
Kepergian Guruh pada usia 73 tahun pun membuat sejumlah seniman dan tokoh nasional kembali mengenang perjalanan panjangnya. Rumah duka di kawasan Sriwijaya didatangi berbagai kalangan yang ingin memberikan penghormatan terakhir kepada putra Presiden pertama RI Soekarno tersebut.
Bagi Addie MS dan Memes, kepergian Guruh meninggalkan ruang kosong yang tidak hanya berkaitan dengan dunia seni. Ada perjalanan panjang yang turut melekat di dalamnya: kesempatan yang diberikan kepada musisi muda, pendidikan seni bagi generasi berikutnya, persahabatan, hingga kenangan masa muda yang berlangsung di tempat yang sama.
Sementara bagi Kris Dayanti, Guruh meninggalkan warisan yang melampaui satu generasi. Karya dan gagasan yang pernah dilahirkannya menjadi bagian dari perjalanan seni dan kebudayaan Indonesia.
Kini Guruh Soekarnoputra telah pergi. Namun, bagi mereka yang pernah bekerja, belajar, dan tumbuh bersamanya, kenangan tentang sosoknya tidak hanya tersimpan dalam karya-karya yang pernah dipentaskan atau direkam. Ia juga hidup dalam cerita orang-orang yang pernah merasakan langsung kepercayaan, pendidikan, persahabatan, dan semangat kebudayaan yang dibawanya sepanjang perjalanan hidup.