Gubernur Bali Wayan Koster menanggapi keluhan dari operator SPBU di wilayahnya. Mereka harus bekerja lembur selama periode krisis bahan bakar minyak. Situasi kelangkaan BBM memaksa sejumlah SPBU beroperasi lebih lama dari biasanya. Koster memahami beban yang dihadapi para operator. Dalam kondisi normal, SPBU biasanya tutup pada pukul 23.00 Wita. Namun, selama krisis BBM, operasional diperpanjang hingga 24 jam. Perpanjangan waktu tersebut membuat petugas kelelahan. Koster mengakui bahwa kondisi ini tidak dapat dibiarkan begitu saja.
Untuk meringankan beban operator, Koster meminta bantuan prajurit TNI. Ia mengusulkan agar personel TNI membantu sebagai operator di SPBU pada malam hari. Langkah ini diharapkan menjaga kelangsungan layanan tanpa membebani petugas sipil secara berlebihan. Sinergi sipil-militer menjadi solusi sementara. Koster menyampaikan pernyataan tersebut saat melakukan kunjungan. Ia meninjau langsung SPBU 54.801.48 di Denpasar. Kunjungan berlangsung pada Kamis (15/10/2026). Di lokasi tersebut, ia melihat kondisi operasional dan mendengarkan keluhan petugas.
“Iya mungkin kecapekan ya, tapi untuk malam petugasnya dari TNI,” ungkap Koster di SPBU tersebut. Kalimat itu menegaskan pemahamannya terhadap kelelahan operator. Ia sekaligus menawarkan solusi konkret berupa bantuan personel TNI. Pernyataan tersebut menjadi arahan bagi penanganan krisis di tingkat lapangan.
Krisis BBM di Bali memicu antrean panjang di berbagai SPBU. Masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan bahan bakar. Untuk memenuhi kebutuhan, sejumlah SPBU diperpanjang jam operasinya. Dampaknya langsung dirasakan oleh para operator yang harus bekerja ekstra. Dengan melibatkan TNI pada malam hari, Koster ingin menjaga kesinambungan layanan. Prajurit dapat membantu mengisi posisi operator saat petugas regular beristirahat. Skema ini diharapkan mencegah kelelahan berlebih dan potensi kesalahan operasional. Koordinasi dengan pihak TNI menjadi langkah berikutnya.
Kunjungan Koster ke SPBU 54.801.48 Denpasar menunjukkan perhatian langsung kepala daerah. Ia tidak hanya menerima laporan, tetapi melihat kondisi di lapangan. Dialog dengan operator menjadi dasar pengambilan keputusan. Solusi bantuan TNI muncul dari pemahaman terhadap masalah riil. Operator SPBU yang harus bekerja 24 jam menghadapi risiko kelelahan fisik dan mental. Jam kerja normal hingga pukul 23.00 sudah cukup panjang. Perpanjangan hingga pagi hari membutuhkan sistem shift yang memadai. Bantuan TNI menjadi alternatif di tengah keterbatasan personel.
Koster sebagai Gubernur Bali bertanggung jawab memastikan distribusi BBM tetap berjalan. Di tengah krisis, kreativitas penanganan diperlukan. Melibatkan prajurit TNI untuk tugas operasional malam hari merupakan langkah pragmatis. Masyarakat tetap mendapatkan layanan tanpa mengorbankan kesehatan petugas. Pernyataan “untuk malam petugasnya dari TNI” menjadi komitmen publik Koster. Ia menyadari kemungkinan kelelahan operator jika terus bekerja tanpa istirahat memadai. Solusi yang ditawarkan bersifat sementara selama krisis berlangsung. Evaluasi akan dilakukan sesuai perkembangan pasokan BBM.
SPBU 54.801.48 Denpasar menjadi salah satu titik yang dikunjungi. Kondisi di lapangan memberikan gambaran nyata kepada Gubernur. Keluhan operator tentang lembur berlebih menjadi masukan berharga. Keputusan melibatkan TNI diambil berdasarkan temuan tersebut. Sinergi antara pemerintah daerah dan TNI dalam penanganan krisis BBM memperkuat respons. Prajurit yang membantu di SPBU tetap berada dalam koridor tugas bantuan kemanusiaan. Operasional malam hari dapat terjaga dengan lebih stabil. Penyaluran BBM kepada masyarakat tetap menjadi prioritas.
Dengan memahami kelelahan operator, Koster menunjukkan empati sebagai kepala daerah. Solusi yang ditawarkan bersifat praktis dan langsung. Krisis BBM di Bali membutuhkan penanganan multi-aspek. Bantuan TNI di SPBU menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut.